Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Solusi Bagi Anak yang Kecanduan Main Gadget



Satu pasangan muda yang merupakan teman dekat dengan saya namun sudah lama tidak bertemu, sebut saja namanya si Kakang dan si Ceuceu. Mereka adalah pasangan yang menikah cukup muda dan sekarang mereka sudah dikaruniai seorang putra yang sangat tampan. Sekilas tidak ada yang salah pada anak itu, memang dasarnya anak itu baik-baik saja, cuman menurut si Kakang dan si Ceuceu anak ini memiliki masalah dimana pada usia yang masih balita dia sudah kecanduan main gadget, hawatirnya si anaknya mental terutama mata si anak akan bermasalah karena terus melihat layar gadget yang cukup dekat dengan matanya.
Waktu itu saya sedang main ke kampung halaman teman saya namanya Acong dan kebetulan sekali, ternyata si Acong itu tetanggaan dengan si Kakang. Pas datang ke rumah si Acong saya, sya langsung masuk rumah lalu salim pada orang tua si Acong kemudian ngobrol sekedar basa-basi. Karena waktu duhur hampir akhir sayapun segera shalat dan setelah shalat saya duduk depan rumah di bangku bawah pohon rindang sambil menikmati secangkir kopi di sore hari. Tak lama si Ceuceu dari rumahnya yang terhalang satu rumah dari rumah si Acong keluar menatap saya, dia mengenali saya tapi mungkin ragu-ragu apa benar dia atau cuman mirip, mungkin begitu pikirnya.
Si Ceuceu pun bergegas menghampiri, lalu dia mengajak saya ke rumahnya sambil berlari memanggil suaminya. Karena mereka memaksa, saya pun singgah ke rumahnya, ya selakian silaturahmi toh gak bakal ada ruginya malah lebih baik. Di rumahnya saya ngorol ngaler-ngidul maklum sudah lama tak bertemu hingga akhirnya ada obrolan yang menarik menurut saya dimana dia curhat tentang keluhan anaknya yang sangat kecanduan main gadget (hp android).
Karena mereka tahu si Acong lagi sekolah di jurusan psikoterapi dan si Acong bilang saya teman satu kelasnya dia khirnya tahu saya bersekolah di jurusan psikoterapi.
Keluhan si Kakang dan si Ceuceu “bang, abang kan sekolah di terapi-terapi gitu ya, tolong dong terapi-in putra saya, dia kecanduan banget main hp, takutnya matanya nanti rusak soalnya sudah banyak kejadian anak yang kecanduan main hp matanya pada rusak, anak kecil sudah pada pake kaca mata gitu. Terus nih bang takutnya anak saya kalua udah main hp dia susah kalua di panggil kaya orang gak dengar, fokusnya hanya ke hp saja, gimana bang kamu bisa kan terapi anak saya biar gak kecanduan kaya gitu lagi”
“saya belum bisa terapi-terapi kaya gitu, kan sekolahnya aja belum selesai. Kalaupun saya bisa men-treatment anak kamu prosesnya akan panjang” saya mencoba menjelaskan bahwa saya belum menjadi seorang praktisi psikoterapi.
“kalua begitu abang perlu bolak-balik kesini dong, tapi gak papalah demi anak biar saya ganti saaja ongkos abang pulang pergi sekalian si Acong pulang kana bang bisa bareng dia” si Kakang seperti berharap bener ke saya.
“lah kenapa gak si Acong saja yang terapi kan ilmunya sama juga” kata saya sambil melirik si Achong.
“yeh kelasnya saja yang sama tapi kan ilmu mah dapetnya beda, lu kan pemahamannya lebih baik, kakak kelas saja yang mentorin kita malah minta koselling sama kamu hingga masalahnya selesai, kau hanya untuk pulang pergi saya tanggung jawab deh kan sekalian saya jadi punya alasan pulang ke rumah” si Acong dengan cepat menjawab karena gak mau terapi malah sambil nyngir dia nawarin boncengi saya pulang pergi kosan - rumah si Kakang.
