Diajari Ngaji Oleh Jin


Sejak kejadian si Ucun viral di lingkungan asrama hingga menyebar ke luar asrama, dan akhirnya kejadian itu sampai ke telinga Bang Edy. Satu minggu dari kejadian itu Bang Edy datang ke asrama nengokin juniornya, kebetulan kami itu merupakan junior yang sangat dia kenal sebab kami pernah berada dibawah bimbingannya. Setelah Bang Edy berkeliling nengokin para juniornya kamipun jalan-jalan melihat suasana asrama yang belum banyak berubah setelah ditinggal oleh Bang Edy.
Kami berjalan menyusuri asrama seperti sedang berpatroli kelliling hingga akhirnya tiba di tempat yang biasa dulu kami nongkrong yaitu di warung bang Jagur, saya gak tahu siapa nama asli dia cuman dia dikenal dengan nama Jagur sejak dahulu kala bahkan sebelum kami memasuki asrama namanya sudah Jagaur. Seperti biasa dIwarung itu kami memesan kopi dan rokok, kami duduk melingkar sambil ngobro di saung yang seperti gazaebo tapi nyambung dengan warung.
Awalnya obrolan ringan seperti apa kabar di asrama, lalu apa yang berbeda dengan yang dulu terus gimana kondisi anak asrama yang sekarang dan lain-lain. Tiba-tiba Bang Edy bertanya tentang keributan yang terjadi pada malam itu tentang si Amin dan si Ucun yang hampir ribut, lalu si Mz menjelaskan kronologi kejadian yang terjadi di malam itu. Bang Edy cuman ngangguk-ngangguk saja, tak lama kemudian tertawa kecil sambil puas-puasin kami karena mengalami hal itu. Bang Edy bercerita ternyata dahulu ketika Bang Edy masih di asrama dan waktu itu kami belum ada di asrama, kejadian seperti itu pernah terjadi pada temannya Bang Edy, tetapi tidak sampai dilempar juga kata Bang Edy.
Ketika Bang Edy di asrama, dia satu kamar bersama Iwa, Wandy dan Idin. Mereka berempat sangat kompak dan kemana-mana selalu bersama, mereka orangnya tengil-tengil tetapi mereka bertanggung jawab, dan mereka juga pinter-pinter dalam pelajaran, cuman mereka selalu dipandang pembawa onar sebab kemanapun mereka pergi selalu ada cerita yang menarik untuk diperbincangkan, mereka juga dikenal empat sekawan karena kekompakannya dan kenakalanya.
Suatu hari ngaji di liburkan karena keluarga Pak Kyai sedang ada urusan keluar kota. Namun meskipiun ngaji diliburkan setiap jadwal mengaji mereka berempat tetap masuk kelas dan belajar bersama mengulang pelajaran yang sudah diajarakan. Yang lain akhirnya mengikuti sebab mereka malu kalah rajin sama anak-anak yang dipandang nakal. Setelah belajar bersama sekitar jam Sembilan, si Iwa pergi ke warung Jagur secara diam-diam. Dan mereka bertiga sudah tahu pasti kalua tidak ada di asrama pasti pergi ke warung Jagur. Akhirnya mereka mengikuti ke warung Jagur. Sejak Pak Kyai pergi tadi sore Wandy kelihatan lebih pendiam sehingga Bang Edy, Iwa dan Idin merasa heran, takutnya Wandy lagi sakit, tapi setelah ditanya wandi gak kenapa-napa.
Tak teraasa waktu begitu cepat berlalu, “ngantuk nih balik yu” kata Idin pada mereka bertiga. “Lah baru jam segini, lagian mendingan nginep dIwarung sajalah toh besok kan libur” kata Wandy yang kelihatan gak mau pulang. Idin maksa pulang dan Wandy maksa nginep di warung, “ya udah kita pulang tapi kita nyantai dulu lah” kata Wandy masih gak mau pulang. “lo kenapa sih wan hari ini lo kelihatanya aneh banget” kata Bang Edy penasaran. “gak ada apa-apa beneran dah, cuman rasanya gua merasa gak nyaman tinggal di asrama sejak Pak Kyai pergi, gua takut dy” Wandy mencoba menjelaskan keresahanya. “ya udah kita tidur di masjid gak usah terpisah biar kalua ada apa-apa lo bias langsung bangunin kita” Idin mencoba meyakinkan wandi agar mau pulang ke asrama. Setelah di bujuk akhirnya mereka pergi tidur ke masjid asrama.
