Tampilkan postingan dengan label konseling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konseling. Tampilkan semua postingan

Psikosis, rangkuman Tugas Kuliah

Psikosis adalah kondisi di mana penderitanya mengalami kesulitan untuk membedakan dunia
nyata dan dunia hayalan. Gejala yang muncul pada penderita psikosis berupa delusi atau waham
(ilusi yang terlihat seakan-akan nyata baginya), dan halusinasi. Sebagai contoh, penderita psikosis
akan memiliki anggapan bahwa dirinya seorang bintang film terkenal namun pada kenyataannya
tidak, atau melihat sesuatu yang pada kenyataanya tidak ada apa-apa.
Penanganan psikosis dapat dilakukan dengan pemberian obat dan psikoterapi. Jika tidak ditangani
dengan tepat dan segera, kondisi ini dapat berdampak pada kemampuan pasien dalam hidup
bersosial.
A. Penyebab Psikosis
Penyebab pasti psikosis belum diketahui. Memiliki pola tidur yang buruk, mengonsumsi alkohol
atau menggunakan ganja, dan mengalami trauma akibat kehilangan seseorang yang dicintai,
seperti orang tua atau pasangan, dapat menjadi pemicu munculnya kondisi ini. Psikosis juga dapat
dipicu oleh kondisi yang terjadi karena adanya gangguan pada otak, seperti:
1. Penyakit Parkinson
2. Penyakit Huntington
3. Tumor atau kista otak
4. Stroke
5. Penyakit Alzheimer
6. Epilepsi
7. Infeksi yang menyerang otak, seperti HIV dan sifilis
Pada kasus yang lain, psikosis dapat muncul sebagai gejala suatu penyakit. Penyakit tersebut
meliputi:
1. Skizofrenia
2. Depresi berat
3. Gangguan bipolar
B. B.Gejala Psikosis
Gejala yang muncul pada tiap orang dapat berbeda-beda, tergantung penyebab, usia, dan
keparahan kondisi. Seseorang yang mengalami psikosis akan memiliki gejala utama berupa
delusi dan halusinasi.
1. Delusi. Delusi atau waham adalah kondisi di mana seseorang memiliki keyakinan yang
kuat dan tidak dapat dipatahkan terhadap sesuatu yang tidak nyata, misalnya mempercayai
bahwa dirinya menderita penyakit yang mematikan, meskipun pada kenyataannya kondisi
orang tersebut sehat.
2. Halusinasi. Halusinasi adalah kondisi di mana seseorang mendengar, melihat, merasakan,
atau mencium sesuatu yang tidak ada dan tidak dialami orang lain, misalnya mendengar
suara orang berbincang ketika dirinya tengah sendirian di suatu tempat.
Pada anak-anak, aktivitas yang menggambarkan perilaku halusinasi, misalnya memiliki teman
imajinasi, bukan berarti merupakan gejala psikosis. Hal itu hanya suatu bentuk imajinasi anakanak,
serta merupakan tahapan yang normal dan tergolong wajar.
Selain delusi dan halusinasi, beberapa gejala lain yang dapat muncul ketika seseorang
mengalami psikosis, meliputi:
1. Sulit berkonsentrasi.
2. Gangguan tidur.
3. Gelisah.
4. Merasa curiga.
5. Gangguan berinteraksi dengan orang lain.
6. Berbicara melantur dan tidak sesuai topik.
7. Merasakan dorongan untuk bunuh diri.
8. Suasana hati menurun (depresi).
C. Diagnosis Psikosis
Dalam mendiagnosis, dokter akan melakukan pengamatan terhadap perilaku pasien, dan bila
memungkinkan, menanyakan gejala yang dirasakan. Pengamatan yang dilakukan meliputi
pengamatan orientasi, fisik, ingatan, bahasa, dan cara pasien memecahkan sebuah
permasalahan. Pengamatan tersebut juga berfungsi untuk mencari tahu penyebab psikosis.
Pemeriksaan pencitraan, seperti foto Rontgen atau CT scan, juga dapat dilakukan dalam
mendiagnosis kondisi pasien. Hal ini biasanya dilakukan apabila terdapat kemungkinan
psikosis disebabkan penyakit yang diderita pasien, seperti tumor otak.
D. Pengobatan Psikosis
Penderita psikosis harus segera mendapatkan penanganan. Apabila psikosis tidak segera
ditangani, gejala yang ada akan semakin memburuk dan berdampak pada kemampuan pasien
dalam menjalin hubungan sosial, baik dalam lingkungan tempat tinggal mau pun pekerjaan.
Pengobatan psikosis pun berbeda-beda, tergantung penyebab yang menyertainya. Dalam
menangani pasien psikosis, dokter jiwa atau psikiater akan menganjurkan obat-obatan atau
terapi tertentu yang sesuai dengan kondisi.
1. Pemberian obat-obatan.
Dokter dapat memberikan obat golongan antipsikotik, guna mengontrol gejala yang ada.
Pemberian obat-obatan ini harus dengan anjuran dokter, karena dosis pada tiap orang
berbeda-beda, serta disesuaikan dengan usia dan kondisi pasien.
2. Psikoterapi.
Terdapat beberapa psikoterapi yang dapat dilakukan dalam menangani psikosis. Terapi
tersebut juga dapat menggunakan obat-obatan antipsikotik untuk memaksimalkan
pengobatan yang dilakukan. Terapi tersebut meliputi:
a. Cognitive behavioural therapy (CBT).
CBT atau terapi perilaku kognitif adalah bentuk psikoterapi yang dapat dilakukan
dalam menangani psikosis. Dokter akan mengarahkan pasien untuk mengerti dan
memahami kondisi yang dideritanya. Hal ini bertujuan agar pasien mampu
mengendalikan gejala yang ada.
b. Dorongan orang dekat.
Dorongan dari keluarga atau orang dekat dapat menjadi terapi yang efektif. Penderita
psikosis dapat mengeluhkan kondisinya kepada orang yang dipercaya. Hal ini akan
menumbuhkan semangat pada pasien untuk mampu mengendalikan gejala.
c. Komunitas penyakit.
Penderita psikosis juga dapat mencari pemahaman tentang kondisinya, baik cara
mencegah atau meredakan gejala, dengan bergabung dalam komunitas yang memiliki
kesamaan latar belakang.
d. Dokter juga dapat menyuntikan obat penenang apabila gejala yang muncul tergolong
berisiko dan dapat melukai pasien sendiri atau orang lain.
E. Komplikasi Psikosis
Komplikasi yang dapat muncul berbeda-beda, tergantung penyebab yang mendasari timbulnya
psikosis itu sendiri. Komplikasi juga dapat muncul karena efek samping pengobatan yang
dijalani. Namun, pada kasus tertentu, kondisi ini dapat menimbulkan keinginan untuk
menyakiti diri sendiri atau bahkan orang lain. Segera temui dokter apabila menemui orang
yang dicurigai mengalami gejala psikosis, agar kemungkinan komplikasi dapat diminimalkan.
F. Pencegahan Psikosis
Belum ada metode pasti yang dapat mencegah munculnya psikosis. Namun, risiko terjadinya
gangguan ini dapat dikurangi dengan upaya-upaya pencegahan terhadap faktor yang dapat
memicu psikosis, seperti dengan tidak mengonsumsi alkohol, atau dengan melakukan latihanlatihan
relaksasi guna menghindari stres dan depresi.