Karena saya sudah terpojok oleh si Acong, terus mau nolak permintaan si Kakang juga gak enak sebab kewajiban saya ketika diminta ya harus dikerjain sekemampuan saya. “ya ok kalua gitu, sebenarnya tak perlu datang ke sini juga sih sebab kalua masalah anak yang kecanduan main gadget biasanya yang saya tretmen bukan anaknya tapi orang tuanya dulu, tapi kalian jangan kalua nanti saya bisa menyalahkan kamu. Bukan menyalahkan juga sih lebih tepatnya membuka mata kalian sehingga kalian dapat melihat dimana saja letak salahnya, supaya kalua sudah tahu letak kesalahanya kan jadi mudah memperbaikinya” saya kembali menjelaskan seperti itulah kira-kira metode yang akan saya gunakan.
“ok, pertama saya ingi tanya, kalua anak kecanduan main hp siapa yang pantas disalahkan?” saya membuka pertanyaan langsung ke intinya biar gak terlalu berbelit
Si Kakang dan si Ceuceu serentak menjawab “ya anaknya lah kan anak yang kecanduannya juga”
Lalu saya bertanya kembali “anak usia 0-5 tahun itu merupakan fase golden age atau masa keemasan dimana pada fase itu akan sangat secap sekali anak belajar. Nah pertanyaanya pada usia balita seperti itu dia belajar dari mana, belajar dari siapa?”
Si Kakang dan si Ceuceu bingung lalu menjawab: “ya anak se usia segitu mah belum belajar, paling nanti di usia empat atau lima tahun baru belajar di TK.
“gak, gak gitu, dari balita dia sudah belajar, pertama belajar makan, minun, berjalan, berbicara dst. Anak-anak belajar dari kalian khususnya orang tua. Cara mereka belajar tidak seperti di sekolah tapi belajar langsung dari kehidupan. Anak-anak belajar dengan meniru apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Saya mencoba memberi pemahaman.
“kalua anak selalu asik main hp, pertama dia senang dengan hp sejak kapan dan kenapa kira-kira” saya kembali bertanya pada Si Kakang dan si Ceuceu.
“Ya udah lama juga, kalua awalnya mungkin dia sering lihat saya dan suami main hp didepan dia, kadang kalua dia lagi rewel, kami suka mengiming-imingi dia buka hp lihat video, foto atau game anak mungkin dari situ kayaknya dia mulai senang main hp” si Ceuceu mulai paham arah pertayaan saya, begitupun si Kakang juga menyadari kesalahanya.
“jadi sebenarnya yang pantas dimarahi kalua anak main hp, bukan anaknya tapi orang tuanya, sebab ini dari awal merupakan kesalahan orang tua dalam mendidik” si Kakang juga kelihatannya menyesali setelah menyadari kesalahannya. “lalu kalua sudah begini bagai mana solusinya” Si Kakang dan si Ceuceu terlihat bingung.
“Nah itu dia yang akan kalian pecahkan sekarang, posisi saya disini hanya sebatas mediator, membantu kalian supaya menemukan titik masalahnya, setelah itu membantu kalian menemukan solusinya. Sebab kalua saya yang kasih solusi, belum tetntu kalian terima atau kalian suka dan belum tentu kalian merealisasikan (menjalankan) solusi tersebut. Maka solusinya harus dari kalian sendiri supaya kalian bersungguh-sungguh merealisasikan solusi tersebut, dan saya hanya sebatas mediator, hanya sebatas membantu kalian menemukan solusi yang kalian inginkan” saya mencoba menjelaskan bahwa dalam proses ini saya tidak diperkenankan memberi solusi.
“tadi kan masalahnya timbul karena anak kalian meniru prilaku kalian” saya kembali mencoba memancing kesadaran Si Kakang dan si Ceuceu tadi yang telah menyadari itu.
“betul juga ya, berarti hal paling pertama kita tidak boleh memegang hp di depan anak, kalaupun terpaksa gunakan hanya seperlunya saja jadi gak lama-lama megang hp di depan anak” kata si Kakang, lalu si Kakang melanjutkan bicara “kalua tetep gak mempan gimana, soalnya dia sudah paarah kayaknya gak ada waktu tanpa hp, kecuali saat dia mandi dan tidur doang dia bisa lepas dari hp. Saya takut kalua hanya itu dia gak berubah”. Si Kakang merenung sambil menatap si ceuceu. Lalu mereka balik menatap kepada saya.
