Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan

Diajari Ngaji Oleh Jin


Sejak kejadian si Ucun viral di lingkungan asrama hingga menyebar ke luar asrama, dan akhirnya kejadian itu sampai ke telinga Bang Edy. Satu minggu dari kejadian itu Bang Edy datang ke asrama nengokin juniornya, kebetulan kami itu merupakan junior yang sangat dia kenal sebab kami pernah berada dibawah bimbingannya. Setelah Bang Edy berkeliling nengokin para juniornya kamipun jalan-jalan melihat suasana asrama yang belum banyak berubah setelah ditinggal oleh Bang Edy.
Kami berjalan menyusuri asrama seperti sedang berpatroli kelliling hingga akhirnya tiba di tempat yang biasa dulu kami nongkrong yaitu di warung bang Jagur, saya gak tahu siapa nama asli dia cuman dia dikenal dengan nama Jagur sejak dahulu kala bahkan sebelum kami memasuki asrama namanya sudah Jagaur. Seperti biasa dIwarung itu kami memesan kopi dan rokok, kami duduk melingkar sambil ngobro di saung yang seperti gazaebo tapi nyambung dengan warung.
Awalnya obrolan ringan seperti apa kabar di asrama, lalu apa yang berbeda dengan yang dulu terus gimana kondisi anak asrama yang sekarang dan lain-lain. Tiba-tiba Bang Edy bertanya tentang keributan yang terjadi pada malam itu tentang si Amin dan si Ucun yang hampir ribut, lalu si Mz menjelaskan kronologi kejadian yang terjadi di malam itu. Bang Edy cuman ngangguk-ngangguk saja, tak lama kemudian tertawa kecil sambil puas-puasin kami karena mengalami hal itu. Bang Edy bercerita ternyata dahulu ketika Bang Edy masih di asrama dan waktu itu kami belum ada di asrama, kejadian seperti itu pernah terjadi pada temannya Bang Edy, tetapi tidak sampai dilempar juga kata Bang Edy.
Ketika Bang Edy di asrama, dia satu kamar bersama Iwa, Wandy dan Idin. Mereka berempat sangat kompak dan kemana-mana selalu bersama, mereka orangnya tengil-tengil tetapi mereka bertanggung jawab, dan mereka juga pinter-pinter dalam pelajaran, cuman mereka selalu dipandang pembawa onar sebab kemanapun mereka pergi selalu ada cerita yang menarik untuk diperbincangkan, mereka juga dikenal empat sekawan karena kekompakannya dan kenakalanya.
Suatu hari ngaji di liburkan karena keluarga Pak Kyai sedang ada urusan keluar kota. Namun meskipiun ngaji diliburkan setiap jadwal mengaji mereka berempat tetap masuk kelas dan belajar bersama mengulang pelajaran yang sudah diajarakan. Yang lain akhirnya mengikuti sebab mereka malu kalah rajin sama anak-anak yang dipandang nakal. Setelah belajar bersama sekitar jam Sembilan, si Iwa pergi ke warung Jagur secara diam-diam. Dan mereka bertiga sudah tahu pasti kalua tidak ada di asrama pasti pergi ke warung Jagur. Akhirnya mereka mengikuti ke warung Jagur. Sejak Pak Kyai pergi tadi sore Wandy kelihatan lebih pendiam sehingga Bang Edy, Iwa dan Idin merasa heran, takutnya Wandy lagi sakit, tapi setelah ditanya wandi gak kenapa-napa.
Tak teraasa waktu begitu cepat berlalu, “ngantuk nih balik yu” kata Idin pada mereka bertiga. “Lah baru jam segini, lagian mendingan nginep dIwarung sajalah toh besok kan libur” kata Wandy yang kelihatan gak mau pulang. Idin maksa pulang dan Wandy maksa nginep di warung, “ya udah kita pulang tapi kita nyantai dulu lah” kata Wandy masih gak mau pulang. “lo kenapa sih wan hari ini lo kelihatanya aneh banget” kata Bang Edy penasaran. “gak ada apa-apa beneran dah, cuman rasanya gua merasa gak nyaman tinggal di asrama sejak Pak Kyai pergi, gua takut dy” Wandy mencoba menjelaskan keresahanya. “ya udah kita tidur di masjid gak usah terpisah biar kalua ada apa-apa lo bias langsung bangunin kita” Idin mencoba meyakinkan wandi agar mau pulang ke asrama. Setelah di bujuk akhirnya mereka pergi tidur ke masjid asrama.
Seperti yang di bilang Idin mereka tidur di masjid secara berdekatan. Tengah malam telah berlalu akhirnya mereka terlelap tidur. Sekitar jam setengah dua pagi wandi terbangun dan melihat Pak Kyai duduk sila di tempat imam sambil membaca kitab kuning, serentak dia bangun dan langsung bergegas mau bangunin teman-temannya sebab sudah kebiasaan kalua Pak Kyai sudah duduk di tempat imam artinya sudah hampir subuh. Tapi pas Wandy mau membangunkan teman-temanya wandi melihat Pak Kyai menhangkat tangan mengisyaratkan jangan bangunkan mereka, lantas Wandy melihat jam masih jam setengah dua pagi biasanya paling pagi pun Pak Kyai kemesjid jam empat atau setengah lima pagi sebab Pak Kyai selalu shalat tahajud di rumah dan kemesjid untuk berjamaan shalat subuh. Tapi Wandy tak banyak Tanya ia segera bergegas ke kamar mandi bersih-bersih dan segera berwudu.
Wandy segera masuk masjid kembali, tanpa di perintah Wandy langsung shalat tahajud lalu Wandy duduk berhadapan dengan Pak Kyai hanya terhalang meja kecil tempat kitab kuning. Setelah mereka duduk berhadarapan Pak Kyai nyuruh Wandy membuka kitabnya kemudian Wandy mengikutu yang diperintahkan Pak Kyai. Wandy diwjari ngaji sampai jam tiga pagi, kemudian Pak Kyai nitippesan jaga anak-anak yang lain, jangan sampai libur ngaji gara-gara Pak Kyai tidak di asrama. Stelah berpesan, kemudian Pak Kyai keluar dari masjid menuju rumahnya, tetapi subuhnya pak sampai pagi Pak Kyai gak ada kemesjid maupun ke kelas, Wandy merasa sangat aneh tetapi dia gak mau ngomong sama yang lain takut dia jadi disalahkan.
