Judul :
Konseling dan Terapi Qur’ani
Penulis : Dr. Ridwan, M.pd
Penerbit : Pustaka Pelajar
Kategori : psikologi, religi dan pengembangan
diri
Daftar Isi:
BAB I :
APA DAN MENGAPA KORINI
BAB II :
LANDASAN FILOSOFI RELIGIUS
BAB III : KONSEP-KONSEP UTAMA KORONI
BAB IV : MODUL TERAPETIK
BAB V : MENYINGKAP KEBUTUHAN TERAPI
BAB VI : TERAPI FITRAH
BAB VII : TERAPI PERTOBATAN
BAB VIII : TERAPI PENJANGKIT SUKSES
BAB IX : TERAPI KESOMBONGAN
BAB X : TERAPI KEDENGKIAN
BAB XII : TERAPI KESEDIHAN
BAB I
APA DAN MENGAPA KORINI
Apa itu korini? Korini adalah konseling dan terapi Qur’ani. Korini
hadir dengan tujuan menawakan solusi dengan cara mendekatkan diri kepada Allah.
Prosesnya dilakukan dengan mentadzaburi ayat-ayat dan munajat dengan ayat Qur’an
dan hadits Nabi Muhammad SAW. Korini datag menawarkan beberapa teknik
penyembuhan dengan metode khazanah penyembuhan islam kasik yang dikemas dengan
bentuk konseling dan terapi.
Ada tiga pertimbangan meneliti dan menyajikan konseling terapi
Qur’ani. Pertama, bimbingan konseling yang ada untuk sementara ini tidak
ditunjukan sebagai perjalanan menuju Allah. Kedua, problem pada jaman
sekarang adalah disorientasi, salahsatunya orang sibuk mencari harta hingga
lupa kepada tuhan sang pemilik segalanya, oleh karena itu dalam korini ini
disajikan teknik terapi dari tokoh islan klasik maupun kontemporer. Dan ketga,
konseling ysng berdsarkan pada Qur’an dan Sunnah yang ditinggalkan oleh
orang-orang yang saleh.
Kenapa harus psikoterapi islam? Ibnul Qayim Al-auziah mengatakan
Al-Qur’an adalah obat yang sempurna bagi segala penyakit, baik itu sakit fisik
maupun mental, sakit dzahir maupun batin, sementara itu Sutoyo menunjukan
alasan-alasan mengapa Qu’an dijadikan rujukan dalam konseling. Diantara alasan
itu:
1. Bahwa
manusia adalah makhluk Allah, dan Allah memberikan Al-Qur’an kepada umat
manusia sebagai pedoman hidup. Maka daari itu segala sesuatu harus kembaki
kepada qur’an da sunah.
2.
Informasi
penting untuk mempasilitasi konseling sudah tersedia dalam Qur’an dan sunah.
3. Baik
konselor maupun konseling yang ingin mengambil berkah dari hikmah Qur’an mamka
Allah akan mempermudahnya.
BAB II
LANDASAN FILOSOFI RELIGIUS
Korini ini memiliki
llandasan yang sangat kuat diantaranya landasan fillosofis yaitu sebuah
pencarian anusia terhadap kebenaran dan kedua adalah landasan religius yakni
landasan yang bedasarkan kepada wahyu tuhan yang mencipta, memnbina alam
semesta dan seluruh isinya termasuk didalamnya adlah manusia. Implikasi korini
adalah mendeteksi kehendak (kemauan) indivisu kemana arah potensi kehendaknya
dan seberapa kuat atau lemahnya kehendak tersebut, ini sangat penting sebab
kegendak konseling adala dasar perubahan seperti dalam firman Alah (Qs. Ar-Ra’d
[13]:11) sesungguhnya Allah tidak akan m erubah suatu kaum sebelum mereka
mengubah keadaan dalam diri mereka. Selanjutnya dalam ayat yang lain
dijelaskan bahwa manusia akan kembali kepada Allah, berarti hidup adalah
perjalanan kembali menuju kepada-Nya yang artinya perjalanan hidup adalah
proses pembersihan diri sebab akan kembali kepada yang maha suci. Adlapun unsur
yang akan disucikan adalah unsur diri/jasad dan unsur ruh. Tuhan maha suuci,
oleh karena itu hanya bias didekati oleh orang yang suci. Oleh karenanya
perjalanan kehendak manusia untuk mendekati-Nya maka harus melalui akal pikiran
yang jehrnih, berpikir adalah proses menemukan phenomena-penomena alam tetapi
ia akan menemukan kebenaaran jika didahului dengan dzikir.
Lawan dari kata membantah adalah taat, tunduk atau patuh. Menurt
Maududi, arti islam ada dua: pertama, memasuki perdamaian dan kedua,
penyerahan diri atau kepatuuhan keppada tuhan. Dengan paparan tersebut maka
membantah menjadi satu factor utama seseorang seseorang menjadi bermasalah. Pertanyaannya
mengapa terkadang kita melakukan kesalahan? (1). Jika melakukan kesalahan
secara spontan itu adalah karea memori dimasalalu yang tersimpan dialam bawah
sadar menurut psikodinamik itu bias juga karena kesalahan pola asuh. (2).