“Ya itu bagus sekali kalua kalian gak akan main hp lagi di depan anak kecil. berubah atau tidaknya pola prilaku anak kalian ya kalian tetap gak boleh main hp di depan anak kalian” saya menegaskan solusi mereka. Lalu saya kembali memberikan pemahaman kepada mereka “anak kalian meniru apa yang dia lihat atau yang dia dengar artinya dia meniru yang dia perhatikan. Kalua sekarang perhatiannya tertuju hanya pada hp maka yang perlu kalian lakukan adalah mengalihkan perhatian anak kalian dari hp”.
Mereka berdua berpikir sejenak lalu bertanya “mengalihkan perhatian maksudnya harus terus gangguin dia kalua bermain hp ya” si Ceuceu bertanya sambil alisnya di naikan dan bibirnya sedikit nyengir. Dia heran dan lucu pada apa yang ia pikirkan.
“Ya gak gitu juga kali ceu, maksudnya kalua dia lagi main hp, ajakin apa ke gitu yang membat dia senang dan dia suka, misalnya ajakin main bola di halaman, beliin robot-robotan atau apapun yang kiranya dia suka dan bisa mengalihkan dia dari main hp terus” Saya menjelaskan perkataan yang saya maksud karena mereka salah paham.
Si Kakang seketika kepikiran “bener juga ya, kan banyak mainan yang lain atau bisa diajakin main permainan klasik, itu sangat seru juga dia bisa sambil berinteraksi dengan teman yang lain, lalu pisiknya juga bergerak itung-itung olah raga biar badanya sehat terjaga”.
“Yapz, betul banget Kang, selain anak-anak senang bermain, juga dapat melatih motoric anak, juga sekalian melestarikan permainan klasik khas nusantara. Coba deh obrolin ke orang tua yang punya anak kecil seumuran anak kamu, ajakin dia mainin permainan klasik. Soalnya kalua saya pikir bukan hanya kalian saja yang punya masalah seperti ini tapi orang tua yang lain juga bingung dengan masalah anak yang kecanduan main hp” saya merasa gembira si Kakang berpikir kea rah sana jadinya saya komporin saja.
Dilain pihak si Ceuceu sedikit kagak setuju “yah kalau mainan jaman dulu anak-anak harus sambil dijagai bahkan kadang-kadang kita harus ikut bermain. Sedangkan dari pagi sampe sore pekerjaan rumah gak kelar-kelar. Yah cape kitanya dong” si Ceuceu sedikit merajuk.
Entah pikiran dari mana, tiba-tiba saja saya ngomong asal jeplak tanpa di saring dulu “lah kalian giliran bikinya pas yang enak-enak tanpa perhitungan harus merawat dan mendidik, harus menyayangi dan memperhatikan malah maen hantem saja malah kayaknya kerjanya sangat rajin tapi pas giliran beginian kenapa harus malas malasan. Pan kalian niatan punya anak karena ingin punya anak yang shaleh jadi kalian mau tak mau ya tetap harus. Jangan hanya menuntut pada anak tapi perhatian kalian tidak kalilan berikan.
Mendengar saya ngomong, mereka dan juga si Acong tertawa terbahak-bahak. Tapi biarpun ketawa-ketiwi mereka tetap dapat menyimpulkan point-point pentingnya. Lalu setelah mereka memutuskan akan dimulai besoknya saya meminta mereka untuk memberikan informasi perkembangan pada anak mereka setelah satu minggu atau paling lambat dua minggu ke depan.

Perjalanan Spiritual


Sebenarnya saya gak tahu apa ini bias disebut dengan cerita mistis atau tidak, cuman yang pasti cerita ini masih berhubungan dengan makhluk supranatural. Saat itu saya masih duduk di kelas tiga SD, jauh-jauh hari sebelum memasuki bulan Ramadan ada seseorang praktisi spiritual datang berkeliling ngasih tahu orang-orang di daerah saya supaya mulai tanggal satu Ramadan sampai lebaran, anak-anak dijagain supaya jangan main ke jalan raya sebab di bulan Ramadan ini dia memiliki sebuah predikisi bahwa aka nada kejadian yang kurang mengenakan terjadi dijalan raya dengan batas wilaya antara titik A hingga titik B dengan jarak sekitar 1,3 Km.