Malam berikutnya Wandy mengalami kejadian seperti malam sebelumnya, dan malam kedua wandi diajari ngaji lagi meneruskan pengajian sebelumnya. Kejadian itu berulang hingga hari ke empat. Di hari ke empat Wandy ngajinya selesai lebih awal, jam setengah tiga wandi sudah beres ngaji dan Wandy pun seperti biasa disuruh kembali tidur. Setelah Pak Kyai keluar dari masjid Wandy bangun niatnya mau nyelidiki Pak Kyai karena merasa heran tapi wandi pikir gak sopan menaruh rasa curiga pada gurunya sendiri, Wandy takut kecurigaanya menjadi penghalang bagi dirinya untuk mendafatkan ilmu yang bermanfaat.
Ditengah kebimbangan Wandy merenung du teras depan masjid sendirian. Tak lama terlihat cahaya lampu mobil dari kejauhan dan ternyata itu mobil rombingan keluarga Pak Kyai. Wandy bergegas keluar dari masjid dan menyambut kedatangan Pak Kyai dan keluarga. Pak Kyai dengan raut wajah cape bertanya kepada Wandy, “kamu kenapa masih belum tidur, ini sebentar lagi waktunya bangun tahajud bersama” kata Pak Kyai dengan nada menasehati. “Kan saya baru selesai ngaji tapi saya gak bias tidur lagi” kata Wandy menjawab Pak Kyai. Pak Kyai sedikit heran kemudian bertanya lagi pada Wandy “ngaji apan kamu ko sampai jam segini, kamu harus istirahat biar jam empat kamu bangun segar, tahajud bersama, shalat subuh kemudian ngaji dengan pikiran yang masih segar” Pak Kyai menjelaskan. Wandi merasa heran soalnya yang nyuruh dia ngaji kan Pak Kyai tapi sejarang Pak Kyai malah bicara seperti itu, tapi dia tak berani jawab lagi, Wandy hanya mengangguk dan kembali kedalam masjid.
Setelah shalat subuh lalu Pak Kyai ngajar ngaji dan waktu ngajinya di percepat, setelah beres ngaji yang lain disuruh mudzakarah (mengulangi bacaan kitab yang sudah diajarkan) dan Wandy bersama tiga temannya disuruh kerumah Pak Kyai. Dengan rasa penasaran Pak Kyai kembali nanya Wandy “kamu selama ini ngaji apa saja, dari jam berapa sampai jam berapa?” pak kiyai seolah tahu ada yang tidak beres namun mencoba memastikan. Wandi menjelaskan kejadian selama empat hari yang menimpa dirinya. Lalu Pak Kyai kembali bertanya “lalu siapa saja yang suka ikut ngaji dengan saya itu selama tiga malam kebelakang? Edy, Iwa, Idin, kamu juga ikut ngaji?” Tanya Pak Kyai. “saya gak tau kalua Pak Kyai dan wandi suka ngaji tiap malam, saya pikir Pak Kyai sedang ke luar kota, tapi kalua Pak Kyai di asrama kenapa selama tiga hari ini saya tidak melihat Pak Kyai” kata Edy, Iwa dan Idin dengan penuh tanda Tanya. Pak Kyai masih penasaran kemudian menyuruh Wandy membaca yang diajarkan.
Setelah Wandy selesai membaca kitab yang diajinya selama empat malam itu kemudian Pak Kyai menjelaskan “dengarkan, kalian jangan kaget, saya ini pergi keluar kota selama tiga hari dan baru kembali tadi jam tiga pagi, jadi selama ini yang ngajarin wandi ngaji bukan saya, lagian mana mungkin saya ngajar ngaji tengah malam, bukan hanya kalian, saya juga perlu istirahat, lalu siapa yang ngajarin Wandy ngaji? Nah saya akan beri tahu pada kalian tapi kalian harus ingat kalian gak boleh cerita kepada penghuni asrama yang lainnya takutnya terjadi kehobohan dan mereka akan merasa takut jadi kalian harus berjanji tidak boleh ceritakan pada orang lain” Pak Kyai menuturkan.
Mereka berempat karena penasaran akhirnya mau berjanji, dan setelah mereka berjanji akhirnya Pak Kyai pun menjelaskan “sebenarnya dahulu kala ada sepasang suami istri yang tinggal di kebun yang sekarang di jadikan masjid, tapi mereka bukan dari bangsa kita, mereka bangsa jin. Ketika sedang merencanakan pembangunan masjid setelah mengukur dan mulai meratakan tanah saya di datangi mereka kedalam mimpi saya, selama tiga kali berturut-turut dan berkata kenapa tempat kami di gusur, krena mimpinya tiga kali berturut-turut itu artinya mimpi ini bukan sekedar kembang mimpi, malam besoknya saya ke tanah yang akan di bangun masjid dan berdzikir di tempat itu dan ternyata benar, saat tengah malam tiba-tiba mereka datang entah dari mana dengan wajah dan pakaian persis seperti yang ada dalam mimpi. Mereka unjuk salam dan saya jawab kemudian mereka bertanya kenapa rumah saya di gusur. Karena saya berdzikir tengah malam di tanah yang akan dibangun mesji ini karena berniat saya ingin membuktikan keberadaan mereka benar ada dan juga karena ingi menjawab yang mereka pertanyakan saya beranika berbicara baik-baik dengan mereka, akhirnya mereka menerima dengan suka rela rumah mereka di gusur dengan syarat mereka diijinkan tinggal di masjid dan diijinkan ikut ngaji dan berjamaah di masjid tersebut dan mereka berjanji tidak akan mengganggu apalagi mencelakakan penghuni asrama, malah mereka siap menjaga asrama agar tida ada yang berbuat jahat didalam asrama, kecuali ketika penghuni asrama melanggar aturan yang berat dia akan sedikit nakut-nakutin katanya dulu sambil tertawa menandakan dia ingin terlihat akrab” Pak Kyai menjelaskan secara detil dan berkata “kalua urusan Wandy gak usah takut toh dia datang dengan wujud saya dan yang diajarkan memang seperti itu sebab dia sudah ngaji kitab ini berkali-kali dari saya, mungkin karena Wandy anaknya rajin dia tahu dan kasihan kalua selama saya pergi Wandy gak ngaji, hebatbya sekarang Wandy selama di asrapa pasti mereka jagain Wandy” Pak Kyai berkata sambil tersenyum candain Wandy. Dan setelah itu mereka berempat menyimpat rapat cerita itu hingga Bang Edy yang ceritain hanya kepada kami berlima, itupun Bang Edy cerita pada kami sebab Bang Edy sudah yakin kami tidak akan ketakutang dengan cerita seperti itu dan menganggap cerita itu hanya penghangat suasana saja.

