Satu pasangan
muda yang merupakan teman dekat dengan saya namun sudah lama tidak bertemu,
sebut saja namanya si Kakang dan si Ceuceu. Mereka adalah pasangan yang menikah
cukup muda dan sekarang mereka sudah dikaruniai seorang putra yang sangat
tampan. Sekilas tidak ada yang salah pada anak itu, memang dasarnya anak itu
baik-baik saja, cuman menurut si Kakang dan si Ceuceu anak ini memiliki masalah
dimana pada usia yang masih balita dia sudah kecanduan main gadget, hawatirnya
si anaknya mental terutama mata si anak akan bermasalah karena terus melihat
layar gadget yang cukup dekat dengan matanya.
Waktu itu saya
sedang main ke kampung halaman teman saya namanya Acong dan kebetulan sekali,
ternyata si Acong itu tetanggaan dengan si Kakang. Pas datang ke rumah si Acong
saya, sya langsung masuk rumah lalu salim pada orang tua si Acong kemudian
ngobrol sekedar basa-basi. Karena waktu duhur hampir akhir sayapun segera
shalat dan setelah shalat saya duduk depan rumah di bangku bawah pohon rindang
sambil menikmati secangkir kopi di sore hari. Tak lama si Ceuceu dari rumahnya
yang terhalang satu rumah dari rumah si Acong keluar menatap saya, dia
mengenali saya tapi mungkin ragu-ragu apa benar dia atau cuman mirip, mungkin
begitu pikirnya.
Si Ceuceu pun
bergegas menghampiri, lalu dia mengajak saya ke rumahnya sambil berlari
memanggil suaminya. Karena mereka memaksa, saya pun singgah ke rumahnya, ya
selakian silaturahmi toh gak bakal ada ruginya malah lebih baik. Di rumahnya
saya ngorol ngaler-ngidul maklum sudah lama tak bertemu hingga akhirnya ada
obrolan yang menarik menurut saya dimana dia curhat tentang keluhan anaknya
yang sangat kecanduan main gadget (hp android).
Karena mereka
tahu si Acong lagi sekolah di jurusan psikoterapi dan si Acong bilang saya
teman satu kelasnya dia khirnya tahu saya bersekolah di jurusan psikoterapi.
Keluhan si
Kakang dan si Ceuceu “bang, abang kan sekolah di terapi-terapi gitu ya,
tolong dong terapi-in putra saya, dia kecanduan banget main hp, takutnya
matanya nanti rusak soalnya sudah banyak kejadian anak yang kecanduan main hp
matanya pada rusak, anak kecil sudah pada pake kaca mata gitu. Terus nih bang
takutnya anak saya kalua udah main hp dia susah kalua di panggil kaya orang gak
dengar, fokusnya hanya ke hp saja, gimana bang kamu bisa kan terapi anak saya
biar gak kecanduan kaya gitu lagi”
“saya belum
bisa terapi-terapi kaya gitu, kan sekolahnya aja belum selesai. Kalaupun saya bisa
men-treatment anak kamu prosesnya akan panjang” saya mencoba menjelaskan bahwa saya belum menjadi seorang praktisi psikoterapi.
“kalua begitu
abang perlu bolak-balik kesini dong, tapi gak papalah demi anak biar saya ganti
saaja ongkos abang pulang pergi sekalian si Acong pulang kana bang bisa bareng
dia” si Kakang seperti berharap bener ke saya.
“lah kenapa gak
si Acong saja yang terapi kan ilmunya sama juga” kata saya sambil melirik si Achong.
“yeh kelasnya
saja yang sama tapi kan ilmu mah dapetnya beda, lu kan pemahamannya lebih baik,
kakak kelas saja yang mentorin kita malah minta koselling sama kamu hingga
masalahnya selesai, kau hanya untuk pulang pergi saya tanggung jawab deh kan
sekalian saya jadi punya alasan pulang ke rumah” si Acong dengan cepat menjawab karena gak mau terapi malah sambil
nyngir dia nawarin boncengi saya pulang pergi kosan - rumah si Kakang.