Neurosis, Rangkuman Tugaas Kuliah

Neurosis sering juga disebut dengan istilsh psikoneurosis (untuk membedakannya dengan psikosis
atau penyakit jiwa). Menurut Singgih Dirgagunarsa (1978: 143), neurosis merupakan sebuah
gangguan yang hanya terjadi pada sebagian kepribadian saja, sehingga pengidap gangguan
neurosis masih bisa melakukan aktifitas keseharian dan menjalani pekerjaan-pekerjaan, belajar,
dan tidak perlu mendapatkan perawatan khusus di rumah sakit.
Dali Gulo (1982: 179), berpendapat bahwa neurosis adalah suatu kelainan mental, hanya
berpengaruh pada sebagaian kepribadian saja, neurosis lebih ringan dari gangguan psikosis, dan
seringkali ditandai dengan gejala-gejala sebagai berikut: keadaan cemas berlebih, gangguangangguan
pada panca indera dan gangguan pada motorik, hambatan pada emosi, kurang
memperhatikan lingkungan, dan energi fisik lemah, dst.
Berdasarkan pendapat mengenai neurosis dari para ahli tersebut dapat diidentifikasi pokok-pokok
pengertian mengenai neurosis sebagai berikut:
a. Neurosis merupakan gangguan kepradian atau psikis pada tahap ringan.
b. Neurosis terjadi pada sebagian kecil aspek kepribadian artinya tidak gangguan kepribadian
secara penuh.
c. Neurosis dapat dikenali dari gejala yang paling menonjol yaitu kecemasan yang berlebihan.
d. Penderita neurosis mampu menyesuaikan diri juga mampu melakukan aktivitas sehari-hari.
e. Penderita neurosis tidak memerlukan perawatan khusus di rumah sakit jiwa.
Macam-macam neurosis
A. Neurosis cemas (anxiety neurosis atau anxiety state)
Tidak ada rangsangan yang spesifik yang menyebabkan kecemasan, tetapi bersifat
mengambang bebas, apa saja dapat menyebabkan gejala tersebut. Bila kecamasan yang dialami
sangat hebat maka terjadi kepanikan.
a. Gejala-gejala neurosis cemas
a) Gejala somatis dapat berupa sesak nafas, keringat dingan, dada tertekan,
kepala ringan seperti mengambang, mudah merasa lelah, dst.
b) Gejala psikologis berupa kecemasan, ketegangan, panik, depresi, mudah
putus asa, perasaan tidak mampu, dst.
b. Faktor penyeban neurosis cemas
Menurut Maramis (1998: 261), faktor pencetus neurosis cemas sering jelas dan secara
psikodinamik berhubungan dengan faktor-faktor yang menahan seperti kemarahan
yang dipendam, perasaan cinta yang dipendam dsb
c. Terapi untuk penderita neurosis cemas
Terapi untuk penederita neurosis cemas dilakukan dengan menemukan sumber
ketakutan atau kekuatiran dan mencari penyesuaian yang lebih baik terhadap
permasalahan. Ada beberapa jenis terapi yang dapat dipilih untuk menyembuhkan
neurosis cemas, yaitu:
1) psikoterapi individual
2) psikoterapi kelompok
3) psikoterapi analitik
4) sosioterapi
5) terapi seni kreatif
6) terapi kerja
7) terapi perilaku, dan
8) farmakoterapi.
B. Histeria
a. Gejala-gejala hysteria
Histeria merupakan neurosis yang ditandai dengan reaksi-reaksi emosional yang tidak
terkendali sebagai cara untuk mempertahankan diri dari kepekaannya terhadap
rangsang-rangsang emosional. Pada neurosis jenis ini fungsi mental dan jasmaniah
dapat hilang tanpa dikehendaki oleh penderita. Gejala-gejala sering timbul dan hilang
secara tiba-tiba, teruma bila penderita menghadapi situasi yang menimbulkan reaksi
emosiona lyang hebat.
b. Jenis-jenis hysteria
Histeria digolongkan menjadi 2, yaitu reaksi konversi atau hysteria minor dan reaksi
disosiasi atau histeria mayor.
1) Histeria minor atau reaksi konversi
Pada histeria minor kecemasan diubah atau dikonversikan (sehingga disebut reaksi
konversi) menjadi gangguan fungsional susunan saraf somatomotorik atau somato
sensorik,dengan gejala : lumpuh, kejang-kejang, mati raba, buta, tuli,dst.
2) Histeria mayor atau reaksi disosiasi
Histeria jenis ini dapat terjadi bila kecemasan yang yang dialami penderita
demikian hebat, sehingga dapat memisahkan beberapa fungsi kepribadian satu
dengan lainnya sehingga bagian yang terpisah tersebut berfungsi secara otonom,
sehingga timbul gejala-gejala: amnesia, somnabulisme, fugue,dan kepribadian
ganda.
c. Faktor penyebab hysteria
Menurut Sigmund Freud, histeria terjadi karena pengalaman traumatis (pengalaman
menyakitkan) yang kemudian direpresi atau ditekan ke dalam alam tidak sadar.
Maksudnya adalah untuk melupakan atau menghilangkan pengalaman tersebut. Namun
pengalaman traumatis tersebut tidak dapat dihilangkan begitu saja, melainkan ada
dalam alam tidak sadar (uncociousness) dan suatu saat muncul kedalam sadar tetapi
dalam bentuk gannguan jiwa.
C. Neurosis Fobik
Neurosis fobik merupakan gangguang jiwa dengan gejala utamanya fobia, yaitu rasa takut yang
hebat yang bersifat irasional, terhadap suatu benda atau keadaan. Fobia dapat menyebabkan
timbulnya perasaan seperti akan pingsan, rasa lelah, mual, panik, berkeringat, dst.
Ada bermacam-macam fobia yang nama atau sebutannya menurut faktor yang menyebabkan
ketakutan tersebut, misalnya:
1. Hematophobia: takut melihat darah
2. Hydrophobia: takut pada air
3. Pyrophibia: takut pada api
4. Acrophobia: takut berada di tempat yang tinggi
a. Faktor penyebab neurosis fobik
Neurosis fobik terjadi karena penderita pernah mengalami ketakutan dan shock hebat
berkenaan dengan situasi atau benda tertentu, yang disertai perasaan malu dan bersalah.
Pengalaman traumastis ini kemudian direpresi (ditekan ke dalam ketidaksadarannya).
Namun pengalaman tersebut tidak bisa hilang dan akan muncul bila ada rangsangan serupa.
b. Terapi untuk penderita neurosis fobik
Menurut Maramis, neurosa fobik sulit untuk dihilangkan sama sekali bila gangguan
tersebut telah lama diderita atau berdasarkan fobi pada masa kanak-kanak. Namun bila
gangguan tersebut relatif baru dialami proses penyembuhannya lebih mudah
D. Neurosis obsesif-kompulsif
Istilah obsesi menunjuk pada suatu ide yang mendesak ke dalam pikiran atau menguasai
kesadaran dan istilah kompulsi menunjuk pada dorongan atau impuls yang tidak dapat ditahan
untuk tidak dilakukan, meskipun sebenarnya perbuatan tersebut tidak perlu dilakukan.
Contoh obsesif-kompulsif antara lain;
a. Kleptomania: keinginan yang kuat untuk mencuri meskipun dia tidak membutuhkan
barang yang ia curi.
b. Pyromania: keinginan yang tidak bisa ditekan untuk membakar sesuatu.
c. Wanderlust: keinginan yang tidak bisa ditahan untuk bepergian.
d. Mania cuci tangan: keinginan untuk mencuci tangan secara terus menerus.
e. Faktor penyebab neurosis obsesif-kompulsif
f. Neurosis jenis ini dapat terjadi karena faktor-faktor sebagai berikut (Yulia D., 2000).
g. Konflik antara keinginan-keinginan yang ditekan atau dialihkan.
h. Trauma mental emosional, yaitu represi pengalaman masa lalu (masa kecil).