Dilemparkan Oleh Jin Penghuni Mesjid


Selang dua minggu lebih dari kejadian si Sanusi yang melihat tuyul dan genderewo, ada kejadian mistis lagi, tapi kali ini menimpa si Ucun penghuni kamar tiga, oh iya kami ini di asrama menghuni kamar satu, tempatnya paling pojok sebab kami orang yang suka brisik makanya sisatukan di kamar yang paling jauh. Nah kejadiannya malam itu jam 21:00 kami baru bubar ngaji lalu dilanjut belajar bersama di aula, kemudian tidur. Biasanya kami tidur di mesji, namun pada malam itu kami begadang di halaman masjid dibawah lampu merkuri sambil bakar ikan jadi masjid masih kosong, lampu masjid setelah selesai ngaji biasanya di matikan tapi malam itu masih nyala dan kami tengok ternyata si Ucun dan teman sekamarnya sedang berdiskusi entah masalah apa. Sekirat jam 12 malam teman-teman si Ucun pada keluar dari mesji kecuali si Ucun sendirian, katanya mau tidur di masjid.
Sekitar kurang lebih jam satu pagi, kami baru selesai makan, lalu duduk-duduk di kursi pojok halaman masjid. Lamu masjid sudah dimatikan dan suasana semakin sepi, hanya kami berlima dan masih bangun dan berada di luar. Baru saja mau menyalakan rokok yang kedua batang, terdengar keras suara hijab/pembatas area laki-laki dan perempuan yang terbuat dari triplek seperti dipukul keras. “Ah, tuh dengar si Ucun marah-marah gak jelas, mungkin dia stress” kata si Susanto. Saya Tanya “emang tu anak stress kenapa?” “ah paling dia di tolak cewe yang dia taksir kali” si Mz nyambung, lalu kami tertawa. Disaat kami tertawa si Ucun keluar dari masjid sambil berlari seperti kesetanan menghampiri kami dengan terengah-engah lalu duduk di diatas tanah.
Melihat si Ucun yang sangat ketakutan kami segera menenangkan dan ngasih dia minum supaya tenang. Setelah terlihat tenang kani nanya dia kenapa, bukanya jawab dia malah membentak dengan tatapan yang sangat marah “lah anjing, setan lo pada, candaan kalian makin kelewatan, gua gak masalah kalian mau jahil nakutin orang tapi gak sampai di lempar segala, kalua gua cedera emang kalian mau tanggung jawab” dia ngoceh dengan penuh amarah. Mendengar perkataan si Ucun dengan sikap tang tidak baik sontak si Amin naik pitam, “he anjing kita lagi duduk-duduk lo nyelonong datang kemari, lo ketakutan kita tenangin lo, sekarang lo nuduh kita yang nggak-enggak” sambil ngomong tangan kiri si Amin menjabak baju si Ucun dan tangan kanannya mau memukul, untungnya si Mz sama Si Sanusi dengan sigap melerai mereka. Lalu saya mencoba nenangin mereka berdua, “To, kita ini emang anak-anak nakal dan sudah terkenal hingga ke asrama putri, mereka sudah tahu kita nakal, tapi kita jiga bukan preman, jangan ngumbar amarah gitula To, toh kita nakal karena ingin menikmati bebas tanpa peduli aturan agenda asrama doing. Lo juga Cun, lo dating menghampiri kita lalu lo marah tanpa alesan, gua ngaku kita emang anak-anak nakal, tapi bukan berarti setiap ada kejadian semua bebas nuduh kita tanpa alasan, sekarang gua Tanya lo punya bukti apaan nuduh kita jahilin lo, sebab dari selesai ngaji kita belum masuk lagi ke masjid, sekarang lo datang marah-marah wajarlah kita marah karena tersinggung”. “emangnya lo kenapa Cun?” si Mz kembali bertanya dengan nada yang rendah biar gak pada emosi.
Setelah merasa tenang si Ucun pun bicara “Min gua minta maaf, gua emosi karena ketakutan, gua kita kalian yang jahil sebab disini hanya kalian yang belum tidur”, “udah gak papa Cun” si Mz yang jawab. “sebenarnya gua lagi tidur di masjid se area wanita deket hijab, baru saja gua mau pulas, tangan dan kaki dua dipegangin, diangkat kemudian dibanting ke deket hijab, gua kebangun karena sakit, tak berselang lama gua nyium bau kembang melati, benar-benar bau, tapi gua yakin pasti gua di jahilin, tapi yak ok niat juga sampe kasih bau-bau melati juga, dan ternyata pas gua bangun gua tengokon sekeliling mesjid gak ada orang, gak ada siapa-siapa di masjid, yah gua lari ketakutan, dan disini kalian pada ketawa makanya gua curiga kalian yang jahili gua” si Ucun kembali menuturkan kejadian yang dialaminya. “gak gitu Cun, kita baru beres makan lalu ngerokok sambil ngopi, tiba-tiba kedenger suara ada yang mukul hijab dengan keras, kita taunya cuman lo yang tidur disana” si Mz menjelaskan. “si susanto tadi bercanda katanya, tuh si Ucun marah-marah gak jelas mungkin lagi stress, gua sautin, setres karena ditolak cewe incaranya kali, lalu kita ketawa. Pas lagi ketawa lu datang sambil lari ketakutan gitu. Gitu ceritanya Cun” si Mz menjelaskan kejadian yang terjadi. Setelah itu si Ucun pulang ke kamarnya karena masih takut memasuki mesji.
Setelah si Ucun pergi si Amin ngomong lagi dengan nada masih kesal “ah tu orang dapat azab tuh karena keseringan pacaran di lingkungan mesjid, mungkin jin penunggu mesjid marah, untung tu orang gak dimasukin botol sama si jin” mendengar omelan si Amin bukannya kesel malah jadi lucu, mana ada orang di masukin ke botol mineral, si Amin otaknya tambah gesrek. Dari obralan mengenai kejadian si Ucun akhirnya merambat kemana-mana. Tak terasa waktu berlalu, ternyata jam sudah menunjukan jam 03:30, kami pun berkeliling sambil memukul-mukul kentongan membangunkan semua anak asrama untuk melaksanakan shalat tahajub bersama, dan tidak berselang lama, siangnya cerita kejadian malam tadi menyebar dari mulut kemulut hingga heboh.