Karena tidak tahu atau susuatu yang sudah tahu tetapi tetap dilakukan dan
itulah yang namanya zalim. Dari membantah tersebut kemudian munculah penyakit
jiwa misalnya ujub, takabur, riya dan laiinya. Kasus besar di negri ini merupaka
karena factor lemahnya iman. Seperti para koruptor yang membantah kehadiran
tuhan pada perbuatanya, mereka menganggap tuhan tidak menyaksikan.
Didalam korini akal pikiran dibangkitkan dengan dialog dan
musyawarah bisar mengerti. Dengan konfirmasi agar sadar, denagn muhasabag agar
tahu masalah detilnya, dengan tadzaabur dan tadzakur akar hati semakin
menundik,
Dengan tunduk kepada Allah maka rahmat Allah akan turun
menghampininya. Bagi orang yang mentadzaburi Al-Qur’an maka ada lima yang akan
didapatkan:
1.
Mendapatkan
petunjuk
2.
Mendapatkan
hikmah. Arti hikmah antara lain: pertama, pengetahuan hakikat kebenaran
perwujudan dalam kehidupan, dua, ilmu yang bermanfaat dan aktifitas yang
membawa keseamatan dan tiga, kondisi psikis, ketundukan kepada tuhan.
Rumi juga berpendapat bahwa hikmah itu merupakan sesuatu yang tersembunyi, maka
hikmah tidak akan muncul kecuali menariknya keluar.
3.
Sembuh
dari gangguan penyakir
4.
Mendapatkan
cahaya, maksudnya adalah orang yang mati jiwanya adalah orang yang tidak
mendapatkan penerangan dari Al-Qur’an sehingga orang yang dihidupkanjiwanya
dengan Al-Qur’an maka akan terbebas dari kegelapan, menjadi terhormat dihadapan
Allah.
5.
Mendapatkan
ruh Al-Qur’an, manusia hidup karena roh yang ada pada dirinya. Al-Qur’an
disebut roh artinya akan memberikan kehidupan pada hati yang mati, Al-Zauziah
(2005, hal. 3) mengatakan bahwa hati yang mati adalah hati yang tidak mengingat
tuhan dan selalu mengikuti hawa nafsunya.
BAB III
KONSEP-KONSEP UTAMA KORONI
Diawal sudah dijelaskan bahwa koroni merupakan Konselling Terapi
Qur’ani yang mana merupakan kensep gabungan dari konseling dan ayat Al-Qur’an
sebagai pedoman untuk mengentaskan masalah. Konselling sendiri berasal dari
barat namun di dalam islam lebih mengenal sebagai mana dalam firman allah
Qs. An-Nahl [16]:3 yang artinya “maka bertanyalah kepada ahl adz-zikra. Istilah
bertanya berarti menyangkut sesuatu yang tidak diketahui, mulai dari pertanyaan
sehingga menjadi lebih kompleks, dari pertanyaan khusus hingga pribadi, dari
pertanyaan hingga pengalian alam bawah sadar.
Apakah konseling dan psikoterapi itu sama atau berbeda? Menurut
Nelson-jones (2009, hal.191) mengatakan bahwa upaya untuk membedakan keduanya
tidak akan berhasil. Dalam kajian ini bahwa keduanya digunakan dengan Alasan
sebagai berikut: pertama, para ahli secara jelas tidak pernah bias
membedakan keduanya. Dua, perubahan sikap dan tingkah laku akibat
tadabur Al-Qur’an biasanya menyakngkut soal keimanan dan keimanan terletak di
pusat kepribadian. Dan ke-tiga, didasarkan kepada hadits nabi “apabila
baik qalb (hati)nya maka akan baik pula seluruh tubuhhnya. Menurut penulis
apllikasi tadabur Al-Qur’an kedalam terapi dan konselilng.
Menurut Rober Frager pada dasarnya manusia memiliki dua unsur,
jasad dan ruh atau jiwa dan jasad. Dari sana berkembang istilah lain yakni
mental, spiritual, moral, dan fisik. Dari sini objek sasaran korini alada:
1.
Sasaran
spiritual, merupakan aspek rasa yang berkaitan denagn ruh, jiwa, semangat,
keimanan, kesalehan, maka akan sampai pada pusat qalb.
2.
Sasaran
mental, dalam psikologi disebut yang erhubungan dengan akal pikiran, ingatan,
atau proses yang berhubungan dengan akal pikiran dan ingatan.
3.
Sasaran
moral, ada tiga istila yaitu moral, akhlak dan etika. Moral adalah aturan atau
nilai bersikap dan berprilaku yang dihasilkan oleh sekumpulan populasi.
4.
Sasaran
fisik, yaitu badan atau tubuh dzahir manusia.
Tingkatan dalam tadabur koriini dijelaskan oleh Hasan Mustafavi
yaitu sebagai berikut:
1.
Ibarat,
yankni dimana kebanyakan orang awam hanya mengetahui Al-Qur’an
secara teks dantafsiran saja.
2.
Isyarat,
orang khusu sehingga memahami penafsiranya lebih mendalam dan
kelebihanya terdapat pada hati nuraninya.
