Niat Keramas Ramadan, Niat Puasa, Niat berbuka, Niat Shalat Terawih, dan Niat Shalat Witir


Niat keramas puasa ramadhan
Hari pertama memasuki bulan ramadhan disunahkan mandi yang dikhususkan sebagai tanda menyambut bulan suci dengan mensucikan diri dengan mandi. Bacaan atau niat mandinya:
نَوَيْتُ الغُسْلَ لِدُخُوْلِ رَمَضَانَ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
“Nawaitu ghusla lidukhuli ramdhana sunnatan lillahi ta'ala” Artinya:  Saya berniat mandi sunat bulan ramadhan karena allah ta’ala.
Waktu mandi sahum ramadhan ini dimulai hari pertama setelah memasuki waktu ashar hingga waktu sahur pertama. Waktunya dimulai dari waktu ashar sebab dalam hitungan tahun hijriyah pergantian harinya bukan jam dua belas malam melainkan waktu ashar, sebagian berpendapat perpindahan harinya di waktu maghrib namun pendapat ini tidak terlalu mashur.

Niat sahur puasa bulan ramadhan:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ ِللهِ تَعَالَى
“Nawaitu shauma ghodin ‘an adaa’i fardhi syahri romadhoona haadzihis sanati lillahi ta’ala” Artinya: Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’ala.

Niat puasa ramadhan untuk satu bulan penuh
Untuk berjaga-jaga supaya puasa tetap sah apabila suatu ketika lupa membaca niat atau kesiangan sehingga tidak sempat makan sahur maka siangnya wajib berpuasa seperti biasanya tetapi diluar bulan ramadhan wajib di qada sebab puasa yang lupa membaca niat puasanya dihitung tidak sah, meski begitu siangnya wajib melakukan puasa seperti biasanya. Oleh karena itu, selain berniat pada tiap malam yang bertaqlid pada imam syafi’i disini juga harus ber-taqlid atau mengikuti madzhab Imam Maliki, yang mana dia berpendapat bahwa boleh berniat puasa di permulaan bulan ramadhan saja. Jadi dalam praktiknya, dihari pertama berpuasa berniat puasa untuk satu bulan, kemudian berniat puasa untuk hari ini. Dan malam berikutnya tetap membaca niat. bacaan niat puasa untuk satu bulan penuh:
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ تَقْلِيْدًا لِلْإِمَامِ مَالِكٍ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى
“Nawaitu shauma jami’i syahri romadhana hadzihi sanati taqlidan li ilami maliki fardo lillahi taala” Artinya: aku niat berpuasa di sepanjang bulan ramadhan tahun inidengan mengikuti Imam Malik, fardhu karena Allah.

Do’a berbuaka puasa
اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
“Allaahumma lakasumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthortu birohmatika yaa arhamar roohimiin” Artinya: Ya Allah karena-Mu aku berpuasa, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah dan dengan rezeki-Mu aku berbuka (puasa), dengan rahmat-MU, Ya Allah Tuhan Maha Pengasih.
Niat shalat terawih dan niat shalat witir
Hal ini terletak pada bacaan apakah dia sebagai "imam" atau "makmum" dalam salat tersebut. Berikut adalah lafal niat salat tarawih jika dalam posisi sebagai imam.
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا\مَأمُومًا ِللهِ تَعَالَى
“Ushalli sunnatat Tarāwīhi rak‘atayni mustaqbilal qiblati adā’an imāman lillāhi ta‘ālā”. Artinya: Aku menyengaja sembahyang sunnah tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai imam karena Allah.
Di tanah Nusantara, terdapat dua perbedaan pendapat yaitu ada yang mengikuti pendapat yang 8 rakaat ada juga bahkan lebih banyak yang mengikuti pendapat yang 20 rakaat. Kedua pendapat tersebut sama-sama memiliki dalil. Dalil salat tarawih dikerjakan dengan 8 rakaaat adalah hadis Nabi Muhammad SAW diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dari ’Ā’isyah r.a. sebagai berikut.
 عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ وَهِىَ الَّتِى يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ [رواه مسلم]
Artinya, "Dari ‘Ā’isyah, istri Nabi saw, (diriwayatkan bahwa) ia berkata, "Pernah Rasulullah melakukan sholat pada waktu antara setelah selesai Isya yang dikenal orang dengan ‘Atamah hingga Subuh sebanyak sebelas rakaat di mana beliau salam pada tiap-tiap dua rakaat, dan beliau salat witir satu rakaat [H.R Muslim].

Niat Salat Witir tiga rakaat sekaligus.
 اُصَلِّى سُنَّةَ الْوِتْرِثَلاَثَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) ِللهِ تَعَالَى
“Ushallii sunnatal-witri salasa’raka’atin mustaqbilal qiblati [makmuuman / imaaman] lillaahi ta’aalaa”. Artinya, "Saya (berniat) mengerjakan Sholat Sunnah Witir, tiga raka’at dengan menghadap kiblat, [makmum / imam], karena Allah Ta’ala".
Niat salat witir dua rakaat:
اُصَلِّى سُنَّةَ الْوِتْرِرَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) ِللهِ تَعَالَى
“Ushallii sunnatal-witri rak’ataini mustaqbilal qiblati [makmuuman / imaaman] lillaahi ta’aalaa”. Artinya, "Saya (berniat) mengerjakan Sholat Sunnah Witir, dua raka’at dengan menghadap kiblat, [makmum / imam], karena Allah Ta’ala".
Niat salat witir satu rakaat:
 اُصَلِّى سُنَّةَ الْوِتْرِرَكْعَةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) ِللهِ تَعَالَى
“Ushallii sunnatal-witri rok’atan mustaqbilal qiblati [makmuuman / imaaman] lillaahi ta’aalaa”. Artinya, "Saya (berniat) mengerjakan Sholat Sunnah Witir, satu raka’at dengan menghadap kiblat, [makmum / imam], karena Allah Ta’ala".
Adapun bacaan shalatnya sama seperti pada shalat seperti biasanya, seperti shalat duha, tahajud dll. Untuk pelaksanaan shalat witir, bisa dilakukan langsung setelah shalat terawih bisa juga setelah shalat tahajud. Adapun dalam pelaksanaannya bisa dilakukan tiga rakaat sekaligus juga bisa dilakukan dua rakaat dulu lalu shalat lagi satu rakaat. Jumlah rakaat dalam witir yaitu tiga rakaat dan paling banyak 11 rakaat.

Rangkuman point penting mengenai puasa ramadan klik disini