Pengalaman Melihat Tuyul dan Genderewo


Waktu itu saya masih duduk di bangku Mts dan saya tinggal di asrama dengan empat teman dekat saya yang kemana-mana selalu bersama terutama dalam hal kenakalan dan bolos dari asrama, entah siapa yang mulai tapi obrolan tengah malam pada waktu itu mengarah pada hal-hal mistik. Pada dasarnya saya percaya dan yakin akan adanya makhluk ghaib atau astral atau makhluk yang tak kasat mata, metafisika atau makhluk supranatual ini, tapi saya tak pernah mengindahkan ketika orang bebicara mengenai makhul astral dan manusia dapat saling bergesekan atau bersinggungan seperti kejadian yang menimpa teman saya yang bersama sanusi. Sore itu selepas salat magrib saya, Sanusi, Mz, Susanto dan Amin kabur dari asrama kemudian main ke ruamah Bang Edy, dia adalah senior kami ketika beliau di asrama. Kami pulang dari rumah Bang Edy lewat tengah malam dan sampai di asrama sekitar jam 01:30 pagi.
Sesampainya di asrama, sisanusi bergegas ke sumur belakang asrama untuk cuci muka dan sikat gigi karena dia sudah ngantuk banget kelihatannya, dia keluar sendiri dan selang beberapa menit kami mendengar teriakan si sanusi di belakang asrama. Saya, Mz, Susanto dana min yang sedang asik ngobrol sambil ketawa-ketawa sontak terdiam kemudian berlari ke belakang asrama, takutnya si Sanusi jatuh atau apalah. Namun sesampainya di belakang asrama saya lihat si Sanusi berdiri mematung sambil menunjuk kearah pohon alpukat dengan mata melotot dan mulut menganga. Kami kaget kemudian saling lihat lalu melihat kea rah si Sanusi nunjuk. Si Sanusi masih tidak bergerak dan saat kami Tanya ada apa, dia tidak menjawab. Si Sumanto dan Amin bergegas ke arah yang ditunjuk si Sanusi takutnya ada maling atau hewan buas atau apapun yang membahayakan manun mereka tidak menemukan apa-apa.
Pada saat si Sumanto dan amin sedang mencari di dekat pohon alpukat, saya rangkil si sanusi sambil bertanya “ada apaan sih san” ketika tangan saya menyentuh bahunya Sanusi langsung pingsan. Kami semua sontak kaget dan takut Sanusi kenapa-kenapa, kami langsung gotong ke dalam asrama dan berusaha membangunkan Sanusi dengan minyak angina. Setelah sekitar 15 menit kemudian akhirnya Sanusi bangun dan melihat kami dengan wajah yang sangat ketakutan, kami pun mencoba menenangkan dia, dan setelah Sanusi mulai tenang baru lah kami nanya ada apa? Ternyata Sanusi paslagi gosok gigi sambil melihat ke araah pohon alpuket dia melihat anak laki-laki botak secang asik bermain sendiri, mulutnya berdarah dan memiliki taraing, dan dia juga melihat makhluk yang lebih menakutkan yaitu sosok yang tinggi besar, hitam dan matanya melotot dan wajah yang sangat menakutkan, dan yang lebih menakutkan makhluk itu sedang duduk di dahan pohon yang kecil tetapi dahan itu tidak patah, seharusnya menurut logika dahan itu pasti patah jika diduduki makhluk dengan ukuran seperti itu.
Mendengar penuturan Sanusi seperti itu kita semua hanya tersenyum lalu ketawa lepas sampai yang lagi tidur di kamar sebelah pada bangun, karena pada saat itu kejadian itu merupakan hal yang sangat lucu ternyata Sanusi segitu penakutnya sampai-sampai berhalusinasi seperti itu. “udah san lo sekarang tidur biar kami berempat yang jagain lo, lo gak usah takut” kata Susanto sambil bercanda. Saya lihat wajah Sanusi marah kaarena kami tidak percaya apa yang dia omongkan, apalagi kejadian itu malah jadi bahan candaan untuk meledekin Sanusi.
bersambung...

Selanjutnya...