3.
Lathaif,
pemahaman sangat mendalam yang hanya bbisa diraih oleh pengalaman
nur batin, dan ini merupakan tingkatan para wali
4.
Haqaiq, adalah keyakinan terhadap Al-Quran dengan tanpa keraguan dan ini
merupakan tingkatan para Nabi.
BAB IV
MODUL TERAPETIK
Tujuan dari korini diantaranya:
1.
Mengakui
telah berbuat salah, kalua sudah mengakui maka akan timbul rasa malu sehingga
akan langsung bertaubat karena kesadaran sendiri.
2.
Membersihkan
pikiran dan rasa egatif, seperti prasangka buruk, lemah berpikir, malas dll
3.
Memiliki
keyakinan kuat, hidup adalah perjalanan kembali menuju Allah yang akan menemui
banyak rintangan dan godaan sehingga dibutuhkan keyakinan yang kuat dan tak
tergoyahkan sehingga tidak terjerumus dalam kesalahan dan membantah tuhan.
4.
Teratasi
masalah-masalah spesifik, masala itu timbul dari lemahnya iman sehingga dengan
proses yang diatas masalah akan terselesaikan dengan baik
Jika ditinjau dari segi kualifikasi maka seorang kiyai atay seorang
guru (mursyid) juga merupakan konselor sebab seorang syekh atau guru akan
mengetahui kebutuhan seorang murid dan memantulkan kebutuhan murid melalui mata
hati sang syekh. Sebagai konsekuensi kualifikasi yang dipenuhi konselor dan
konseling terapi Qur’ani:
1.
Kompetensi
Al-Qur’an dan hadits
a.
Menyatunya
hati dan pikiran
b.
Gemetar
hati ketika mendengan nama Allah
c.
Bertambah
iman
d.
Bertambah
khusuk
e.
Merasa
bahagia
f.
Mengagungkan
Allah
g.
Menangis
dan takut serta bahagia karena Allah
h.
Pengetahuan
tajwid
i.
Pengetahuan
terhadap makna
j.
Pengetahuan
tentang tafsir
k.
Mentadzaburi
l.
Munajat
m.
Istikomah
bertadaru
2.
Berkompeten
dalam teori dan peraktik terapi koroni
3.
Kompeten
dan terampil dalam konseling konpensional dan riset
4.
Berzikir
dibawah bimbingan guru
Adapun sikap yang harus dimiliki oleh terapis korini diantaranya:
1.
Sifat
lemah lembut
2.
Sifat
pemaaf dan memohonkan ampun
3.
Sabar
dan tidak pemarah
4.
Bijaksana
Fungsi dan peranan konselor adalah sebagai teman, seorang ahli,
motivator, informan, penyedia alternative, pemberi tantangan, adapu tahapan
dalam konseling diantaranya:
1.
Menganalisa
kebutuhan konseling
2.
Tadabur
ayat
3.
Bermusyawarah
dan menyeru dengan hikmah
4.
Berazzar,
artinya mengambil keputusan atau komitmen terhadap konseling yang dijalani
5.
Tawakal,
berserah diri kepada Allah taala dengan sepenuhnya setelah segala ikhtiar yang
dianggap maksimal
Dalam kegiatan konselling pastinya ada interaksi, maka supaya
iteraksi berjalan baik harus membuat sebuah hubungan yang baik seperti dalam
korini ini sebagai berikut:
1.
Hhubungan
yang didasarkan kasih saayang bukan karena uang
2.
Dalam
hubungan ini tidak beleh mengarapkan suatu penghaargaan
3.
Konselor
perlu mencegah konseling melakikan suatu yang ambisius dalam sesuatu
4.
Tidak
boleh merendahkan konseling
5.
Materi
harus disesuaikan dengan pengetahuan konseling, jangan sampai membuat konseling
membuat tambah pusing lahi.
6.
Yang
dikatakan oleh konselor adalah yang telah diamalkan
BAB V
MENYINGKAP KEBUTUHAN TERAPI
Sasaran Korini adalah orang yang kurang yakin, takabur dan sombong,
dengki, serakah, yang sedih (depresi) dan kosong jiwanya. Dalam islam mereka
itu disebut orang yang mengidap penyakit hati. Kalua kita punya kehendak maka
sesungguhnya untuk melakukan korini itu sangat mudah, namun jika masih merasa
sulit maka disana perlu adanya bantuan daro orang-orang yang berkompeten dalam
melakukan korini. Terkecuali orang yang tidak punya kehendak maka akan sulit
untuk menemukan atau mendiagnosa sakit hati.
Adapun untuk tekniknya, Al-Qur’an itu merupakan sebuah pedoman
hidup dan kehidupan serta didalamnya adalah obat bagi setiap penyakit dan
solusi bagi setiap masalah. Maka jika
konselor melakukan prosedur maka insyaAllah akan mendapatkan petunjuk:
1.
Niat,
mengharap ridha Allah dan agar diberi petunjuk mengenai apa yang diniatkan.
Ketika berniat maka bacakan siapa yang bersangkutan dan sebutkan pula nama
ayahnya
2.