Borderline Personality Disorder (BPD) Rangkuman Tugas Kuliah

BPD adalah penyakit mental serius yang ditandai dengan perasaan, mood dan perilaku yang tidak
menentu. Pasien biasanya memiliki masalah dengan emosi dan pikiran; kadang, mereka memiliki
perilaku ceroboh yang menyebabkan hubungan yang tidak stabil. Borderline personality disorder
umumnya terjadi pada masa remaja atau masa awal dewasa.
Tidak mudah untuk membedakan gejala borderline personality disorder dari kelainan mental yang
lainnya. Namun umumnya, borderline personality disorder dapat di diagnosis dengan tanda-tanda
dan gejala berikut:
1. Orang-orang dengan borderline personality disorder biasanya memiliki ketakutan serius
terhadap pengabaian atau ditinggal
2. Mereka tidak dapat menjaga hubungan dengan stabil, bahkan dengan keluarga, teman atau
orang-orang terdekat
3. Mereka cepat berubah terhadap emosi, nilai-nilai, perasaan, tujuan yang terkait dengan
identitas diri dan gambar diri
4. Perilaku yang impulsif dan kadang berbahaya, seperti berjudi, menghamburkan uang,
hubungan seksual dll.
5. Perilaku ingin bunuh diri yang berulang atau merusak diri sendiri, seperti menyayat urat
nadi, sebagai respon terhadap ketakutan akan perpisahan atau penolakan.
6. Mood yang intens dan mudah berubah, dengan masing-masing episode berlangsung dari
beberapa jam hingga beberapa hari yang dapat mencakup kebahagiaan yang intens,
kekesalan, malu atau gelisah.
7. Sering merasa hampa atau bosan.
8. Kemarahan yang tidak pantas, intens, sinis, memiliki pertengkaran fisik
9. Memiliki pikiran paranoid yang terkait stress atau gejala disosiatif yang serius, seperti
merasa terpisah dari diri sendiri, mengamati diri sendiri dari luar tubuh, atau kehilangan
hubungan dengan realita.

RESUME BUKU KONSELING DAN TERAPI QUR'ANI



Judul               : Konseling dan Terapi Qur’ani
Penulis             : Dr. Ridwan, M.pd
Penerbit           : Pustaka Pelajar
Kategori          : psikologi, religi dan pengembangan diri

Daftar Isi:
BAB I             : APA DAN MENGAPA KORINI
BAB II             : LANDASAN FILOSOFI RELIGIUS
BAB III          : KONSEP-KONSEP UTAMA KORONI
BAB IV          : MODUL TERAPETIK
BAB V            : MENYINGKAP KEBUTUHAN TERAPI
BAB VI          : TERAPI FITRAH
BAB VII         : TERAPI PERTOBATAN
BAB VIII       : TERAPI PENJANGKIT SUKSES
BAB IX          : TERAPI KESOMBONGAN
BAB X            : TERAPI KEDENGKIAN
BAB XII         : TERAPI KESEDIHAN


BAB I
APA DAN MENGAPA KORINI
Apa itu korini? Korini adalah konseling dan terapi Qur’ani. Korini hadir dengan tujuan menawakan solusi dengan cara mendekatkan diri kepada Allah. Prosesnya dilakukan dengan mentadzaburi ayat-ayat dan munajat dengan ayat Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW. Korini datag menawarkan beberapa teknik penyembuhan dengan metode khazanah penyembuhan islam kasik yang dikemas dengan bentuk konseling dan terapi.
Ada tiga pertimbangan meneliti dan menyajikan konseling terapi Qur’ani. Pertama, bimbingan konseling yang ada untuk sementara ini tidak ditunjukan sebagai perjalanan menuju Allah. Kedua, problem pada jaman sekarang adalah disorientasi, salahsatunya orang sibuk mencari harta hingga lupa kepada tuhan sang pemilik segalanya, oleh karena itu dalam korini ini disajikan teknik terapi dari tokoh islan klasik maupun kontemporer. Dan ketga, konseling ysng berdsarkan pada Qur’an dan Sunnah yang ditinggalkan oleh orang-orang yang saleh.
Kenapa harus psikoterapi islam? Ibnul Qayim Al-auziah mengatakan Al-Qur’an adalah obat yang sempurna bagi segala penyakit, baik itu sakit fisik maupun mental, sakit dzahir maupun batin, sementara itu Sutoyo menunjukan alasan-alasan mengapa Qu’an dijadikan rujukan dalam konseling. Diantara alasan itu:
1.  Bahwa manusia adalah makhluk Allah, dan Allah memberikan Al-Qur’an kepada umat manusia sebagai pedoman hidup. Maka daari itu segala sesuatu harus kembaki kepada qur’an da sunah.
2.      Informasi penting untuk mempasilitasi konseling sudah tersedia dalam Qur’an dan sunah.
3.   Baik konselor maupun konseling yang ingin mengambil berkah dari hikmah Qur’an mamka Allah akan mempermudahnya.