Perjalanan Spiritual


Sebenarnya saya gak tahu apa ini bias disebut dengan cerita mistis atau tidak, cuman yang pasti cerita ini masih berhubungan dengan makhluk supranatural. Saat itu saya masih duduk di kelas tiga SD, jauh-jauh hari sebelum memasuki bulan Ramadan ada seseorang praktisi spiritual datang berkeliling ngasih tahu orang-orang di daerah saya supaya mulai tanggal satu Ramadan sampai lebaran, anak-anak dijagain supaya jangan main ke jalan raya sebab di bulan Ramadan ini dia memiliki sebuah predikisi bahwa aka nada kejadian yang kurang mengenakan terjadi dijalan raya dengan batas wilaya antara titik A hingga titik B dengan jarak sekitar 1,3 Km.
Pada waktu saya masih SD, waktu itu daerah saya masih kental dengan mistis-mistis sehingga anjuran dari praktisi spiritual itu di turuti, sehingga pas h-2 ramadan para orang tua sudah melarang-larang anaka-anak main ke jalan raya. Minggu pertama tidak ada kejadian apa-apa, masuk ke minggu ke dua, keadaan maasi aman dan gak ada apa-apa. Masuk ke minggu ke tiga tepatnya tanggal 17 ramadan, waktu itu sore hari sepulang sekolah diniyah saya pulang ke rumah kemudian saya solat ashar. Setelah shalat ashar yang saya ingat saya main sepedahan di sekitar rumah saya, karena bosan sayapun pergi sepedahan ke dekat lapang voly dekat rumah saya sebab disana banyak anak-anak ngumpul bermain, saya pun main sepedahan di lapang volley dengan yang lainnya sambil balap-balapan.
Entah gimana carana, saya gak begitu ingat, cuman saya ingat betul sadar-sadar saya lagi bawai layangan milik seorang pemuda, dia adalah tetagga saya menuju jalan raya sebab para pemuda main layangannya suka di pinggir jalan raya supaya bias diadu dengan kelompok yang main layangan dari sawah, jadi mainnya di jalan raya yang dimana jalan raya tersebut adalah wilayah zona merah menurut si praktisi spiritual itu. Awalnya biasa saja, saya dan si pemuda itu berjalan di pinggir jalan raya sebelah kiri, lalu saya gak ingat, nyadar-nyadar saya jalan jadi di sebelah kanan jalan raya. Karena tempat main layangan ada di sebelah kiri jalan raya, maka mau tidak mau saya harus nyebrang. Pada saat saya nyebrang pas di tengah-tengah jalan raya tiba-tiba pandangan saya gelap kemudian saya melihat satu jengkal depan dan belakang saya penuh dengan kendaraan bermotor, jalan raya padat sekali seperti padatnya jalan raya pas mudik lebara namun bedanya kendaraan-kendaraan itu lajunya sangat kencang meski jalanan sangat padat.
Karena yang saya lihat depan belakang saya padat dengan kendaraan yang berjalan ngebut akhirnya saya cuman bisa berdiri di tempat sebab kalau maju saya pasti ketabrak mundurpun juga pasti ketabrak jadi saya diam di tempat. Tak lama setelah saya melihat situasi seperti itu tiba-tiba pandangan kembali terasa gelap, kemudian saya sadar dengan perlahan saya membuaka kedua maya saya ternyata saya sedang terbang kemudian berguling sekitar 7m jauhnya. Disaat saya terguling-guling karena terlempar jauh saya bisa melihat sosok kakek tua yang sangat sepuh terlihat dari rambut kepala, alis, kumis dan janggut panjangnya sudah berwarna putih semua. Kake itu berpakaian seperti pendekar di film-film dengan jubah yang serba putih dia berdiri sambil memegang tongkat kayu dengan tangan kanannya. Aya berguling menuju kearahnya dan saya langsung dipangku seperti seperti memangku anak yang pingsan.
Setelah saya berada didala pangkuan si kake saya kembali gak ingat lalu sadar-sadar saya berada di dalam mobil engke atau mobil truk yang ukuran kecil menuju puskesmas terdekat. Saya diperiksa, tidak ada luka serius, cuman di kedua sikut, lutut kiri dan kedua mata kaki saya berdarah karena luka gores. Setelah dokter menyatakan saya gak pe rlu dirawat inap saya diantar pulanga dengan mobil yang sama dan saya dipangku oleh pemuda yang layanganya saya bawain tadi. Setelah sampai rumah, saha heran banyak orang berkumpul dan melihat ibu saya wajahnya seperti yang barusaja menangis, dia langsung periksa keadaan saya lalu saya disuruh buka dan saya masih gak mau buka soalnya pikiran saya ya sayang, tanggung tinggal beberapa menit lagi. Setelah selesai buka puasa si sopir yang bawa mobil ngomong sambil meneteskan air mata, dia mita maaf karena telah menabrak saya dia minta maaf kepada saya dan kedua orang tua saya. Karena si sopir truk kecil ini bertanggung jawab dan ini juga merupakan kecelakaan akhirnya kami memaafkan. Saya baru nyadar kala saya tertabrak mobil dan mental terlempar hingga 7 meteran setelah saya buka puasa mereka baru bilang bahwa saya tertabrab mobil yang saya tumpangi itu.
Orang yang melihat kejadian itu, mereka berpikir bahwa saya sudah mati, kepala saya pecah dan tubuh saya sudah tidak utuk, begitupun orang yang jauh dari jalan raya mendengar suara yang sangat keras, kemudian dikasih tahu bahwa saya tertabrak mobil, mereka langsung mengira bahwa saya pasti langsung mati sebab mereka mikirnya “suaranya saja sampai kedengeran kesini pasti ketabraknya sangat keraas” tapi nyatanya saya hanya terluka di bagian sikut, lutut dan mata kaki. Hari esoknya saya tidak berpuasa karena ada obat dari dokter yang harus dimakan tiga kali sehari, dan di hari esoknya pula saya baru merasakan sakit di baha kanan seperti yang keseleo, dan kagetnya pas saya pegang kepala bagian belakang saya, ada bagian kepala yang empuk seperti tanah liat, ketika sedikir di pencet ya kepala saya kentob.
Di sore harinya orang yang memprediksi bakal ada kejadian yang tidak mengenakan inipun datang berkunjung menengok saya. Mereka mengobrol dengan ayah saya, dia bilang saya diselamatkan seorang kake yang sangat sakti, tapi kakek itu tidak bisa dilihat oleh mata orang-orang. Saya mendengar obrolan itu sontak saya nyambersaja, saya bilang kejadian yang saya lihat dan ternyata ciri-ciri yang saya omongkan persis seperti yang dia lihat. Waktu itu saya takjub sebab ada orang yang bisa melihat mimpi saya dengan sangat persis dan detil.
Kejadian di bulan ramadan ternyata tidak berhenti di saya, ternyata pada tanggal 28 ramadan ada seorang anak, dia juga seering bermain dengan saya cuman beda kampung namun masih satu RW lah dengan dia, masih bisa dibilang satu kampung juga. Dia juga mengalami kecelakaan di jalan raya dengan lokasi masih di zona merah tersebut. Dia tetabrak motor tapi untungnya badan si anan ini keburu sedikit tertarik oleh neneknya jadi ketabraknya gak begitu parah. Walaupun begitu luka dia lebih parah dibanding saya, wajahnya baret, tangannya patah dan berdarah karena gesekan dengan aspal, punggung dan kakinyapun juga berdarah terutama di bagian kaki, lukanya agan sedikit dalam. Logikanya, dia tertabrak motor dan gak begitu kencang sedang saya tertabrak mobil yang sedang ngebut bahkan saya sampai terlempar jauh, tapi luka lebih parah si anak yang ketabrak motor. Tapi apapun itu kami masih bersyukur dengan kejadian itu kami masih diberi hidup sampai saat ini. Kejadian itu hanyalah kecelakaan, musibah atau sekedar jian, yang pasti saya sangat bersyukur bahwa saya masih diberikan hidup sampai saat ini.
Diluar kejadian yang menimpa saya, yang saya heran dengan seorang praktisi spiritual yang bisa memprediksi akan ada kejadian yag tidak mengenakan itu, yaitu saya dan satu teman saya dapat ujian kecelakaan teertabrak kendaraan. Dan yang lebih membuat saya heran si praktisi spiritual itu bisa menebak mimpi saya. Tapi kalau sekarang saya pikir itu adalah kemampuan spiritual yang bisa menembus dinding dimensi alam ghaib sehingga dia bisa melihat saya  yang dipangku oleh kakek itu, dan saya pikir waktu itu mungkin saya dalam dalam kondisi yang abnormal sehingga  saya bisa memasuki frekuensi yang sama dengan frekuensi dimensi ghaib sehingga saya bisa masuk kedalam dimensi alam gaib tersebut difase saya sedang keritis. Mungkin tak jauh berda seperti yang digambarkan oleh film dimana seseorang yang koma kemudian ruhnya keluar dan keluyuran melihat apa-apa seperti melihat dengan matamua sendiri. Kalau orang-orang dikalangan praktisi spiritualis mereka menyebutnya dengan istilah raga sukma (dalam bahasa sunda) atau rogo sukmo (dalam bahasa jawa) intinya sukmanya keluar dari tubuhnya tetapi apa yang dialami oleh sukma itu seolah dialami oleh dirinya secara sadar, dan apa yang dia lihat, dia dengar, dia sentuh, dia rasakan adalah asli benar benar kejadian, cuman bedanya ketika sedang sadar itu dialami oleh raga beserta jiwanya tetapi ketika raga sukma yang mengalami hanya sukmanya saja.