Harus
memiliki wudzu
3.
Siapkan
Al-Qur’an dan menghadap kiblat
4.
Buka
dan baca ayat yang menarik saat pertama kali dilihat
5.
Konsen
pada ayat tersebut baca dan baca pula terjemahnya serta coba untuk pahami
Untuk menyingkap penyakit hati sesunggunya sangat mudah jika sudah
terbiasa melakukan muhasabah. Muhasabah adalah intropeksi diri.
Adapun untuk menyikapi masalah siswa seperti sering bolos, tidak
mengerjakan PR, atau siswa yang cerdas tapi tidak mau bekerja sama, suka
membulli dll. Kemungkinan besarnya adalah tingkat keimanan yang lemah serta
tidak pernah melakukan muhasabah. Dalam kondisi ini mungkin saja sejak awal
mereka tidak menyandarkan dirinya kepada Allah. Kalua mau sukses pasti butuh
terapi. Dengan demikian ada tiga cara bagi seorang konselor: pertama, disikapi
masalah melalui wawancara konseling. Ke dua, obrolan dan observasi
diluar konseling dan ketiga, melalui kualitas konselor.
Setelah melakukan penyikapan masalah baik dengan konseling maupun
dengan muhasabah, maka konseling akan menemukan letak dari kesalahan-kesalahan
yang dilakukan sehingga disana perlu ada peran konselor untuk meneguhkan hati
konseling. Untuk meneguhkan maka perlu dengan cara lemah-lembut, arif,
bijaksana, sabar, untuk mewujudkan fungsi sebagai pengingat. Selanjutnya
konseling yang tertarik melakukan Korini maka konseling perlu menguatkan
keinginannya untuk melakukan terapi. Dalam salat bermunajatpun kita sering denger imam sering
bermunajat, coba kota perahatikan salat kita”
1. Bacaan fasih
tapi rasa tanpa makna
2. Tidak berhenti
utuk berdialog dengan tuhan
3. Gerakan kita
mengikuti gerakan anggota badan
Munajat adalah merayu tuhan dari dekat, merasakan bahwa tuhan mendengar setiap
rintihan kita kepadanaya. Dalam penyembuhan munajat sudah menjdadi tradisi
dalam islam. Dari sisi ilmiyah menurut Jhunke dkk, (2009,hal.17) telah
membuktikan efek do’a dalam penelitinaya. Dan M.Saleh(2009) telah membuktikan
peneliitiantentang salat tahajud untuk kebutuhan tubuh sesungguhnya dikalukan
denagn munajat.
Berikut ini adalah sembilan hal yang
dikabulkan oleh Allah sebagai mana di munajatkan oleh nabai ibrahim As,sebagai
mana yang diabadikan dalam Al-Qur’an dalam surat ibrahim ayat 35-41.diantara
yang dikabulkan Allah diantaranya:
1. Diberi negri
yang aman dan kekuatan iman. Terdapat pada ayat 35
2. Millah ibrahim
menjadi misi raasulullah SAW, pada ayat 36
3. Anak keturunan
menjadi ikakatan manusia. Pada ayat 37
4. Dimudahkan
dalam rezaki meski tanah tanpa tanaman. Pada ayat 37
5. Menjadi oorang
yang pandai bersyukur. Pada ayat 37
6. Diberi rasa
senantiasa merasa dewaasa. Pada ayat 38
7. Dianugerahi
keturuunan pada ayat 39
8. Diberi kekuatan
dalam nenjaga salat, pada ayat 40
9. Diampuni dosa.
Pada ayat 4i
Meskipun tujan terapi munajat sesuai denagn
kebutuahan spesifik individu tapi pada umumnya kepada Allah Swt antaralain:
1. Menemukan
tempat mengadu paling tepat
2. Medapatkan
sambutan dari-Nya. Berupa ilham, hikmah, fadillah dll
3. Peningkatan
dalam cara berpikir dan pemecah masalah
4. Mendapat
kesembuhan sesuin niat munajat
5. Mendapatkan
rasa ketenangan dalam eraktivitaas sehari-hari.
Munajat yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW
sebagai mana dalam hadits yang diriwayatkan oleh huzaifah R.A, yakni:
1. mambaca ayat
ayng menhgandung tasbih
2. membaca ayat yang mengandung do’a
3. membaca ayat yang mengandung tentang perlindungan seperti ayat yang
menceritakan hari kiamat atau siksa neraka.
PROSEDUR TERAPI MUNAJAT
1.
Menangkap
kebutuhan terapi
Apabila individu menyadari sifatnya itu, dan bersedia menjalani
terapi, maka konselor menawarkan untuk menjalankan tadaburi ayat Al-Quran,
serta konselor menerangkan terapi tadabur dan munajat serta tujuan kedepanya
sepertii apa.
2.
Tadabur
ayat
Konselor juga menjelaska tadabur yang dilakukan oleh Nabi Muhammad
3.
Bermusyawarah
dan menyeru dengan hikmah
Yang dimaksud musyawarh adalah menyepakati tadabur yang akan di
implementasikan dalam tadabur tersebut.
4.