Karena saya
sudah terpojok oleh si Acong, terus mau nolak permintaan si Kakang juga gak
enak sebab kewajiban saya ketika diminta ya harus dikerjain sekemampuan saya. “ya
ok kalua gitu, sebenarnya tak perlu datang ke sini juga sih sebab kalua masalah
anak yang kecanduan main gadget biasanya yang saya tretmen bukan anaknya tapi
orang tuanya dulu, tapi kalian jangan kalua nanti saya bisa menyalahkan kamu. Bukan
menyalahkan juga sih lebih tepatnya membuka mata kalian sehingga kalian dapat
melihat dimana saja letak salahnya, supaya kalua sudah tahu letak kesalahanya
kan jadi mudah memperbaikinya” saya kembali menjelaskan seperti itulah kira-kira
metode yang akan saya gunakan.
“ok, pertama
saya ingi tanya, kalua anak kecanduan main hp siapa yang pantas disalahkan?” saya membuka pertanyaan langsung ke intinya biar gak terlalu
berbelit
Si Kakang dan
si Ceuceu serentak menjawab “ya anaknya lah kan anak yang kecanduannya juga”
Lalu saya
bertanya kembali “anak usia 0-5 tahun itu merupakan fase golden age
atau masa keemasan dimana pada fase itu akan sangat secap sekali anak belajar. Nah
pertanyaanya pada usia balita seperti itu dia belajar dari mana, belajar dari
siapa?”
Si Kakang dan
si Ceuceu bingung lalu menjawab: “ya anak se usia segitu mah belum belajar,
paling nanti di usia empat atau lima tahun baru belajar di TK.
“gak, gak gitu,
dari balita dia sudah belajar, pertama belajar makan, minun, berjalan,
berbicara dst. Anak-anak belajar dari kalian khususnya orang tua. Cara mereka
belajar tidak seperti di sekolah tapi belajar langsung dari kehidupan. Anak-anak
belajar dengan meniru apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Saya mencoba memberi pemahaman.
“kalua anak selalu
asik main hp, pertama dia senang dengan hp sejak kapan dan kenapa kira-kira” saya kembali bertanya pada Si Kakang dan si Ceuceu.
“Ya udah lama
juga, kalua awalnya mungkin dia sering lihat saya dan suami main hp didepan
dia, kadang kalua dia lagi rewel, kami suka mengiming-imingi dia buka hp lihat
video, foto atau game anak mungkin dari situ kayaknya dia mulai senang main hp” si Ceuceu mulai paham arah pertayaan saya, begitupun si Kakang
juga menyadari kesalahanya.
“jadi sebenarnya
yang pantas dimarahi kalua anak main hp, bukan anaknya tapi orang tuanya, sebab
ini dari awal merupakan kesalahan orang tua dalam mendidik” si Kakang juga kelihatannya menyesali setelah menyadari
kesalahannya. “lalu kalua sudah begini bagai mana solusinya” Si Kakang
dan si Ceuceu terlihat bingung.
“Nah itu dia
yang akan kalian pecahkan sekarang, posisi saya disini hanya sebatas mediator,
membantu kalian supaya menemukan titik masalahnya, setelah itu membantu kalian
menemukan solusinya. Sebab kalua saya yang kasih solusi, belum tetntu kalian
terima atau kalian suka dan belum tentu kalian merealisasikan (menjalankan)
solusi tersebut. Maka solusinya harus dari kalian sendiri supaya kalian
bersungguh-sungguh merealisasikan solusi tersebut, dan saya hanya sebatas
mediator, hanya sebatas membantu kalian menemukan solusi yang kalian inginkan” saya mencoba menjelaskan bahwa dalam proses ini saya tidak
diperkenankan memberi solusi.
“tadi kan
masalahnya timbul karena anak kalian meniru prilaku kalian” saya kembali mencoba memancing kesadaran Si Kakang dan si Ceuceu
tadi yang telah menyadari itu.
