Psikosis, rangkuman Tugas Kuliah

Psikosis adalah kondisi di mana penderitanya mengalami kesulitan untuk membedakan dunia
nyata dan dunia hayalan. Gejala yang muncul pada penderita psikosis berupa delusi atau waham
(ilusi yang terlihat seakan-akan nyata baginya), dan halusinasi. Sebagai contoh, penderita psikosis
akan memiliki anggapan bahwa dirinya seorang bintang film terkenal namun pada kenyataannya
tidak, atau melihat sesuatu yang pada kenyataanya tidak ada apa-apa.
Penanganan psikosis dapat dilakukan dengan pemberian obat dan psikoterapi. Jika tidak ditangani
dengan tepat dan segera, kondisi ini dapat berdampak pada kemampuan pasien dalam hidup
bersosial.
A. Penyebab Psikosis
Penyebab pasti psikosis belum diketahui. Memiliki pola tidur yang buruk, mengonsumsi alkohol
atau menggunakan ganja, dan mengalami trauma akibat kehilangan seseorang yang dicintai,
seperti orang tua atau pasangan, dapat menjadi pemicu munculnya kondisi ini. Psikosis juga dapat
dipicu oleh kondisi yang terjadi karena adanya gangguan pada otak, seperti:
1. Penyakit Parkinson
2. Penyakit Huntington
3. Tumor atau kista otak
4. Stroke
5. Penyakit Alzheimer
6. Epilepsi
7. Infeksi yang menyerang otak, seperti HIV dan sifilis
Pada kasus yang lain, psikosis dapat muncul sebagai gejala suatu penyakit. Penyakit tersebut
meliputi:
1. Skizofrenia
2. Depresi berat
3. Gangguan bipolar
B. B.Gejala Psikosis
Gejala yang muncul pada tiap orang dapat berbeda-beda, tergantung penyebab, usia, dan
keparahan kondisi. Seseorang yang mengalami psikosis akan memiliki gejala utama berupa
delusi dan halusinasi.
1. Delusi. Delusi atau waham adalah kondisi di mana seseorang memiliki keyakinan yang
kuat dan tidak dapat dipatahkan terhadap sesuatu yang tidak nyata, misalnya mempercayai
bahwa dirinya menderita penyakit yang mematikan, meskipun pada kenyataannya kondisi
orang tersebut sehat.
2. Halusinasi. Halusinasi adalah kondisi di mana seseorang mendengar, melihat, merasakan,
atau mencium sesuatu yang tidak ada dan tidak dialami orang lain, misalnya mendengar
suara orang berbincang ketika dirinya tengah sendirian di suatu tempat.
Pada anak-anak, aktivitas yang menggambarkan perilaku halusinasi, misalnya memiliki teman
imajinasi, bukan berarti merupakan gejala psikosis. Hal itu hanya suatu bentuk imajinasi anakanak,
serta merupakan tahapan yang normal dan tergolong wajar.
Selain delusi dan halusinasi, beberapa gejala lain yang dapat muncul ketika seseorang
mengalami psikosis, meliputi:
1. Sulit berkonsentrasi.
2. Gangguan tidur.
3. Gelisah.
4. Merasa curiga.
5. Gangguan berinteraksi dengan orang lain.
6. Berbicara melantur dan tidak sesuai topik.
7. Merasakan dorongan untuk bunuh diri.
8. Suasana hati menurun (depresi).
C. Diagnosis Psikosis
Dalam mendiagnosis, dokter akan melakukan pengamatan terhadap perilaku pasien, dan bila
memungkinkan, menanyakan gejala yang dirasakan. Pengamatan yang dilakukan meliputi
pengamatan orientasi, fisik, ingatan, bahasa, dan cara pasien memecahkan sebuah
permasalahan. Pengamatan tersebut juga berfungsi untuk mencari tahu penyebab psikosis.
Pemeriksaan pencitraan, seperti foto Rontgen atau CT scan, juga dapat dilakukan dalam
mendiagnosis kondisi pasien. Hal ini biasanya dilakukan apabila terdapat kemungkinan
psikosis disebabkan penyakit yang diderita pasien, seperti tumor otak.
D. Pengobatan Psikosis
Penderita psikosis harus segera mendapatkan penanganan. Apabila psikosis tidak segera
ditangani, gejala yang ada akan semakin memburuk dan berdampak pada kemampuan pasien
dalam menjalin hubungan sosial, baik dalam lingkungan tempat tinggal mau pun pekerjaan.
Pengobatan psikosis pun berbeda-beda, tergantung penyebab yang menyertainya. Dalam
menangani pasien psikosis, dokter jiwa atau psikiater akan menganjurkan obat-obatan atau
terapi tertentu yang sesuai dengan kondisi.
1. Pemberian obat-obatan.
Dokter dapat memberikan obat golongan antipsikotik, guna mengontrol gejala yang ada.
Pemberian obat-obatan ini harus dengan anjuran dokter, karena dosis pada tiap orang
berbeda-beda, serta disesuaikan dengan usia dan kondisi pasien.
2. Psikoterapi.
Terdapat beberapa psikoterapi yang dapat dilakukan dalam menangani psikosis. Terapi
tersebut juga dapat menggunakan obat-obatan antipsikotik untuk memaksimalkan
pengobatan yang dilakukan. Terapi tersebut meliputi:
a. Cognitive behavioural therapy (CBT).
CBT atau terapi perilaku kognitif adalah bentuk psikoterapi yang dapat dilakukan
dalam menangani psikosis. Dokter akan mengarahkan pasien untuk mengerti dan
memahami kondisi yang dideritanya. Hal ini bertujuan agar pasien mampu
mengendalikan gejala yang ada.
b. Dorongan orang dekat.
Dorongan dari keluarga atau orang dekat dapat menjadi terapi yang efektif. Penderita
psikosis dapat mengeluhkan kondisinya kepada orang yang dipercaya. Hal ini akan
menumbuhkan semangat pada pasien untuk mampu mengendalikan gejala.
c. Komunitas penyakit.
Penderita psikosis juga dapat mencari pemahaman tentang kondisinya, baik cara
mencegah atau meredakan gejala, dengan bergabung dalam komunitas yang memiliki
kesamaan latar belakang.
d. Dokter juga dapat menyuntikan obat penenang apabila gejala yang muncul tergolong
berisiko dan dapat melukai pasien sendiri atau orang lain.
E. Komplikasi Psikosis
Komplikasi yang dapat muncul berbeda-beda, tergantung penyebab yang mendasari timbulnya
psikosis itu sendiri. Komplikasi juga dapat muncul karena efek samping pengobatan yang
dijalani. Namun, pada kasus tertentu, kondisi ini dapat menimbulkan keinginan untuk
menyakiti diri sendiri atau bahkan orang lain. Segera temui dokter apabila menemui orang
yang dicurigai mengalami gejala psikosis, agar kemungkinan komplikasi dapat diminimalkan.
F. Pencegahan Psikosis
Belum ada metode pasti yang dapat mencegah munculnya psikosis. Namun, risiko terjadinya
gangguan ini dapat dikurangi dengan upaya-upaya pencegahan terhadap faktor yang dapat
memicu psikosis, seperti dengan tidak mengonsumsi alkohol, atau dengan melakukan latihanlatihan
relaksasi guna menghindari stres dan depresi.