Beazam
Perlu tekad kuat untuk mewujudkan dalam rindakan:
a.
Konselor
melakukan konseling untuk mengukuhkan konseling dalam menghadapi rintangan
b.
Konselor
dan konseling menandaatangani kontrak bimbingan
c.
Dibahas
pula kemungkinan pendampingan konseling untuk implementasinya.
Indicator atau tanda-tanda keberhasilan dalam melakukan terapi
munajat antara lain:
1.
Hilang
keresahan, kegelisahan, kesedihan, kebingungan dan lainya
2.
Merasakan
sambutan dari Allah
3.
Meningkat
kemampuan dalam berpikir
4.
Meningkat
keimanan
5.
Mendapatkan
ketenangan d alam beraktivitas
BAB VI
TERAPI FITRAH
Ustman Najati (2003, hal.324) fitrah adalah agama yang lurus.
Potensi untuk mengenal dan mentauhidkan Allah. M. Q. Sihab (2010, hal.370)
bahwa setiap orang memiliki fitrah, namun karena selama di dunia sering
melakukan kesalahan maka fitrahnya semakin melemah dan bahkan bias tidak
terlihat. Firaun sendiri yang selama hidupnya mengingkari Allah akhirnya
mengakui serta percaya ketika ruhnya meninggalkan tubuhnya.
Pada fase SMP-SMA seharusnya level iman mereka sudah meningkat
karena sudah dapat mengembangkan fitahnya untuk sampai kepada Allah dengan akalnya.
Artinya mereka telah mengembangkan imannya ke tingkan iman akal. Jika para
siswa membuka dan memperluas fitrahnya dan begitupun dengan imannya maka dengan
bimbingan dari guru-gurunya segarusnya para siswa dapat menghindari prilaku
bolos, minuman keras, narkoba, tauran dan sebagainya.
Kemudian semakin dewasa seharusnya fitrah dan keimanan mereka sudah
sampai pada akal dan hati. Dan kemudian secara bertahap memasuki tahapan qalb
kelompok pada makom makrifat. Namun dalan realitas lapangan ternyata
usia spiritual tidaklah sama dengan usia kronologis. Banyak dari mereka hanya
beriman pada makom syareat atau bahkan belum sampai kesana.
Fitrah yang diberdayakan dapat memperkokoh keimanan. Ia mengandung
makna bahwa individu meyakini dengan penuh bahwa ada pencipta alam semesta.
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang Maha Bijaksana, yang Maha Kaya.
Menurut Abdushshamad (dalam suyoto, 2009, hal.148) iman kepada Allah itu ada
hubungannya dengan kesembuhan penyakit yang diderita. Disebutkan bahwa penyakit keras seperti
jantung, kangker, liver, rematik dan yang lainnya ersumber dari penyakit
psikis, atau karena kekacauan jiwanya. Sementara dengan memperkuat keimanan
yang kuat akan memberikan kedamayan pada jiwa.
Sebagai mana disebutkan bahwa tidak tumbuhnya iman adalah karena
dosa yang sering dilakukan maka tuhan menghapuskan kesadaran terhadap dirinya
sehingga semakin sering melakukan dosa maka akan semakin terhapus juga kesadara
atas dirinya dan kepada tuhan. Mereka itulah yang mengidap ganggguan jiwa. Oleh
karena itu fitrahnya harus dibangkitkan kembali supaya kesadaranya kembali
bahwa jauh sebelum ruh ditiupkan manusia pernah bersaksi dihadapan Allah.
Dalam psikologi sufi, disebutkan bahwa manusia tidak aka beribadah
dengan sempurna kepada Allah tanpa mengenalnya. Dalam hadits yang cukup popular
dikatakan “barang siapa yangmengenal dirinya maka akan mengenal tuhannya”
mengenal dirinya yaitu mengembalikan kesadara bahwa jauh sebelum terlahir ke
dunia manusia telah bersaksi dihadapan Allah bahwa Allah lah tuhan yang nyata
dan tiada tuhan selain Allah.
Prosedur terapu fitah
1.
Analisis
kebutuhan terapi
Koseling perlu mengungkap gejala dengan muhasabah, eksplorasi,
empati dan seeterunya, masalah yang terungkap harus disadari sendiri oleh
konseling. Konselor menyiapkan asas-asas konseling, misalnya azas kerahasiaan,
keterbukaan atau keyakinan. Setelah itu konselor perlu menjelaskan prosedir
yang akan dijalani.
2.
Tadabur
ayat
3.
Bermusyawarah
dan menyeru dengan hikmah
Pengubahan melalui penjangkitan keimanann. Kalua mulai tumbuh
keimanan baru maka bersyahadatlah dengan benar:
a.
Jangkitkan
ketuhanan bahwa Allah itu ada
b.
Jangkitkan
keimanan bahwa dia telah ditolong oleh Allah
c.
Latihan
menjangkitkan keimanan kepada Al-Qur’an
d.
Bersyahadat
dengan baik dan benar
e.
Menawaarkan
latihan-latihan
4.
Berazam
5.