BAB II
LANDASAN FILOSOFI RELIGIUS
 Korini ini memiliki llandasan yang sangat kuat diantaranya landasan fillosofis yaitu sebuah pencarian anusia terhadap kebenaran dan kedua adalah landasan religius yakni landasan yang bedasarkan kepada wahyu tuhan yang mencipta, memnbina alam semesta dan seluruh isinya termasuk didalamnya adlah manusia. Implikasi korini adalah mendeteksi kehendak (kemauan) indivisu kemana arah potensi kehendaknya dan seberapa kuat atau lemahnya kehendak tersebut, ini sangat penting sebab kegendak konseling adala dasar perubahan seperti dalam firman Alah (Qs. Ar-Ra’d [13]:11) sesungguhnya Allah tidak akan m erubah suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan dalam diri mereka. Selanjutnya dalam ayat yang lain dijelaskan bahwa manusia akan kembali kepada Allah, berarti hidup adalah perjalanan kembali menuju kepada-Nya yang artinya perjalanan hidup adalah proses pembersihan diri sebab akan kembali kepada yang maha suci. Adlapun unsur yang akan disucikan adalah unsur diri/jasad dan unsur ruh. Tuhan maha suuci, oleh karena itu hanya bias didekati oleh orang yang suci. Oleh karenanya perjalanan kehendak manusia untuk mendekati-Nya maka harus melalui akal pikiran yang jehrnih, berpikir adalah proses menemukan phenomena-penomena alam tetapi ia akan menemukan kebenaaran jika didahului dengan dzikir.
Lawan dari kata membantah adalah taat, tunduk atau patuh. Menurt Maududi, arti islam ada dua: pertama, memasuki perdamaian dan kedua, penyerahan diri atau kepatuuhan keppada tuhan. Dengan paparan tersebut maka membantah menjadi satu factor utama seseorang seseorang menjadi bermasalah. Pertanyaannya mengapa terkadang kita melakukan kesalahan? (1). Jika melakukan kesalahan secara spontan itu adalah karea memori dimasalalu yang tersimpan dialam bawah sadar menurut psikodinamik itu bias juga karena kesalahan pola asuh. (2). Karena tidak tahu atau susuatu yang sudah tahu tetapi tetap dilakukan dan itulah yang namanya zalim. Dari membantah tersebut kemudian munculah penyakit jiwa misalnya ujub, takabur, riya dan laiinya. Kasus besar di negri ini merupaka karena factor lemahnya iman. Seperti para koruptor yang membantah kehadiran tuhan pada perbuatanya, mereka menganggap tuhan tidak menyaksikan.
Didalam korini akal pikiran dibangkitkan dengan dialog dan musyawarah bisar mengerti. Dengan konfirmasi agar sadar, denagn muhasabag agar tahu masalah detilnya, dengan tadzaabur dan tadzakur akar hati semakin menundik,
Dengan tunduk kepada Allah maka rahmat Allah akan turun menghampininya. Bagi orang yang mentadzaburi Al-Qur’an maka ada lima yang akan didapatkan:
1.      Mendapatkan petunjuk
2.      Mendapatkan hikmah. Arti hikmah antara lain: pertama, pengetahuan hakikat kebenaran perwujudan dalam kehidupan, dua, ilmu yang bermanfaat dan aktifitas yang membawa keseamatan dan tiga, kondisi psikis, ketundukan kepada tuhan. Rumi juga berpendapat bahwa hikmah itu merupakan sesuatu yang tersembunyi, maka hikmah tidak akan muncul kecuali menariknya keluar.
3.      Sembuh dari gangguan penyakir
4.      Mendapatkan cahaya, maksudnya adalah orang yang mati jiwanya adalah orang yang tidak mendapatkan penerangan dari Al-Qur’an sehingga orang yang dihidupkanjiwanya dengan Al-Qur’an maka akan terbebas dari kegelapan, menjadi terhormat dihadapan Allah.
5.      Mendapatkan ruh Al-Qur’an, manusia hidup karena roh yang ada pada dirinya. Al-Qur’an disebut roh artinya akan memberikan kehidupan pada hati yang mati, Al-Zauziah (2005, hal. 3) mengatakan bahwa hati yang mati adalah hati yang tidak mengingat tuhan dan selalu mengikuti hawa nafsunya.



BAB III
KONSEP-KONSEP UTAMA KORONI
Diawal sudah dijelaskan bahwa koroni merupakan Konselling Terapi Qur’ani yang mana merupakan kensep gabungan dari konseling dan ayat Al-Qur’an sebagai pedoman untuk mengentaskan masalah. Konselling sendiri berasal dari barat namun di dalam islam lebih mengenal sebagai mana dalam firman allah Qs. An-Nahl [16]:3 yang artinya “maka bertanyalah kepada ahl adz-zikra. Istilah bertanya berarti menyangkut sesuatu yang tidak diketahui, mulai dari pertanyaan sehingga menjadi lebih kompleks, dari pertanyaan khusus hingga pribadi, dari pertanyaan hingga pengalian alam bawah sadar.
Apakah konseling dan psikoterapi itu sama atau berbeda? Menurut Nelson-jones (2009, hal.191) mengatakan bahwa upaya untuk membedakan keduanya tidak akan berhasil. Dalam kajian ini bahwa keduanya digunakan dengan Alasan sebagai berikut: pertama, para ahli secara jelas tidak pernah bias membedakan keduanya. Dua, perubahan sikap dan tingkah laku akibat tadabur Al-Qur’an biasanya menyakngkut soal keimanan dan keimanan terletak di pusat kepribadian. Dan ke-tiga, didasarkan kepada hadits nabi “apabila baik qalb (hati)nya maka akan baik pula seluruh tubuhhnya. Menurut penulis apllikasi tadabur Al-Qur’an kedalam terapi dan konselilng.
Menurut Rober Frager pada dasarnya manusia memiliki dua unsur, jasad dan ruh atau jiwa dan jasad. Dari sana berkembang istilah lain yakni mental, spiritual, moral, dan fisik. Dari sini objek sasaran korini alada:
1.      Sasaran spiritual, merupakan aspek rasa yang berkaitan denagn ruh, jiwa, semangat, keimanan, kesalehan, maka akan sampai pada pusat qalb.
2.      Sasaran mental, dalam psikologi disebut yang erhubungan dengan akal pikiran, ingatan, atau proses yang berhubungan dengan akal pikiran dan ingatan.
3.      Sasaran moral, ada tiga istila yaitu moral, akhlak dan etika. Moral adalah aturan atau nilai bersikap dan berprilaku yang dihasilkan oleh sekumpulan populasi.
4.      Sasaran fisik, yaitu badan atau tubuh dzahir manusia.
Tingkatan dalam tadabur koriini dijelaskan oleh Hasan Mustafavi yaitu sebagai berikut:
1.      Ibarat, yankni dimana kebanyakan orang awam hanya mengetahui Al-Qur’an secara teks dantafsiran saja.
2.      Isyarat, orang khusu sehingga memahami penafsiranya lebih mendalam dan kelebihanya terdapat pada hati nuraninya.
3.      Lathaif, pemahaman sangat mendalam yang hanya bbisa diraih oleh pengalaman nur batin, dan ini merupakan tingkatan para wali
4.      Haqaiq, adalah keyakinan terhadap Al-Quran dengan tanpa keraguan dan ini merupakan tingkatan para Nabi.