Seperti yang di bilang Idin mereka tidur di masjid secara berdekatan. Tengah malam telah berlalu akhirnya mereka terlelap tidur. Sekitar jam setengah dua pagi wandi terbangun dan melihat Pak Kyai duduk sila di tempat imam sambil membaca kitab kuning, serentak dia bangun dan langsung bergegas mau bangunin teman-temannya sebab sudah kebiasaan kalua Pak Kyai sudah duduk di tempat imam artinya sudah hampir subuh. Tapi pas Wandy mau membangunkan teman-temanya wandi melihat Pak Kyai menhangkat tangan mengisyaratkan jangan bangunkan mereka, lantas Wandy melihat jam masih jam setengah dua pagi biasanya paling pagi pun Pak Kyai kemesjid jam empat atau setengah lima pagi sebab Pak Kyai selalu shalat tahajud di rumah dan kemesjid untuk berjamaan shalat subuh. Tapi Wandy tak banyak Tanya ia segera bergegas ke kamar mandi bersih-bersih dan segera berwudu.
Wandy segera masuk masjid kembali, tanpa di perintah Wandy langsung shalat tahajud lalu Wandy duduk berhadapan dengan Pak Kyai hanya terhalang meja kecil tempat kitab kuning. Setelah mereka duduk berhadarapan Pak Kyai nyuruh Wandy membuka kitabnya kemudian Wandy mengikutu yang diperintahkan Pak Kyai. Wandy diwjari ngaji sampai jam tiga pagi, kemudian Pak Kyai nitippesan jaga anak-anak yang lain, jangan sampai libur ngaji gara-gara Pak Kyai tidak di asrama. Stelah berpesan, kemudian Pak Kyai keluar dari masjid menuju rumahnya, tetapi subuhnya pak sampai pagi Pak Kyai gak ada kemesjid maupun ke kelas, Wandy merasa sangat aneh tetapi dia gak mau ngomong sama yang lain takut dia jadi disalahkan.
Malam berikutnya Wandy mengalami kejadian seperti malam sebelumnya, dan malam kedua wandi diajari ngaji lagi meneruskan pengajian sebelumnya. Kejadian itu berulang hingga hari ke empat. Di hari ke empat Wandy ngajinya selesai lebih awal, jam setengah tiga wandi sudah beres ngaji dan Wandy pun seperti biasa disuruh kembali tidur. Setelah Pak Kyai keluar dari masjid Wandy bangun niatnya mau nyelidiki Pak Kyai karena merasa heran tapi wandi pikir gak sopan menaruh rasa curiga pada gurunya sendiri, Wandy takut kecurigaanya menjadi penghalang bagi dirinya untuk mendafatkan ilmu yang bermanfaat.
Ditengah kebimbangan Wandy merenung du teras depan masjid sendirian. Tak lama terlihat cahaya lampu mobil dari kejauhan dan ternyata itu mobil rombingan keluarga Pak Kyai. Wandy bergegas keluar dari masjid dan menyambut kedatangan Pak Kyai dan keluarga. Pak Kyai dengan raut wajah cape bertanya kepada Wandy, “kamu kenapa masih belum tidur, ini sebentar lagi waktunya bangun tahajud bersama” kata Pak Kyai dengan nada menasehati. “Kan saya baru selesai ngaji tapi saya gak bias tidur lagi” kata Wandy menjawab Pak Kyai. Pak Kyai sedikit heran kemudian bertanya lagi pada Wandy “ngaji apan kamu ko sampai jam segini, kamu harus istirahat biar jam empat kamu bangun segar, tahajud bersama, shalat subuh kemudian ngaji dengan pikiran yang masih segar” Pak Kyai menjelaskan. Wandi merasa heran soalnya yang nyuruh dia ngaji kan Pak Kyai tapi sejarang Pak Kyai malah bicara seperti itu, tapi dia tak berani jawab lagi, Wandy hanya mengangguk dan kembali kedalam masjid.