Tawakal
Tekad yang kuat tetap perlu sandaran, jika tida ada sandaran maka
akan berujung pada hasil yang kurang baik. Tawakal adalah bersandar diri hanya
kepada Allah dengan segala ketergantungan pada-Nya.
Secara khusus indicator keberhasilan ini menunjuk pada peningkatan
ketakwaan:
1.
Meningkatkan
frekuensi melalui kewajiban dan hal yang bai kepada Allah
2.
Menurunkan
frekuensi yang dianggap negative
3.
Meningkatkan
frekuensi raasa aman dan nyaman
4.
Meningkatan
penggunaan waktu untuk berpikir
5.
Meningkatkan
prekuensi antara hati pikiran dan hidup yang hati-hati
BAB VII
TERAPI PERTOBATAN
Menurut Al-Jauzi (1999, hal. 83) hakekat tobat adalah kembali
kepada tuhan dari lembah kesesatan dengan melakukan apa yang dicintai oleh
Allah dan Rasulnya seta meninggalkan segala yang dilarang-Nya. Terapi Korini
dilakukan dengan proses penyadaran, penyelesaian, penyelesaian, dan
membersihkan efek-efek negative serta memohon ampunan kepada Allah atas
kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Dengan demikian terapi pertobatan:
1.
Sasaranya
sepiritual mental, orang yang tidak bertobat atas kesalahanya akan mengalami
peyakit malas sekolah, belajar dan kemalasan yang lainnya, resah, gelisah dan
lain-lain
2.
Proses
terapinya delakukan deang pernyadaran, penyelesaian, dan pembersihan dari
sifat-sidat negative.
Efek negative dari tidak melakukan tobat menurut Al-Ghazali 2009d,
hlm. 164) diantaranya: pertama Kegelapan jiwa yag akan semakin bertumpuk
oleh pelanggaran yang selalu dilakukan. Kedua, Banyak sakit yang datang
hingga tiba pada kematian lalu tidak sempat melakukan pertobatan. Dengan
gelaapnya jiwa ia tidak akan mengetahui kenapa seperti itu sehingga tida tahu
harus berbuat apa. Oleh karena itu ia akan jatuh sakit pisi akibat tekanan jiwa
(psikosomatik) yang semakin besar akibat dari perbuatan dosa yang tida
ditobati.
Diantara keuntungan melakukan tobat adalah mental akan ringan,
berpikir jernih, ingatan kuat, dan banyak lagi keuntungan yang akan didapat.
Bila terbiasa melakukan amal saleh maka itulah prestasi, suaatu amal yang kelak
akan diperoleh hasilnya di Akhirat. Selain itu dalam terapi Korini maka tobat
adalah salah satu kunci kesuksesan.
Dilain pihak terapi tobat sering dianggap sepele, mereka
beranggapan cukup hanya dengan bacaaan istigfar yang umum. Dengan begitu terapi
tobat menjadi penting dengan alasan sebagai berikut:
1.
Orang
yang melakukan dosa maka ia akan melakukan apapun yang ia kehendaki karean ia
dalam keadaan yang tidak sadar akan berbahayanya berbuat dosa.
2.
Banyak
orang yang hanya beristigfar tanpa mengetahui tujan dari istigfar, sehingga
istigfarnya tidak begitu memberikan dampak pada si pembaca, sebab
beristigfarnya tidak mengikuti prosedur dalan bertobat.
3.
Banyak
orang yang tidak yahu tobat seperti apa yang akan diterima oleh Allah sehingga
orang merasa dirinya telah bertobat namun syarat tobatnya tidak terpenuhi.
Tujuan dari bertobat adalah untuk membersihkan segala perbuatan
yang buruk dan kembali kejalan yang benar. Al-Gazali mengemukakan tanada-tanda
orang yang tobantnya diteriima:
1.
Individu
merasa dirinya terpelihara dari perbuatan dosa
2.
Berkumpul
denagn orang saleh
3.
Dalam
segala tindakanya merasa adisaksikan oleh Allah
4.
Banyak
melakukan amal kesalehan namun masih merasa sangat kurang
5.
Lisannya
terjaga
6.
Membiasakan
merasa sedih dengan dosa yang pernah dilakukan
Adapun proses terapi pertobatan ialah sebagai beriikut:
1.
Analisis
kebutuhan terapi
2.
Tadabur
ayat, diantaranya pertama, efek negative tidak bertobat. Dua,
sambutan Allah untuk orang yang bertobat dank ke tiga tanda diterimanya
tobat
3.
Musyawarah
dan menyeru dengan hikamah, dengan melakukan konseling menggiring konseling
melakukan tobat seperti yang disyariatkan
4.
Azzam,
tekad yang kuat sangat diperlukan sebab berbuat dosa itu bersifat adiksi atau
ketaguhan sehingga akan sulit untuk berhenti dari melakukan maksiat. Maka dari
itu tekad yang kuat sangat penting
5.
Tawakal,
tanpa bantuan Allah manusia tidak dapat berbuat apa-apa sehingga wajib manusia
menyandarkan segala urausanya kepada Allah
Untuk objek indicator keberhasilan dari terapi tobat adalah sebagai
berikut:
1.
Memelihara
diri dari perbuatan dosa
2.