BAB IV
MODUL TERAPETIK
Tujuan dari korini diantaranya:
1.      Mengakui telah berbuat salah, kalua sudah mengakui maka akan timbul rasa malu sehingga akan langsung bertaubat karena kesadaran sendiri.
2.      Membersihkan pikiran dan rasa egatif, seperti prasangka buruk, lemah berpikir, malas dll
3.      Memiliki keyakinan kuat, hidup adalah perjalanan kembali menuju Allah yang akan menemui banyak rintangan dan godaan sehingga dibutuhkan keyakinan yang kuat dan tak tergoyahkan sehingga tidak terjerumus dalam kesalahan dan membantah tuhan.
4.      Teratasi masalah-masalah spesifik, masala itu timbul dari lemahnya iman sehingga dengan proses yang diatas masalah akan terselesaikan dengan baik
Jika ditinjau dari segi kualifikasi maka seorang kiyai atay seorang guru (mursyid) juga merupakan konselor sebab seorang syekh atau guru akan mengetahui kebutuhan seorang murid dan memantulkan kebutuhan murid melalui mata hati sang syekh. Sebagai konsekuensi kualifikasi yang dipenuhi konselor dan konseling terapi Qur’ani:
1.      Kompetensi Al-Qur’an dan hadits
a.       Menyatunya hati dan pikiran
b.      Gemetar hati ketika mendengan nama Allah
c.       Bertambah iman
d.      Bertambah khusuk
e.       Merasa bahagia
f.        Mengagungkan Allah
g.      Menangis dan takut serta bahagia karena Allah
h.      Pengetahuan tajwid
i.        Pengetahuan terhadap makna
j.        Pengetahuan tentang tafsir
k.      Mentadzaburi
l.        Munajat
m.     Istikomah bertadaru
2.      Berkompeten dalam teori dan peraktik terapi koroni
3.      Kompeten dan terampil dalam konseling konpensional dan riset
4.      Berzikir dibawah bimbingan guru
Adapun sikap yang harus dimiliki oleh terapis korini diantaranya:
1.      Sifat lemah lembut
2.      Sifat pemaaf dan memohonkan ampun
3.      Sabar dan tidak pemarah
4.      Bijaksana
Fungsi dan peranan konselor adalah sebagai teman, seorang ahli, motivator, informan, penyedia alternative, pemberi tantangan, adapu tahapan dalam konseling diantaranya:
1.      Menganalisa kebutuhan konseling
2.      Tadabur ayat
3.      Bermusyawarah dan menyeru dengan hikmah
4.      Berazzar, artinya mengambil keputusan atau komitmen terhadap konseling yang dijalani
5.      Tawakal, berserah diri kepada Allah taala dengan sepenuhnya setelah segala ikhtiar yang dianggap maksimal
Dalam kegiatan konselling pastinya ada interaksi, maka supaya iteraksi berjalan baik harus membuat sebuah hubungan yang baik seperti dalam korini ini sebagai berikut:
1.      Hhubungan yang didasarkan kasih saayang bukan karena uang
2.      Dalam hubungan ini tidak beleh mengarapkan suatu penghaargaan
3.      Konselor perlu mencegah konseling melakikan suatu yang ambisius dalam sesuatu
4.      Tidak boleh merendahkan konseling
5.      Materi harus disesuaikan dengan pengetahuan konseling, jangan sampai membuat konseling membuat tambah pusing lahi.
6.      Yang dikatakan oleh konselor adalah yang telah diamalkan



BAB V
MENYINGKAP KEBUTUHAN TERAPI
Sasaran Korini adalah orang yang kurang yakin, takabur dan sombong, dengki, serakah, yang sedih (depresi) dan kosong jiwanya. Dalam islam mereka itu disebut orang yang mengidap penyakit hati. Kalua kita punya kehendak maka sesungguhnya untuk melakukan korini itu sangat mudah, namun jika masih merasa sulit maka disana perlu adanya bantuan daro orang-orang yang berkompeten dalam melakukan korini. Terkecuali orang yang tidak punya kehendak maka akan sulit untuk menemukan atau mendiagnosa sakit hati.
Adapun untuk tekniknya, Al-Qur’an itu merupakan sebuah pedoman hidup dan kehidupan serta didalamnya adalah obat bagi setiap penyakit dan solusi bagi setiap masalah.  Maka jika konselor melakukan prosedur maka insyaAllah akan mendapatkan petunjuk:
1.      Niat, mengharap ridha Allah dan agar diberi petunjuk mengenai apa yang diniatkan. Ketika berniat maka bacakan siapa yang bersangkutan dan sebutkan pula nama ayahnya
2.      Harus memiliki wudzu
3.      Siapkan Al-Qur’an dan menghadap kiblat
4.      Buka dan baca ayat yang menarik saat pertama kali dilihat
5.      Konsen pada ayat tersebut baca dan baca pula terjemahnya serta coba untuk pahami
Untuk menyingkap penyakit hati sesunggunya sangat mudah jika sudah terbiasa melakukan muhasabah. Muhasabah adalah intropeksi diri.
Adapun untuk menyikapi masalah siswa seperti sering bolos, tidak mengerjakan PR, atau siswa yang cerdas tapi tidak mau bekerja sama, suka membulli dll. Kemungkinan besarnya adalah tingkat keimanan yang lemah serta tidak pernah melakukan muhasabah. Dalam kondisi ini mungkin saja sejak awal mereka tidak menyandarkan dirinya kepada Allah. Kalua mau sukses pasti butuh terapi. Dengan demikian ada tiga cara bagi seorang konselor: pertama, disikapi masalah melalui wawancara konseling. Ke dua, obrolan dan observasi diluar konseling dan ketiga, melalui kualitas konselor.
Setelah melakukan penyikapan masalah baik dengan konseling maupun dengan muhasabah, maka konseling akan menemukan letak dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan sehingga disana perlu ada peran konselor untuk meneguhkan hati konseling. Untuk meneguhkan maka perlu dengan cara lemah-lembut, arif, bijaksana, sabar, untuk mewujudkan fungsi sebagai pengingat. Selanjutnya konseling yang tertarik melakukan Korini maka konseling perlu menguatkan keinginannya untuk melakukan terapi. Dalam salat bermunajatpun kita sering denger imam sering bermunajat, coba kota perahatikan salat kita”
1.      Bacaan fasih tapi rasa tanpa makna
2.      Tidak berhenti utuk berdialog dengan tuhan
3.      Gerakan kita mengikuti gerakan anggota badan
Munajat adalah merayu tuhan dari dekat,  merasakan bahwa tuhan mendengar setiap rintihan kita kepadanaya. Dalam penyembuhan munajat sudah menjdadi tradisi dalam islam. Dari sisi ilmiyah menurut Jhunke dkk, (2009,hal.17) telah membuktikan efek do’a dalam penelitinaya. Dan M.Saleh(2009) telah membuktikan peneliitiantentang salat tahajud untuk kebutuhan tubuh sesungguhnya dikalukan denagn munajat.
Berikut ini adalah sembilan hal yang dikabulkan oleh Allah sebagai mana di munajatkan oleh nabai ibrahim As,sebagai mana yang diabadikan dalam Al-Qur’an dalam surat ibrahim ayat 35-41.diantara yang dikabulkan Allah diantaranya:
1.      Diberi negri yang aman dan kekuatan iman. Terdapat pada ayat 35
2.      Millah ibrahim menjadi misi raasulullah SAW, pada ayat 36
3.      Anak keturunan menjadi ikakatan manusia. Pada ayat 37
4.      Dimudahkan dalam rezaki meski tanah tanpa tanaman. Pada ayat 37
5.      Menjadi oorang yang pandai bersyukur. Pada ayat 37
6.      Diberi rasa senantiasa merasa dewaasa. Pada ayat 38
7.      Dianugerahi keturuunan pada ayat 39
8.      Diberi kekuatan dalam nenjaga salat, pada ayat 40
9.      Diampuni dosa. Pada ayat 4i
Meskipun tujan terapi munajat sesuai denagn kebutuahan spesifik individu tapi pada umumnya kepada Allah Swt antaralain:
1.      Menemukan tempat mengadu paling tepat
2.      Medapatkan sambutan dari-Nya. Berupa ilham, hikmah, fadillah dll
3.      Peningkatan dalam cara berpikir dan pemecah masalah
4.      Mendapat kesembuhan sesuin niat munajat
5.      Mendapatkan rasa ketenangan dalam eraktivitaas sehari-hari.
Munajat yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW sebagai mana dalam hadits yang diriwayatkan oleh huzaifah R.A, yakni:
1.      mambaca ayat ayng menhgandung tasbih
2.      membaca ayat yang mengandung do’a
3.      membaca ayat yang mengandung tentang perlindungan seperti ayat yang menceritakan hari kiamat atau siksa neraka.
PROSEDUR TERAPI MUNAJAT
1.      Menangkap kebutuhan terapi
Apabila individu menyadari sifatnya itu, dan bersedia menjalani terapi, maka konselor menawarkan untuk menjalankan tadaburi ayat Al-Quran, serta konselor menerangkan terapi tadabur dan munajat serta tujuan kedepanya sepertii apa.
2.      Tadabur ayat
Konselor juga menjelaska tadabur yang dilakukan oleh Nabi Muhammad
3.      Bermusyawarah dan menyeru dengan hikmah
Yang dimaksud musyawarh adalah menyepakati tadabur yang akan di implementasikan dalam tadabur tersebut.
4.      Beazam
Perlu tekad kuat untuk mewujudkan dalam rindakan:
a.       Konselor melakukan konseling untuk mengukuhkan konseling dalam menghadapi rintangan
b.      Konselor dan konseling menandaatangani kontrak bimbingan
c.       Dibahas pula kemungkinan pendampingan konseling untuk implementasinya.
Indicator atau tanda-tanda keberhasilan dalam melakukan terapi munajat antara lain:
1.      Hilang keresahan, kegelisahan, kesedihan, kebingungan dan lainya
2.      Merasakan sambutan dari Allah
3.      Meningkat kemampuan dalam berpikir
4.      Meningkat keimanan
5.      Mendapatkan ketenangan d alam beraktivitas