“betul juga ya,
berarti hal paling pertama kita tidak boleh memegang hp di depan anak, kalaupun
terpaksa gunakan hanya seperlunya saja jadi gak lama-lama megang hp di depan
anak” kata si Kakang, lalu si Kakang
melanjutkan bicara “kalua tetep gak mempan gimana, soalnya dia sudah paarah
kayaknya gak ada waktu tanpa hp, kecuali saat dia mandi dan tidur doang dia
bisa lepas dari hp. Saya takut kalua hanya itu dia gak berubah”. Si Kakang
merenung sambil menatap si ceuceu. Lalu mereka balik menatap kepada
saya.
“Ya itu bagus
sekali kalua kalian gak akan main hp lagi di depan anak kecil. berubah atau
tidaknya pola prilaku anak kalian ya kalian tetap gak boleh main hp di depan
anak kalian” saya menegaskan solusi mereka. Lalu
saya kembali memberikan pemahaman kepada mereka “anak kalian meniru apa yang
dia lihat atau yang dia dengar artinya dia meniru yang dia perhatikan. Kalua sekarang
perhatiannya tertuju hanya pada hp maka yang perlu kalian lakukan adalah
mengalihkan perhatian anak kalian dari hp”.
Mereka berdua
berpikir sejenak lalu bertanya “mengalihkan perhatian maksudnya harus terus
gangguin dia kalua bermain hp ya” si Ceuceu bertanya sambil alisnya di
naikan dan bibirnya sedikit nyengir. Dia heran dan lucu pada apa yang ia
pikirkan.
“Ya gak gitu
juga kali ceu, maksudnya kalua dia lagi main hp, ajakin apa ke gitu yang membat
dia senang dan dia suka, misalnya ajakin main bola di halaman, beliin
robot-robotan atau apapun yang kiranya dia suka dan bisa mengalihkan dia dari
main hp terus” Saya menjelaskan perkataan yang saya
maksud karena mereka salah paham.
Si Kakang
seketika kepikiran “bener juga ya, kan banyak mainan yang lain atau bisa
diajakin main permainan klasik, itu sangat seru juga dia bisa sambil
berinteraksi dengan teman yang lain, lalu pisiknya juga bergerak itung-itung
olah raga biar badanya sehat terjaga”.
“Yapz, betul
banget Kang, selain anak-anak senang bermain, juga dapat melatih motoric anak,
juga sekalian melestarikan permainan klasik khas nusantara. Coba deh obrolin ke
orang tua yang punya anak kecil seumuran anak kamu, ajakin dia mainin permainan
klasik. Soalnya kalua saya pikir bukan hanya kalian saja yang punya masalah
seperti ini tapi orang tua yang lain juga bingung dengan masalah anak yang
kecanduan main hp” saya merasa gembira si Kakang
berpikir kea rah sana jadinya saya komporin saja.
Dilain pihak si
Ceuceu sedikit kagak setuju “yah kalau mainan jaman dulu anak-anak harus
sambil dijagai bahkan kadang-kadang kita harus ikut bermain. Sedangkan dari
pagi sampe sore pekerjaan rumah gak kelar-kelar. Yah cape kitanya dong” si
Ceuceu sedikit merajuk.
Entah pikiran
dari mana, tiba-tiba saja saya ngomong asal jeplak tanpa di saring dulu “lah
kalian giliran bikinya pas yang enak-enak tanpa perhitungan harus merawat dan
mendidik, harus menyayangi dan memperhatikan malah maen hantem saja malah
kayaknya kerjanya sangat rajin tapi pas giliran beginian kenapa harus malas
malasan. Pan kalian niatan punya anak karena ingin punya anak yang shaleh jadi
kalian mau tak mau ya tetap harus. Jangan hanya menuntut pada anak tapi
perhatian kalian tidak kalilan berikan.
Mendengar saya
ngomong, mereka dan juga si Acong tertawa terbahak-bahak. Tapi biarpun
ketawa-ketiwi mereka tetap dapat menyimpulkan point-point pentingnya. Lalu setelah
mereka memutuskan akan dimulai besoknya saya meminta mereka untuk memberikan
informasi perkembangan pada anak mereka setelah satu minggu atau paling lambat
dua minggu ke depan.