Sering
berkumpul denagn orang sleh
3.
Sering
merasakan Allah hadir dalam aktifitasnya
4.
Merasa
kurang beramal untuk persiapan diakhirat
5.
Menyibukan
diri dengan hal yang diperintahkan Allah
6.
Menyesali
perbuatan dosa yang dpernah dilakukan
BAB VIII
TERAPI PENJANGKIT SUKSES
Yang dimaksud menjangkit sukses adalah menjangkit karakter sukses,
melalui penyembuhan sepiritual yangtidak berani melangkah karena mentalnya
lemah. Terapi ii dilakukan dengan bertujuan: pertama, Sasaran semua
aspek penyembuhan, pisik, emosi dan spiritual. Kedua, Proses terapinya
adalah dengan cara membangkitkan keyakinan dengan kalimat konfrontasi dan
tindakan nyata.
Tidak ada sukses besar tanpa keyakinan yang besar. Maksudnya
keyakinan yang sangat kuat, tangguh, dan mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa.dalam
kenyataanya ada yang mendasarakan prinsipnya pada pikiran, rasio, dan banyak
lagi prinsip kebenaran hati. Tapi sesungguhnya perisip-periinsip itu adalah
prinsip yang primitive sebab belum tersentuh oleh petunjuk tuhan.
Yang menjadi masalah adalah sebagian orang yang beriman bertindak
ragu. Mereka justru melanggar prinsip kejujuran ketulusan, kerja sama yang
baik, yang semuanya adalah ajaran agama yang dianutnya dan semua yang dilalngar
itu adlah kunci utama sukses. Menurut psikologi sufi, iman mulai mantap
disarakan apabila seseorang mencapai jiwa yang tenang yang merupakan prestasi
tersendiri dalam mendekatkan diri kepada tuhan. Orang yang dekat dirinya denagn
tuhan maka tidak akan bertindak ragu-ragu.
Tujuan dari terapi ii adalah mengunggah jiwa konseling dengan kisah
kisah sukses para nabi sehingga mampu melangkah untuk mewujudkan mimpi-mimpinya
secara khusus terapi penjangkit sukses ini adalah:
1.
Mampu
mentadaburu dan munajat ayat khas orang sukses
2.
Merasa
tenang jiwa untuk bangkit mengatasi kelemahan
3.
Mampu
mulai dari langkah pertama
4.
Mampu
melangkah lebih jauh dan lebih besar
5.
Mampu
menunjukan indicator kesuksesan besar
Untuk prosedur terapi penjangkit kesuksesan ini yaitu:
1.
Analisis
kebutuhan terapi
2.
Tadabur
ayat
3.
Bermusyawarah
dan menyeru dengan hikmah
Inikator keberhasilan dari terapi ini diantaranya:
1.
Meningkat
dalam mentadaburi ayat
2.
Meningkat
kemampuann berpikir
3.
Meningkat
kemampuan dalam beraktivitas
4.
Mampu
melakukan hal kecil hingga besar
5.
Timbul
dalam dirinya membela kebenaran
BAB IX
TERAPI KESOMBONGAN
Sombong adlah penyakit yang dibawa oleh iblis. Kisahnya ketika
disurga tatkala Allah memerintahkanya untuk sujud kepada Adam, iblis menolak
karena merasa dirinya lebih mulia dari pada adam sehingga i=iblis membantah
perintah Allah. Karena sombong adalah penyakit yang disebarkan oleh iblis
sehingga para sahabat Nabi sangat berhati-hati akan sipat sombong ini. Karena
orang yang sombong akan dimusuhi oleh Allah.
Tidak ada dampak positif dalam kesombingan, yang ada hanyalah
dampak negative. Adapun dampak positif hanya ada dalam sifat tawadu. Tawadu
adalah kebalikan dari sifat sombong. Sombong adalah penyakit hati. Dampak yang
terbesar adalah diakhirat nanti ia akan dilemparkan ke dalam neraka. Di dunia
pun akan mendapatkan kehidupan seperti neraka yang jauh dari kata bahagia dan
nyaman. Adapun tanda orang yang sombong diantaranya:
1.
Suka
pamer
2.
Tidak
mau mengalah dan tidak mengakui kekalahan
3.
Tidak
mau mengakui kesalahan
4.
Tidak
mau dianggap rendah
5.
Tersinggung
jika tidak disebut gelarnya (merasa tidak dihormati)
6.
Hatinya
mati
7.
Tidak
disenangi orang-orang.
8.
Cinta
dunia
Tujuan dari terpi kesombongan adalah:
1.
Mempasilitasi
individu untuk menyadari adanya sifat ujub
2.
Mengenali
sifat sombong
3.
Melatih
agar bersifat tawadu
Prosedur terapi kesombongan yaitu:
1.
Analisis
kebutuhan terapi
2.
Tadabur
ayat
3.
Bermusyawarah
dan menyeru dengan hikmah
4.
Azzam
dan tawakal
Indicator keberhasilan:
1.
Meningkat
dalam tadabur ayat
2.
Meningkat
khusu dalam salat
3.
Meningkatkan
daya ingat
4.