BAB VI
TERAPI FITRAH
Ustman Najati (2003, hal.324) fitrah adalah agama yang lurus. Potensi untuk mengenal dan mentauhidkan Allah. M. Q. Sihab (2010, hal.370) bahwa setiap orang memiliki fitrah, namun karena selama di dunia sering melakukan kesalahan maka fitrahnya semakin melemah dan bahkan bias tidak terlihat. Firaun sendiri yang selama hidupnya mengingkari Allah akhirnya mengakui serta percaya ketika ruhnya meninggalkan tubuhnya.
Pada fase SMP-SMA seharusnya level iman mereka sudah meningkat karena sudah dapat mengembangkan fitahnya untuk sampai kepada Allah dengan akalnya. Artinya mereka telah mengembangkan imannya ke tingkan iman akal. Jika para siswa membuka dan memperluas fitrahnya dan begitupun dengan imannya maka dengan bimbingan dari guru-gurunya segarusnya para siswa dapat menghindari prilaku bolos, minuman keras, narkoba, tauran dan sebagainya.
Kemudian semakin dewasa seharusnya fitrah dan keimanan mereka sudah sampai pada akal dan hati. Dan kemudian secara bertahap memasuki tahapan qalb kelompok pada makom makrifat. Namun dalan realitas lapangan ternyata usia spiritual tidaklah sama dengan usia kronologis. Banyak dari mereka hanya beriman pada makom syareat atau bahkan belum sampai kesana.
Fitrah yang diberdayakan dapat memperkokoh keimanan. Ia mengandung makna bahwa individu meyakini dengan penuh bahwa ada pencipta alam semesta. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang Maha Bijaksana, yang Maha Kaya. Menurut Abdushshamad (dalam suyoto, 2009, hal.148) iman kepada Allah itu ada hubungannya dengan kesembuhan penyakit yang diderita.  Disebutkan bahwa penyakit keras seperti jantung, kangker, liver, rematik dan yang lainnya ersumber dari penyakit psikis, atau karena kekacauan jiwanya. Sementara dengan memperkuat keimanan yang kuat akan memberikan kedamayan pada jiwa.
Sebagai mana disebutkan bahwa tidak tumbuhnya iman adalah karena dosa yang sering dilakukan maka tuhan menghapuskan kesadaran terhadap dirinya sehingga semakin sering melakukan dosa maka akan semakin terhapus juga kesadara atas dirinya dan kepada tuhan. Mereka itulah yang mengidap ganggguan jiwa. Oleh karena itu fitrahnya harus dibangkitkan kembali supaya kesadaranya kembali bahwa jauh sebelum ruh ditiupkan manusia pernah bersaksi dihadapan Allah.
Dalam psikologi sufi, disebutkan bahwa manusia tidak aka beribadah dengan sempurna kepada Allah tanpa mengenalnya. Dalam hadits yang cukup popular dikatakan “barang siapa yangmengenal dirinya maka akan mengenal tuhannya” mengenal dirinya yaitu mengembalikan kesadara bahwa jauh sebelum terlahir ke dunia manusia telah bersaksi dihadapan Allah bahwa Allah lah tuhan yang nyata dan tiada tuhan selain Allah.

Prosedur terapu fitah
1.      Analisis kebutuhan terapi
Koseling perlu mengungkap gejala dengan muhasabah, eksplorasi, empati dan seeterunya, masalah yang terungkap harus disadari sendiri oleh konseling. Konselor menyiapkan asas-asas konseling, misalnya azas kerahasiaan, keterbukaan atau keyakinan. Setelah itu konselor perlu menjelaskan prosedir yang akan dijalani.
2.      Tadabur ayat
3.      Bermusyawarah dan menyeru dengan hikmah
Pengubahan melalui penjangkitan keimanann. Kalua mulai tumbuh keimanan baru maka bersyahadatlah dengan benar:
a.       Jangkitkan ketuhanan bahwa Allah itu ada
b.      Jangkitkan keimanan bahwa dia telah ditolong oleh Allah
c.       Latihan menjangkitkan keimanan kepada Al-Qur’an
d.      Bersyahadat dengan baik dan benar
e.       Menawaarkan latihan-latihan
4.      Berazam
5.      Tawakal
Tekad yang kuat tetap perlu sandaran, jika tida ada sandaran maka akan berujung pada hasil yang kurang baik. Tawakal adalah bersandar diri hanya kepada Allah dengan segala ketergantungan pada-Nya.
Secara khusus indicator keberhasilan ini menunjuk pada peningkatan ketakwaan:
1.      Meningkatkan frekuensi melalui kewajiban dan hal yang bai kepada Allah
2.      Menurunkan frekuensi yang dianggap negative
3.      Meningkatkan frekuensi raasa aman dan nyaman
4.      Meningkatan penggunaan waktu untuk berpikir
5.      Meningkatkan prekuensi antara hati pikiran dan hidup yang hati-hati