Pada waktu saya masih SD, waktu itu daerah saya masih kental dengan mistis-mistis sehingga anjuran dari praktisi spiritual itu di turuti, sehingga pas h-2 ramadan para orang tua sudah melarang-larang anaka-anak main ke jalan raya. Minggu pertama tidak ada kejadian apa-apa, masuk ke minggu ke dua, keadaan maasi aman dan gak ada apa-apa. Masuk ke minggu ke tiga tepatnya tanggal 17 ramadan, waktu itu sore hari sepulang sekolah diniyah saya pulang ke rumah kemudian saya solat ashar. Setelah shalat ashar yang saya ingat saya main sepedahan di sekitar rumah saya, karena bosan sayapun pergi sepedahan ke dekat lapang voly dekat rumah saya sebab disana banyak anak-anak ngumpul bermain, saya pun main sepedahan di lapang volley dengan yang lainnya sambil balap-balapan.
Entah gimana carana, saya gak begitu ingat, cuman saya ingat betul sadar-sadar saya lagi bawai layangan milik seorang pemuda, dia adalah tetagga saya menuju jalan raya sebab para pemuda main layangannya suka di pinggir jalan raya supaya bias diadu dengan kelompok yang main layangan dari sawah, jadi mainnya di jalan raya yang dimana jalan raya tersebut adalah wilayah zona merah menurut si praktisi spiritual itu. Awalnya biasa saja, saya dan si pemuda itu berjalan di pinggir jalan raya sebelah kiri, lalu saya gak ingat, nyadar-nyadar saya jalan jadi di sebelah kanan jalan raya. Karena tempat main layangan ada di sebelah kiri jalan raya, maka mau tidak mau saya harus nyebrang. Pada saat saya nyebrang pas di tengah-tengah jalan raya tiba-tiba pandangan saya gelap kemudian saya melihat satu jengkal depan dan belakang saya penuh dengan kendaraan bermotor, jalan raya padat sekali seperti padatnya jalan raya pas mudik lebara namun bedanya kendaraan-kendaraan itu lajunya sangat kencang meski jalanan sangat padat.
Karena yang saya lihat depan belakang saya padat dengan kendaraan yang berjalan ngebut akhirnya saya cuman bisa berdiri di tempat sebab kalau maju saya pasti ketabrak mundurpun juga pasti ketabrak jadi saya diam di tempat. Tak lama setelah saya melihat situasi seperti itu tiba-tiba pandangan kembali terasa gelap, kemudian saya sadar dengan perlahan saya membuaka kedua maya saya ternyata saya sedang terbang kemudian berguling sekitar 7m jauhnya. Disaat saya terguling-guling karena terlempar jauh saya bisa melihat sosok kakek tua yang sangat sepuh terlihat dari rambut kepala, alis, kumis dan janggut panjangnya sudah berwarna putih semua. Kake itu berpakaian seperti pendekar di film-film dengan jubah yang serba putih dia berdiri sambil memegang tongkat kayu dengan tangan kanannya. Aya berguling menuju kearahnya dan saya langsung dipangku seperti seperti memangku anak yang pingsan.
Setelah saya berada didala pangkuan si kake saya kembali gak ingat lalu sadar-sadar saya berada di dalam mobil engke atau mobil truk yang ukuran kecil menuju puskesmas terdekat. Saya diperiksa, tidak ada luka serius, cuman di kedua sikut, lutut kiri dan kedua mata kaki saya berdarah karena luka gores. Setelah dokter menyatakan saya gak pe rlu dirawat inap saya diantar pulanga dengan mobil yang sama dan saya dipangku oleh pemuda yang layanganya saya bawain tadi. Setelah sampai rumah, saha heran banyak orang berkumpul dan melihat ibu saya wajahnya seperti yang barusaja menangis, dia langsung periksa keadaan saya lalu saya disuruh buka dan saya masih gak mau buka soalnya pikiran saya ya sayang, tanggung tinggal beberapa menit lagi. Setelah selesai buka puasa si sopir yang bawa mobil ngomong sambil meneteskan air mata, dia mita maaf karena telah menabrak saya dia minta maaf kepada saya dan kedua orang tua saya. Karena si sopir truk kecil ini bertanggung jawab dan ini juga merupakan kecelakaan akhirnya kami memaafkan. Saya baru nyadar kala saya tertabrak mobil dan mental terlempar hingga 7 meteran setelah saya buka puasa mereka baru bilang bahwa saya tertabrab mobil yang saya tumpangi itu.