Meningkat
dam social
BAB X
TERAPI KEDENGKIAN
Dengki sudah dibahas dalam bab II. Dengki menurut Al-Gazali ada dua
macam penyakit dengki yaitu: prtama, dengki atas nikmat yang diperoleh
orang lain. Dua, iri melihat kelebihan orang lain. Dengan demikian
sasaran terapi ini adalah aspek spiritual. Dengan begitu sasaran terapi ini
adalah penyembuhan sisi emosional, spiritual dan moral. Adapun tujuannya
adalah: pertama, mempasilitasi konseling menyadari kedengkian dalam
dirinya. Kedua, mempasilitasi menggali factor penyebab. Dan ke tiga,
konseling menerima dirinyam kehidupan dirinya dan orang lain tanpa syarat.
Prosedur terapi yang dilakukan adlah:
1.
Analisis
kebutuhan terapi
2.
Tadabur
ayat
3.
Bermusyawarah
dan menyeru dengan hikmah
4.
Azzam
dan tawakal
Indicator keberhasilannya adalah:
1.
Mentadaburi
ayar tentang dengki
2.
Meningkat
kesadaran diri
3.
Meningkat
kemampuan untuk mengatasi rasa iri yang muncul
BAB XI
TERAPI KESERAKAHAN
Tamak adalah sikap yang dimiliki seseorang dimana dirinya selalu
tidak merasa puas akan sesuatu. Sifat rakus ini sudah menjadi watak bani adam.
Artinya telah melekat pada watak manusia. Dalam salah satu haduts dijelaskan
bahwa mencari harta itu dioerbolehkan selagi tidak serakah artinya menghalalkan
segala cara demi mendapatkan apa yang diinginkan.
Berikut ini adlah dampak buru dari tamak dalam harta:
1.
Sering
stress karena selalu merasa tidak cukup
2.
Menghinakan
diri Karen mengharapkan lebih
3.
Sedih
jika yang diingikan tidak didapatkan atau yang dicintainya hilang
4.
Di
akhirat neraka menanti orang-orang yang bersikap tamak
Tujuan dari terapi adalah mempasilitasi agar ki=onseling menyadari
sikap serakah, sehingga konseling menyadari bahwa kekayaan yang sesungguhnya
dari hati, konseling dapat keseimbangan dalam manajemen hidup dan dapat
menerimanya tanpa syarat.
Prosedur terapi yang dilakukan:
1.
Analisis
kebutuhan terapi
2.
Tadabur
ayat
3.
Bermusyawarah
dan menyeru dengan hikmah
BAB XII
TERAPI KESEDIHAN
Menurut Al-kindi dan Al-Razi, kesedihan dan keedukaan merupakan
gangguan psikis yang terjadi pada saat kehilangan yang dicintai atau yang
diinginkan. Bagi mereka menyembuhkan dan memperbaiki penyakit psikis lebih
harus di utamakan dari pada menyembuhkan penyakit pisik. Sebab menurutnya tindakan pisik ada karena
tindakan jiwa.
Menurut Al-Kindi ada dua kecintaan yang diinginkan manusia, peretama,
keinginan dan kecintaan terhadap duniawi atau bersifaat pisik. Ke dua, kecintaan
yang bersifat rasional sepeti ingin abadi. Begitupu Al-Kindi membagi kesedihan
dalam dua bagian: pertama, bersumber pada diri sendiri. Misalnya keinginan
pada haliyah duniawi yang dicintainya tidak tercapai. Dan ke dua,
bersumber dari orang lain seperti di fitnah, dicaci, di maki dan sebagainya.
Kesedihan menimbulkan efek pada pisik, psikis dan social.
Diantaranya:
1.
Gejala
fisik, seperti: insomnia, terlalu sakit, berprilaku pasif dan suka menyendiri
2.
Gejala
pasikis, seperti: kehilangan rasa percaya diri, sensitive (mudah mengaitkan
segala sesuatu yang negative dengan dirinya) merasa tidak berguna, merasa
bersalah, dan perasaan terbebani.
Tujuan teapi adalah sebagi mempasilitasi konseling untuk mengenali
factor-faktok kesedihanya, musibah yang dialami meupakan takdir Allah dan
mempasilitasi supaya konseling mendapat ketenangan dan dapat beraktifitas lagi.
Terapi ini fokusnya pada aspek spiritual, kognitif dan psilaku dengan prosedur
terapi sebagai berikut:
1.
Menganalisa
keperluan terapi
2.
Tadabur
ayat
3.
Musyawaarah
dan menyeru dengan hikmah
a.
Musyawarah
tentang ketentuan musibah
b.
Menginfrintasi
kesedihan
c.
Latihan
untu mengatasi kesedihan
d.
Belajar
dari kisah melalui logo drama
e.
Kunjungan
ke rumah sakir
f.
Latihan
munajat
4.
Azzam
5.
Tawakal
Uuntuk indicator keberhasilan:
1.
Merasa
tenang dan tingkat kesedihan mrnurun
2.
Dapat
berpikir lebih jernih
3.
Meningkatkan
kemampuan konseling untuk hidup moderat, ridha, dan meningkatkan aktivitas serta
tugas hidupnya