BAB VII
TERAPI PERTOBATAN
Menurut Al-Jauzi (1999, hal. 83) hakekat tobat adalah kembali kepada tuhan dari lembah kesesatan dengan melakukan apa yang dicintai oleh Allah dan Rasulnya seta meninggalkan segala yang dilarang-Nya. Terapi Korini dilakukan dengan proses penyadaran, penyelesaian, penyelesaian, dan membersihkan efek-efek negative serta memohon ampunan kepada Allah atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Dengan demikian terapi pertobatan:
1.      Sasaranya sepiritual mental, orang yang tidak bertobat atas kesalahanya akan mengalami peyakit malas sekolah, belajar dan kemalasan yang lainnya, resah, gelisah dan lain-lain
2.      Proses terapinya delakukan deang pernyadaran, penyelesaian, dan pembersihan dari sifat-sidat negative.
Efek negative dari tidak melakukan tobat menurut Al-Ghazali 2009d, hlm. 164) diantaranya: pertama Kegelapan jiwa yag akan semakin bertumpuk oleh pelanggaran yang selalu dilakukan. Kedua, Banyak sakit yang datang hingga tiba pada kematian lalu tidak sempat melakukan pertobatan. Dengan gelaapnya jiwa ia tidak akan mengetahui kenapa seperti itu sehingga tida tahu harus berbuat apa. Oleh karena itu ia akan jatuh sakit pisi akibat tekanan jiwa (psikosomatik) yang semakin besar akibat dari perbuatan dosa yang tida ditobati.
Diantara keuntungan melakukan tobat adalah mental akan ringan, berpikir jernih, ingatan kuat, dan banyak lagi keuntungan yang akan didapat. Bila terbiasa melakukan amal saleh maka itulah prestasi, suaatu amal yang kelak akan diperoleh hasilnya di Akhirat. Selain itu dalam terapi Korini maka tobat adalah salah satu kunci kesuksesan.
Dilain pihak terapi tobat sering dianggap sepele, mereka beranggapan cukup hanya dengan bacaaan istigfar yang umum. Dengan begitu terapi tobat menjadi penting dengan alasan sebagai berikut:
1.      Orang yang melakukan dosa maka ia akan melakukan apapun yang ia kehendaki karean ia dalam keadaan yang tidak sadar akan berbahayanya berbuat dosa.
2.      Banyak orang yang hanya beristigfar tanpa mengetahui tujan dari istigfar, sehingga istigfarnya tidak begitu memberikan dampak pada si pembaca, sebab beristigfarnya tidak mengikuti prosedur dalan bertobat.
3.      Banyak orang yang tidak yahu tobat seperti apa yang akan diterima oleh Allah sehingga orang merasa dirinya telah bertobat namun syarat tobatnya tidak terpenuhi.
Tujuan dari bertobat adalah untuk membersihkan segala perbuatan yang buruk dan kembali kejalan yang benar. Al-Gazali mengemukakan tanada-tanda orang yang tobantnya diteriima:
1.      Individu merasa dirinya terpelihara dari perbuatan dosa
2.      Berkumpul denagn orang saleh
3.      Dalam segala tindakanya merasa adisaksikan oleh Allah
4.      Banyak melakukan amal kesalehan namun masih merasa sangat kurang
5.      Lisannya terjaga
6.      Membiasakan merasa sedih dengan dosa yang pernah dilakukan
Adapun proses terapi pertobatan ialah sebagai beriikut:
1.      Analisis kebutuhan terapi
2.      Tadabur ayat, diantaranya pertama, efek negative tidak bertobat. Dua, sambutan Allah untuk orang yang bertobat dank ke tiga tanda diterimanya tobat
3.      Musyawarah dan menyeru dengan hikamah, dengan melakukan konseling menggiring konseling melakukan tobat seperti yang disyariatkan
4.      Azzam, tekad yang kuat sangat diperlukan sebab berbuat dosa itu bersifat adiksi atau ketaguhan sehingga akan sulit untuk berhenti dari melakukan maksiat. Maka dari itu tekad yang kuat sangat penting
5.      Tawakal, tanpa bantuan Allah manusia tidak dapat berbuat apa-apa sehingga wajib manusia menyandarkan segala urausanya kepada Allah
Untuk objek indicator keberhasilan dari terapi tobat adalah sebagai berikut:
1.      Memelihara diri dari perbuatan dosa
2.      Sering berkumpul denagn orang sleh
3.      Sering merasakan Allah hadir dalam aktifitasnya
4.      Merasa kurang beramal untuk persiapan diakhirat
5.      Menyibukan diri dengan hal yang diperintahkan Allah
6.      Menyesali perbuatan dosa yang dpernah dilakukan

BAB VIII
TERAPI PENJANGKIT SUKSES
Yang dimaksud menjangkit sukses adalah menjangkit karakter sukses, melalui penyembuhan sepiritual yangtidak berani melangkah karena mentalnya lemah. Terapi ii dilakukan dengan bertujuan: pertama, Sasaran semua aspek penyembuhan, pisik, emosi dan spiritual. Kedua, Proses terapinya adalah dengan cara membangkitkan keyakinan dengan kalimat konfrontasi dan tindakan nyata.
Tidak ada sukses besar tanpa keyakinan yang besar. Maksudnya keyakinan yang sangat kuat, tangguh, dan mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa.dalam kenyataanya ada yang mendasarakan prinsipnya pada pikiran, rasio, dan banyak lagi prinsip kebenaran hati. Tapi sesungguhnya perisip-periinsip itu adalah prinsip yang primitive sebab belum tersentuh oleh petunjuk tuhan.
Yang menjadi masalah adalah sebagian orang yang beriman bertindak ragu. Mereka justru melanggar prinsip kejujuran ketulusan, kerja sama yang baik, yang semuanya adalah ajaran agama yang dianutnya dan semua yang dilalngar itu adlah kunci utama sukses. Menurut psikologi sufi, iman mulai mantap disarakan apabila seseorang mencapai jiwa yang tenang yang merupakan prestasi tersendiri dalam mendekatkan diri kepada tuhan. Orang yang dekat dirinya denagn tuhan maka tidak akan bertindak ragu-ragu.
Tujuan dari terapi ii adalah mengunggah jiwa konseling dengan kisah kisah sukses para nabi sehingga mampu melangkah untuk mewujudkan mimpi-mimpinya secara khusus terapi penjangkit sukses ini adalah:
1.      Mampu mentadaburu dan munajat ayat khas orang sukses
2.      Merasa tenang jiwa untuk bangkit mengatasi kelemahan
3.      Mampu mulai dari langkah pertama
4.      Mampu melangkah lebih jauh dan lebih besar
5.      Mampu menunjukan indicator kesuksesan besar
Untuk prosedur terapi penjangkit kesuksesan ini yaitu:
1.      Analisis kebutuhan terapi
2.      Tadabur ayat
3.      Bermusyawarah dan menyeru dengan hikmah
Inikator keberhasilan dari terapi ini diantaranya:
1.      Meningkat dalam mentadaburi ayat
2.      Meningkat kemampuann berpikir
3.      Meningkat kemampuan dalam beraktivitas
4.      Mampu melakukan hal kecil hingga besar
5.      Timbul dalam dirinya membela kebenaran