Menghindari Virus Korona atau Melaksanakan Shalat Jum'at


Saat ini dengan merebaknya virus korona di seluruh dunia menyebabkan orang muslim galau salah satunya ketika hari jum'at. Di satu sisi umat Islam wajib melaksanakan shalat jumat tapi disisi lain serangan wabah virus akan mudah menular ketika banyak orang berkumpul baik itu diluar ruangan apalagi didalam ruangan, sedangkan shalat jum'at dilakukan dengan banyak orang, paling sedikit 40 orang dan dilaksanakan di dalam mesjid sehingga jika ada salah satu dari yang shalat jum'at itu terkena virus maka dalam kondisi banyak orang di dalam mesjid akan dengan mudah orang banyak itu terpapar virus. untuk mengantisipasi penyebaran virus ini maka pemerintah melarang melaksanajan shalat jum'at selama wabah virus ini belum selesai. lalu bagai mana dengan umat Islam yang memiliki kewajiban melaksanakan shalat jum'at?
Dalam fiqih ada yang disebut dengan ruhshah yang artinya keringanan, supaya bisa lebih memahami mengenai ruhshah tersebut, maka bacalah contoh kasus dibawah ini dengan seksama. contoh kasus:
1.      Dodo sedang berada di tengah hutan yang jauh dari perkampungan, benar-benar berada di tengah hutan dan tidak tahu jalan pulang. Dodo tersesat, dia terpisah dari rombongan sehingga terjebak di hutan belantara. Perbekalan makanan Dodo sudah habis beberapa hari yang lalu dan di hutan itu Dodo tidak dapat menemukan makanan yang bias dimakan, Dodo tidak menemukan buah-buahan, dedaunan yang bias dimakan kecuali seekor babi. Karena Dodo seorang Muslim, Dodo tahu bahwa daging babi itu hukumnya haram dimakan, tetapi disisi lain dalam kondisi Dodo saat ini, kalua Dodo tidak memakan daging babi tersebut, mungkin saja Dodo akan mati kelaparan. (Dalam kondisi kasus seperti ini, maka Dodo diperbolehkan memakan daging babi tersebut hanya sekadanya saja, sekedar untuk bertahan hidup bukan untuk makan karena ingin menikmati daging babi, sebab jika Dodo tidak memakan daging babi tersebut Dodo pasti mati).
2.      Udin sedang melaksanakan shalat dzuhur di masjid yang terletak di atas danau. Baru memasuki rakaat yang ke dua, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu berteriak minta tolong anaknya tenggelam di danau tersebut dan keadaanya tida ada orang lain di sekitar danau kecuali si Udin yang lagi shalat, kebetulan udin bias berenang juga. Udin tahu ketika sedang shalat fardu maka hukumnya haram membatalkan shalatnya, tetapi di luar sana ada seorang ibu meminta tolong anaknya tenggelam, kalua tidak segera di tolong anaknya pasti mati tenggelam. (dalam kasus Udin ini, haram membatalkan shalat fardu menjadi wajib membatalkan shalat fardunya, karena ada orang yang minta tolong, kalua tidak segera di tolong orang itu bias saja mati dan kebetulan udin bias menolong orang tersebut, maka udin wajib membatalkan shalatnya dan bersegera menolong orang tersebut).
Dari dua kasus diatas semoga bias jadi pertimbangan bagi saudara-ssaudaraku seiman yang lagi bingung karena melaksanakan shalat berjamaah dan juga jumatan atau apapun yang aktifitas ibadahnya dengan berkumpul orang banyak kini tidak lagi bisa melaksanakan aktifitas ibadah seperti biasanya dikarenakan kondisi sekarang sedang dalam keadaan darurat.
Hari ini juma’at 27 matet 2020, saya sendiri tidak melaksanakan shalat jum’at karena anjuran dari pemerintah dan MUI agar tidak melaksanakan shalat jum’at. Selain itu, saya sendiri juga takut boss, saya gak tahu jika saya jumatan apakah semua yang melaksanakan jum’atan itu terbebas dari virus atau ada yang terjangkit, dan saya gak mau terjangkit hanya karena saya ngeyel melaksanakan shalat jum’at. Saya pikir sekarang bukan wajib dan haram itungannya melainkan selamat atau sekarat, disamping itu keyakinan saya tuhan yang saya yakini tidak pernah memaksa hambanya menerjang bahaya demi beribadah kepadanya, tuhan yang saya yakini tidak sediktator itu, sebab tuhan yang saya yakini yakni Allah SWT itu maha bijaksana. Contohnya seperti dua kasus diatas, wajib dan haram jadi batal karena adanya madarat. Dan wabah virus saat ini bagi saya adalah sebuah madarat sehingga saya lebih memilih tidah melaksanakan shalat jum’at.
Saya tidak men-judge yang melaksanakan jum’atan itu nekad atau tolol, saya berhusnudzon saja mereka memiliki keimanan dan ketaatan yang lebih tinggi jauh dari saya, tetapi hemat saya ya jangan lah terlalu konyol sebab jika ada yang terjangkit yang rugi bukan hanya dirinya tapi orang lain juga ikut susah dan takut, paling tidak orang di sekitar rumahnya sepeti anak dan istri juga akan ikut terkena dampaknya. Jadi, untuk saat ini dalam keadaan yang mencekam seperti ini akibat wabah virus ini, berpikirlah secara bijak, jangan terlalu egois. Tuhan itu maha bijaksana, mengertilah supaya kau bias mendekatkan diri kepada tuhan, mamka kau harus bersikap dan berpikir secara bijaksana.