Orang yang melihat kejadian itu, mereka berpikir bahwa saya sudah mati, kepala saya pecah dan tubuh saya sudah tidak utuk, begitupun orang yang jauh dari jalan raya mendengar suara yang sangat keras, kemudian dikasih tahu bahwa saya tertabrak mobil, mereka langsung mengira bahwa saya pasti langsung mati sebab mereka mikirnya “suaranya saja sampai kedengeran kesini pasti ketabraknya sangat keraas” tapi nyatanya saya hanya terluka di bagian sikut, lutut dan mata kaki. Hari esoknya saya tidak berpuasa karena ada obat dari dokter yang harus dimakan tiga kali sehari, dan di hari esoknya pula saya baru merasakan sakit di baha kanan seperti yang keseleo, dan kagetnya pas saya pegang kepala bagian belakang saya, ada bagian kepala yang empuk seperti tanah liat, ketika sedikir di pencet ya kepala saya kentob.
Di sore harinya orang yang memprediksi bakal ada kejadian yang tidak mengenakan inipun datang berkunjung menengok saya. Mereka mengobrol dengan ayah saya, dia bilang saya diselamatkan seorang kake yang sangat sakti, tapi kakek itu tidak bisa dilihat oleh mata orang-orang. Saya mendengar obrolan itu sontak saya nyambersaja, saya bilang kejadian yang saya lihat dan ternyata ciri-ciri yang saya omongkan persis seperti yang dia lihat. Waktu itu saya takjub sebab ada orang yang bisa melihat mimpi saya dengan sangat persis dan detil.
Kejadian di bulan ramadan ternyata tidak berhenti di saya, ternyata pada tanggal 28 ramadan ada seorang anak, dia juga seering bermain dengan saya cuman beda kampung namun masih satu RW lah dengan dia, masih bisa dibilang satu kampung juga. Dia juga mengalami kecelakaan di jalan raya dengan lokasi masih di zona merah tersebut. Dia tetabrak motor tapi untungnya badan si anan ini keburu sedikit tertarik oleh neneknya jadi ketabraknya gak begitu parah. Walaupun begitu luka dia lebih parah dibanding saya, wajahnya baret, tangannya patah dan berdarah karena gesekan dengan aspal, punggung dan kakinyapun juga berdarah terutama di bagian kaki, lukanya agan sedikit dalam. Logikanya, dia tertabrak motor dan gak begitu kencang sedang saya tertabrak mobil yang sedang ngebut bahkan saya sampai terlempar jauh, tapi luka lebih parah si anak yang ketabrak motor. Tapi apapun itu kami masih bersyukur dengan kejadian itu kami masih diberi hidup sampai saat ini. Kejadian itu hanyalah kecelakaan, musibah atau sekedar jian, yang pasti saya sangat bersyukur bahwa saya masih diberikan hidup sampai saat ini.
Diluar kejadian yang menimpa saya, yang saya heran dengan seorang praktisi spiritual yang bisa memprediksi akan ada kejadian yag tidak mengenakan itu, yaitu saya dan satu teman saya dapat ujian kecelakaan teertabrak kendaraan. Dan yang lebih membuat saya heran si praktisi spiritual itu bisa menebak mimpi saya. Tapi kalau sekarang saya pikir itu adalah kemampuan spiritual yang bisa menembus dinding dimensi alam ghaib sehingga dia bisa melihat saya  yang dipangku oleh kakek itu, dan saya pikir waktu itu mungkin saya dalam dalam kondisi yang abnormal sehingga  saya bisa memasuki frekuensi yang sama dengan frekuensi dimensi ghaib sehingga saya bisa masuk kedalam dimensi alam gaib tersebut difase saya sedang keritis. Mungkin tak jauh berda seperti yang digambarkan oleh film dimana seseorang yang koma kemudian ruhnya keluar dan keluyuran melihat apa-apa seperti melihat dengan matamua sendiri. Kalau orang-orang dikalangan praktisi spiritualis mereka menyebutnya dengan istilah raga sukma (dalam bahasa sunda) atau rogo sukmo (dalam bahasa jawa) intinya sukmanya keluar dari tubuhnya tetapi apa yang dialami oleh sukma itu seolah dialami oleh dirinya secara sadar, dan apa yang dia lihat, dia dengar, dia sentuh, dia rasakan adalah asli benar benar kejadian, cuman bedanya ketika sedang sadar itu dialami oleh raga beserta jiwanya tetapi ketika raga sukma yang mengalami hanya sukmanya saja.