BAB IX
TERAPI KESOMBONGAN
Sombong adlah penyakit yang dibawa oleh iblis. Kisahnya ketika disurga tatkala Allah memerintahkanya untuk sujud kepada Adam, iblis menolak karena merasa dirinya lebih mulia dari pada adam sehingga i=iblis membantah perintah Allah. Karena sombong adalah penyakit yang disebarkan oleh iblis sehingga para sahabat Nabi sangat berhati-hati akan sipat sombong ini. Karena orang yang sombong akan dimusuhi oleh Allah.
Tidak ada dampak positif dalam kesombingan, yang ada hanyalah dampak negative. Adapun dampak positif hanya ada dalam sifat tawadu. Tawadu adalah kebalikan dari sifat sombong. Sombong adalah penyakit hati. Dampak yang terbesar adalah diakhirat nanti ia akan dilemparkan ke dalam neraka. Di dunia pun akan mendapatkan kehidupan seperti neraka yang jauh dari kata bahagia dan nyaman. Adapun tanda orang yang sombong diantaranya:
1.      Suka pamer
2.      Tidak mau mengalah dan tidak mengakui kekalahan
3.      Tidak mau mengakui kesalahan
4.      Tidak mau dianggap rendah
5.      Tersinggung jika tidak disebut gelarnya (merasa tidak dihormati)
6.      Hatinya mati
7.      Tidak disenangi orang-orang.
8.      Cinta dunia
Tujuan dari terpi kesombongan adalah:
1.      Mempasilitasi individu untuk menyadari adanya sifat ujub
2.      Mengenali sifat sombong
3.      Melatih agar bersifat tawadu
Prosedur terapi kesombongan yaitu:
1.      Analisis kebutuhan terapi
2.      Tadabur ayat
3.      Bermusyawarah dan menyeru dengan hikmah
4.      Azzam dan tawakal
Indicator keberhasilan:
1.      Meningkat dalam tadabur ayat
2.      Meningkat khusu dalam salat
3.      Meningkatkan daya ingat
4.      Meningkat dam social

BAB X
TERAPI KEDENGKIAN
Dengki sudah dibahas dalam bab II. Dengki menurut Al-Gazali ada dua macam penyakit dengki yaitu: prtama, dengki atas nikmat yang diperoleh orang lain. Dua, iri melihat kelebihan orang lain. Dengan demikian sasaran terapi ini adalah aspek spiritual. Dengan begitu sasaran terapi ini adalah penyembuhan sisi emosional, spiritual dan moral. Adapun tujuannya adalah: pertama, mempasilitasi konseling menyadari kedengkian dalam dirinya. Kedua, mempasilitasi menggali factor penyebab. Dan ke tiga, konseling menerima dirinyam kehidupan dirinya dan orang lain tanpa syarat.
Prosedur terapi yang dilakukan adlah:
1.      Analisis kebutuhan terapi
2.      Tadabur ayat
3.      Bermusyawarah dan menyeru dengan hikmah
4.      Azzam dan tawakal
Indicator keberhasilannya adalah:
1.      Mentadaburi ayar tentang dengki
2.      Meningkat kesadaran diri
3.      Meningkat kemampuan untuk mengatasi rasa iri yang muncul

BAB XI
TERAPI KESERAKAHAN
Tamak adalah sikap yang dimiliki seseorang dimana dirinya selalu tidak merasa puas akan sesuatu. Sifat rakus ini sudah menjadi watak bani adam. Artinya telah melekat pada watak manusia. Dalam salah satu haduts dijelaskan bahwa mencari harta itu dioerbolehkan selagi tidak serakah artinya menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang diinginkan.
Berikut ini adlah dampak buru dari tamak dalam harta:
1.      Sering stress karena selalu merasa tidak cukup
2.      Menghinakan diri Karen mengharapkan lebih
3.      Sedih jika yang diingikan tidak didapatkan atau yang dicintainya hilang
4.      Di akhirat neraka menanti orang-orang yang bersikap tamak
Tujuan dari terapi adalah mempasilitasi agar ki=onseling menyadari sikap serakah, sehingga konseling menyadari bahwa kekayaan yang sesungguhnya dari hati, konseling dapat keseimbangan dalam manajemen hidup dan dapat menerimanya tanpa syarat.
Prosedur terapi yang dilakukan:
1.      Analisis kebutuhan terapi
2.      Tadabur ayat
3.      Bermusyawarah dan menyeru dengan hikmah

BAB XII
TERAPI KESEDIHAN
Menurut Al-kindi dan Al-Razi, kesedihan dan keedukaan merupakan gangguan psikis yang terjadi pada saat kehilangan yang dicintai atau yang diinginkan. Bagi mereka menyembuhkan dan memperbaiki penyakit psikis lebih harus di utamakan dari pada menyembuhkan penyakit pisik.  Sebab menurutnya tindakan pisik ada karena tindakan jiwa.
Menurut Al-Kindi ada dua kecintaan yang diinginkan manusia, peretama, keinginan dan kecintaan terhadap duniawi atau bersifaat pisik. Ke dua, kecintaan yang bersifat rasional sepeti ingin abadi. Begitupu Al-Kindi membagi kesedihan dalam dua bagian: pertama, bersumber pada diri sendiri. Misalnya keinginan pada haliyah duniawi yang dicintainya tidak tercapai. Dan ke dua, bersumber dari orang lain seperti di fitnah, dicaci, di maki dan sebagainya.
Kesedihan menimbulkan efek pada pisik, psikis dan social. Diantaranya:
1.      Gejala fisik, seperti: insomnia, terlalu sakit, berprilaku pasif dan suka menyendiri
2.      Gejala pasikis, seperti: kehilangan rasa percaya diri, sensitive (mudah mengaitkan segala sesuatu yang negative dengan dirinya) merasa tidak berguna, merasa bersalah, dan perasaan terbebani.
Tujuan teapi adalah sebagi mempasilitasi konseling untuk mengenali factor-faktok kesedihanya, musibah yang dialami meupakan takdir Allah dan mempasilitasi supaya konseling mendapat ketenangan dan dapat beraktifitas lagi. Terapi ini fokusnya pada aspek spiritual, kognitif dan psilaku dengan prosedur terapi sebagai berikut:
1.      Menganalisa keperluan terapi
2.      Tadabur ayat
3.      Musyawaarah dan menyeru dengan hikmah
a.       Musyawarah tentang ketentuan musibah
b.      Menginfrintasi kesedihan
c.       Latihan untu mengatasi kesedihan
d.      Belajar dari kisah melalui logo drama
e.       Kunjungan ke rumah sakir
f.        Latihan munajat
4.      Azzam
5.      Tawakal
Uuntuk indicator keberhasilan:
1.      Merasa tenang dan tingkat kesedihan mrnurun
2.      Dapat berpikir lebih jernih
3.      Meningkatkan kemampuan konseling untuk hidup moderat, ridha, dan meningkatkan aktivitas serta tugas hidupnya