Setelah shalat subuh lalu Pak Kyai ngajar ngaji dan waktu ngajinya di percepat, setelah beres ngaji yang lain disuruh mudzakarah (mengulangi bacaan kitab yang sudah diajarkan) dan Wandy bersama tiga temannya disuruh kerumah Pak Kyai. Dengan rasa penasaran Pak Kyai kembali nanya Wandy “kamu selama ini ngaji apa saja, dari jam berapa sampai jam berapa?” pak kiyai seolah tahu ada yang tidak beres namun mencoba memastikan. Wandi menjelaskan kejadian selama empat hari yang menimpa dirinya. Lalu Pak Kyai kembali bertanya “lalu siapa saja yang suka ikut ngaji dengan saya itu selama tiga malam kebelakang? Edy, Iwa, Idin, kamu juga ikut ngaji?” Tanya Pak Kyai. “saya gak tau kalua Pak Kyai dan wandi suka ngaji tiap malam, saya pikir Pak Kyai sedang ke luar kota, tapi kalua Pak Kyai di asrama kenapa selama tiga hari ini saya tidak melihat Pak Kyai” kata Edy, Iwa dan Idin dengan penuh tanda Tanya. Pak Kyai masih penasaran kemudian menyuruh Wandy membaca yang diajarkan.
Setelah Wandy selesai membaca kitab yang diajinya selama empat malam itu kemudian Pak Kyai menjelaskan “dengarkan, kalian jangan kaget, saya ini pergi keluar kota selama tiga hari dan baru kembali tadi jam tiga pagi, jadi selama ini yang ngajarin wandi ngaji bukan saya, lagian mana mungkin saya ngajar ngaji tengah malam, bukan hanya kalian, saya juga perlu istirahat, lalu siapa yang ngajarin Wandy ngaji? Nah saya akan beri tahu pada kalian tapi kalian harus ingat kalian gak boleh cerita kepada penghuni asrama yang lainnya takutnya terjadi kehobohan dan mereka akan merasa takut jadi kalian harus berjanji tidak boleh ceritakan pada orang lain” Pak Kyai menuturkan.
Mereka berempat karena penasaran akhirnya mau berjanji, dan setelah mereka berjanji akhirnya Pak Kyai pun menjelaskan “sebenarnya dahulu kala ada sepasang suami istri yang tinggal di kebun yang sekarang di jadikan masjid, tapi mereka bukan dari bangsa kita, mereka bangsa jin. Ketika sedang merencanakan pembangunan masjid setelah mengukur dan mulai meratakan tanah saya di datangi mereka kedalam mimpi saya, selama tiga kali berturut-turut dan berkata kenapa tempat kami di gusur, krena mimpinya tiga kali berturut-turut itu artinya mimpi ini bukan sekedar kembang mimpi, malam besoknya saya ke tanah yang akan di bangun masjid dan berdzikir di tempat itu dan ternyata benar, saat tengah malam tiba-tiba mereka datang entah dari mana dengan wajah dan pakaian persis seperti yang ada dalam mimpi. Mereka unjuk salam dan saya jawab kemudian mereka bertanya kenapa rumah saya di gusur. Karena saya berdzikir tengah malam di tanah yang akan dibangun mesji ini karena berniat saya ingin membuktikan keberadaan mereka benar ada dan juga karena ingi menjawab yang mereka pertanyakan saya beranika berbicara baik-baik dengan mereka, akhirnya mereka menerima dengan suka rela rumah mereka di gusur dengan syarat mereka diijinkan tinggal di masjid dan diijinkan ikut ngaji dan berjamaah di masjid tersebut dan mereka berjanji tidak akan mengganggu apalagi mencelakakan penghuni asrama, malah mereka siap menjaga asrama agar tida ada yang berbuat jahat didalam asrama, kecuali ketika penghuni asrama melanggar aturan yang berat dia akan sedikit nakut-nakutin katanya dulu sambil tertawa menandakan dia ingin terlihat akrab” Pak Kyai menjelaskan secara detil dan berkata “kalua urusan Wandy gak usah takut toh dia datang dengan wujud saya dan yang diajarkan memang seperti itu sebab dia sudah ngaji kitab ini berkali-kali dari saya, mungkin karena Wandy anaknya rajin dia tahu dan kasihan kalua selama saya pergi Wandy gak ngaji, hebatbya sekarang Wandy selama di asrapa pasti mereka jagain Wandy” Pak Kyai berkata sambil tersenyum candain Wandy. Dan setelah itu mereka berempat menyimpat rapat cerita itu hingga Bang Edy yang ceritain hanya kepada kami berlima, itupun Bang Edy cerita pada kami sebab Bang Edy sudah yakin kami tidak akan ketakutang dengan cerita seperti itu dan menganggap cerita itu hanya penghangat suasana saja.