Harga sandal lebih mahal dari pada harga topi ataupun peci, padahal sandal dipake alas kaki. Berbeda dengan topi dan peci yang selalu ditempatkan di tempat yang paling tinggi. Kenapa fenomena ini terjadi?
Inilah keadilan tuhan yang harus kita renungkan supaya menjadi sebuah pembelajaran yang sangat bermanfaat. "kaki menopang beban yang sangat berat dengan posisi paling bawah sehingga memerlukan pengaman ekstra, dan tentu saja alat keamanan yang ekstra memiliki harga lebih tinggi daripada pengaman tingkat biasa seperti topi yang hanya mengamankan kepala dari terik sinar mentari". Intinya pelajaran yang harus kita jadikan pegangan adalah, tuhan menilai kita seberapa besar keinginan dan usaha kita untuk berbuat baik dan menjadikan diri lebih baik dan lebih baik lagi. Biarpun belum bisa menjadi baik asalkan tetap berusaha untun menjadi baik, maka usahanya sudah mendapat nilai lebih dari tuhan. Yang paling penting adalah istikomah, selalu kerjakan dan sedikt demi sedikit ditingkatkan..

PAMIT PERGI

PAMIT PERGI
Roni Ahmad Bulqini
18 juni 017 14:19


Waktu itu aku pamit pada semuanya untuk tak akan kembali
Waktu itu menatap menatap untuk tatapan yang terakhir kalinya
Namun disebrang mesjid nampak rembulan tersenyum tersipu
Entah kenapa dibalik senyumanya berderai air mata membasahi pipi sambil menatap kearahku
Masih terlihat jelas disela tatapanya dia kibaskan baju yang hendak ia jemur

Rasanya aku mendapatkan pesan yang sengaja ia sampaikan lewat binar mata dan manisnya senyuman disertai air mata
Dia menyuruhku untuk tetap diam disekitar matanya memandang
Sayang seribu sayang kala itu aku hanyalah boneka nafsu yang terus diseret hengkang kedunia liar
Kini si rusa kecil tengah diintai para pemangsa
Hanya meraih tawa dalam mimpinya yang dikunjungi si rembulan yang bulat nan putih berseri

KATANYA


KATANYA
Katanya kehidupan dunia itu sementara dan kehidupan akhirat itu selamanya, tapi orang terlalu sibuk menata kehidupan dunia dan melupakan kehidupan di akhirat kelak, orang terlalu terlena dengan tipu daya duniawi sehingga terlalu takut untuk mengunjungi kehidupan ukhrawi.

Katanya uang bukanlah segalanya, tapi banyak orang yang lebih memilih pertumpahan darah dari pada saling mengikhlaskan dan saling bersedekah, banyak sodara yang menjadi musuh paling dimurka, dan sebaliknya banyak musuh yang menjadi lebih dari sekedar sodara.

Katanya jangan sampai hubungan persahabatan hancur hanya karena satu orang yang jadi rebutan, namun nyatanya kecemburuan membutakan logika dan perasaan, sebuah ikatan yang sudah susah payah dibuat kian hancur berantakan, nyatanya lebih memilih gendering perang.

Katanya dengan ilmu nmanusia dapat berpikir bijak, tapi nyatanya penipuan makin merajalela, penebar kebohongan dan penistaan sumerbak dimana-mana.

Katanya iblis dan syetan itu penggoda umat manusia, namun nyatanya banyak orang yang mengalih profesi yang bertuankan mereka.

Katanya iblis dan syetan itu adalah musuh yang nyata, namun dalam banyak hal manusia banyak yang terlena untuk menjadi pengikutnya, mengikuti sifatnya, mengikuti tingkah lakunya, dan mengikuti ajaran-ajaranya.

Katanya semua manusia adalah sama, nyatanya semua manusia tak dapat bersama selamanya, hanya berbeda paham saja sudah saling mencerca, menganggap lebih hina dari anjing gila.

Tolong, ingatlah apa yang telah dipahami, inagtlah apa yang telah dirasakan, inagtlah apa yang pernah diucapkan, ingat akan janji-janji yang telah disepakati, iangat apa yang sedang dijalani, ingatlah jati diri yang sesungguhnya manusia sejati yang atas pertolongan illahi.

Kecewa dan penyesalan selalu menghantui, hanya saja menunggu kapan waktu yang tepat untuk berkunjung datang menghampiri, kemudian menari di ulu hati bersama mereka si tuan duka lara dan para nestapa.

Semua yang ada hanyalah cipta karya, kesedihan dan bahagia, murung dan ceria, timbul rasa ingin dimengerti dari pada mengerti, ingin dipahami dari pada memahami, itu hanya cambuk sang kusir untuk memicu kuda amarah supaya lebih liar, jadi tolong hati-hati dengan hati yang terlalu banyak misteri sehingga sulit dipahami.

Seorang kesatria sejati akan berlari menghindari sebuah pertikaian demi tercipta sebuah ketentraman sebuah ketenangan, seorang kesatria sejati takan pernah menjatuhkan pedang dan tameng walau terlempar kedasar jurang penderitaan, dan seorang kesatria sejati akan terus bangkit saat terjatuh di medan perang menghadapi dan melumpuhkan serangan terjangan nafsu amarah yang nyala membara, akan terus bertahan demi berkibar bendera kemerdekaan.
“JANGAN TERTIPU TIPU DAYA”


_Roni Ahmad Bulqini_

PERMASALAHAN

permasalahan itu bukan hanya masalah tapi masalah salah satu dari permasalahan

-PUTUS ASA TERBELENGGU-

                                           -PUTUS ASA TERBELENGGU-

Ingin rasanya pergi jauh dan sangat jauh sekali, dan terbang tinggi menembus kabut menembus tebalnya awan hitam, layaknya mereka yang hidup bebas tanpa ada bayang-bayang yang membelenggu.

Sungguh sangat iri rasanya pada burung-burung yang terbang tanpa ada halangan dan rintangan, iri kepada para ikan dilautan yang tak ada larangan dari batu karang yang berdiri kokoh terbentang, pada air gunung pun yang berjalan kebawah menuju sungai tanpa adanya hambatan, sungguh iri rasanya pada mereka pada riuhnya sang alam raya.

Semakin jeli menyaksikan semua itu semakin jelas rasanya putus asa menjelma dipangkuan, tak nampak lagi senyuman tulus tak terdengar lagi bingar suara derap langkah berpijak, hanya diselimuti rasa malu pada angin nakal mengusap tubuh, hanya diam membisu menyaksikan segala nyata, segala yang tak dapat berpaling darinya.

Ingin sekali melangkah bebas tanpa ada tali rantai di pergelangan kaki, melangkah bebas menentukan arah dan tujuan kemana harus berjalan, seorang pengembara hanya memiliki tempat hanya sekedar untuk singgah, tidak hanya sekedar duduk termenung menatap alam menari riang berpesta pora.


 karya: Roni Ahmad Bulqini

TAFAKUR TAMAN SURGA

TAFAKUR TAMAN SURGA
BULUQ

Dalam malam hening sepi
Diam meratapi sebuah mimpi
Duka yang giat dating menghampiri
Hingga tak sanggup tuk berlari kembali
            Semua dan segala kita yang jalani
            Setiap hari punya suka cita sendiri
Sampai mana pula kan terus mencari
Hanya keputusan akhir ditangan ilahi
Wajah bukan alasan orang jadi cinta
Raga tak mampu tuk berkata
Jiwa sakti terima apa yang ada
Hidup dengan jalan penuh luka-liku
Hanya mimpi yang berlalu
Hiasan dunia berakibat dan pilu
Ternyata itu peluru,
Bersarang diparu dan waktu jadi beku
Istana indah nan megah disurga
Incaran manusia tak beraga
Irama nada bahagia yang nyata pasti ada
Iman membenarkan atas semua
            Adakah yang igin berlari lepas landas
Ajak orang dekat tanda yang cerdas
Arah menuju tempat yang bebas
Surganya-surga buat mereka yang waras

TERDAMPAR

TERDAMPAR
BULUQ

Mulai terdengar hingar
Gelak tawa nan canda
Terlupa akan rumput liar
Diselimuti embun dan debu jalanan
Damai entah dimana ia berada
Bersembunyi tak ada lagi wujudnya
Dendam benih-benih petaka
Menghasut tak jemu menggoda
Berjalan dipadang gersang
Berperang untuk menang
Hancur lebur mulai terhapus
Tenang jiwa setenang air danau dipagi hari
Kerikil mulai terlihata
Daun pun berdiri menusuk langit
Saling menari dibelai angin
Menjelma riang tanda jiwa yang riang

DIACUHKAN

DIACUHKAN
BULUQ
Perahu tua dilautan
Terapung pasrah kelelahan
Belayan angin penuh harapan
Menyapu dirinya kedaratan
Kayu basah kian rapuh
Berjuang dari kikisan melepuh
Bangkit disaat terjatuh
Walaupun sudah tak lagi utuh
Lama tak kenal ombak menempah
Kini hanylah tumpukan sampah
Bersiap tuk dibakar dan musnah
Jasamu kini dibayar resah

DALAM KEMUNAFIKAN

DALAM KEMUNAFIKAN
BULUQ
Lelah rasanya bernaung dalam sandiwara
Hanya sebuah lamunan… hanya sebuah impian…
Rasanya ingin sekali kudekap erat kenyataan
Bersama canda, bersama tawa,.. bersama-sama  semuanya
            Kini bak mayat hidup ditengah keramayan…
Langkah yang lambat terbelenggu dan lumpuh
Lepaskan tawa paling keras saat mereka diam membisu,
Tak satupun mereka menyambut
Bosan dan cape kian menghampiri
Mulut berkoar mendongeng kisah bohong
Berganti muka bertopeng sejuta wajah
Hidupnya kinmi diambang lautan kemunafikan
            Semakin dipaksa untuk terus berjalan,
            Semakin terjatuh dalam tebing jurang
            Suka cita semakin Nampak kehampaan
            Inghin rasanya berdiri dikaki sendiri,
Dan akhiri apa yang sedang terjadadi