Tampilkan postingan dengan label cerita horor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita horor. Tampilkan semua postingan

Pengalaman Pertama Raga Sukma


Pertamakali merasakan sensasi raga sukma ketika masih Mts kelas delapan, tapi saya gak tahu kalua itu merupakan pengalaman spiritual yang biasa disebut dengan raga sukma. Raga sukma adalah saat dimana aku keluar dari tubuhku dan melihat tubuhku dan orang lain, mendengar orng lain tapi aku tidak bias menyentuh dan orang lain tidak bias melihat aku sebab aku adalah bentuk dari kesadaran yang meninggalkan jasadnya, aku berkeliling dan kembali ke tubuhku, apa saja yang dilihat oleh kesadaranku itu memang benar adanya meski jasadku tidak melihat karena duduk di tempat yang berbeda. Mungkin seperti itu gambaran dari raga sukma, saya tidak bisa menjelaskan secara keilmuan atau secara teori.
Kita mulai saja cerita mengenai raga sukma yang saya alami. Di setiap hari selasa malam di asrama selalu diadakan riyadloh, riyadloh itu pengajian di awali dengan tawasul kemudian berdzikir bersama yang dipimpin oleh pak kyai setelah itu dilanjutkan baca Al-Qur’an kemudian pengajian siraman rohani. Riyadloh ini tidak hanya diikuti oleh penghuni asrama, tetapi juga diikuti oleh masyarakat, karena riyadlah ini meripaka acarayang dibuka untuk umum.
Biasanya waktu riyadlah adalah waktu semi libur ngaji sebab kami tidak ngaji buka kitab lalu ditanya hafalan dan lain sebagainya sehingga kadangkala kami masih bisa bersendagurau waktu ngaji dengan masyarakat. Tetapi itu tidak terjadi pada saya di waktu itu, sebab spirit saya mungkin lagi tinggi sehingga dari awal saya mengikuti riyadlah dengan khusu, tidak sedikitpun bercanda dengan keempat teman dekat saya padahal biasanya selalu bercanda bahkan bolos ngaji.
Singkat cerita riyadlah sudah memasuki tawasul diteruskan dengan bacaan dzikir yang sangat lama sekali, biasanya merasa kesal dengan acara ini soalnya menjenuhkan, mingkin itu gangguan syetan. Tapi lagi-lagi waktu itu saya justru menikmati berdzikir terlebih lagi apa yang say abaca saya tahu arti serta maksudnya sehingga lebih mudah menghayati bacaan  dzikir yang saya baca. Dari mulai tawasul sambil menjiwai dan ingin sekali apa yang say abaca, yang saya kerjakan menjadi amal shaleh yang diterima oleh Allah, jadi saya berusaha khusu.
Ditengah-tengah dzikir, entah karena terlalu focus atau menjiwai sehingga kesadarn saya semakin menurun lalu saya dalam posisi nyaman, bisa dibilang setengah sadar dan setengah tidur sebab waktu itu saya masih merasakan mulut saya masih mengikuti menbaca dzikir, telinga saya masih bisa mendengar suara orang-orang berdzikir tetapi mata saya tertutup. Entah bagai mana caranya saya seperti lagi mimpi tapi terasa sangat nyata dimana saya melihat diri saya sendiri sedang duduk sila dan membaca dzikir begitupun orang lain aku bisa melihatnya.
Setelah melihat dirilu sendiri saya pergi keluar dan melayang-layang memasuki asrama asrama, saya bisa melihat orang sedang melakukan apa saja di asrama yang tidak mengikuti riyadlah. Saya ke luar dan melihat orang lain sedang nongkrong asik di warung jagur, dan juga karena saya berpikir saya lagi mimpi jadi kesempatan saya bisa masuk asrama perempuan dan tak usah takut di hukum. Saya masuk ke asrama perempuan dan saya lihat teman saya sedang melakukan apa saja, dia berpakaian seperti apa saya lihat dengan jelas.
Ketika saya sedang asik lihat teman perempuan saya itu tiba-tiba saya tertarik seperti orang tertarik oleh lorong waktu dan saya terseret masuk kedalam tubuh saya lagi seperti jin masuk kedalam botol yang ditampilkan di film-film. Aneh sih benar-benar aneh tetapi saya yang merasakan sendiri. Cuman karena saya merasakan bahwa itu benar-benar nyata setelah dzikir dan baca Qur’an selesai saya gak ikut pengajian, saya ngajak ke empat teman saya pergi kewarung. Dijalan saya ngomong ke mereka bahwa di warung ada siapa saja, dan ternyata omongan saya benar bahkan bisa dibilang tepat sebab saya sebut satu persatu nama orang yang ada di warung.
Teman saya takjub bisa menebak dengan tepat, lalu saya bilang di asrama kamar nomor 02, 05 dan kamar 07, ada anak yang gak ikut riyadlah saya sebut siapa saja nama-namanya. Teman saya jadi penasaran lalu mereka langsung pergi ngecek kamar asrama dan tepat seperti yang saya bilang. Teman saya datang kembali ke warung dan bertanya kok bisa tahu padahal dari awal kita semua ada di masjid mengikuti riyadlah masa bisa tahu mereka semua. Saya gak bisa jawab ya namanya juga tebak tebakan bisa benar juga bisa salah sebab tidak melihat dengan mata kepala.
Jangankan teman saya, bahkan saya sendiri masih merasa heran sebab ternyata apa yang saya sebutkan semuanya benar. Apa saya tadi benar-benar keluar dari jasad saya begitu kira-kira yang ada dalam pikiran saya. Untuk meyakinkan apa yang terjadi saya telpon teman perempuan saya yang di asrama. Awalnya gak di angkat, mungkin takut ketahuan gak ikut riyadlah atau apalah itu, lalu saya kirim sms (aku tahu kamu gak ikut riyadlah jadi angkat dong telponnya) lalu saya telpon lagi dan langsung dia angkat. Awalnya saya ngobrol biasa nanya sana-sini lalu bercanda, sekitar 15 menit kemudian tiba-tiba dia nanya, “hallo bang sebenarnya abang ada perlu apa sama nona ini” dia membahasakan dirinya dengan sebutan nona sebab itu panggilan dari saya. “gak ada perlu apa-apa sih cuman jenuh saja dan saya tahu kamu lagi gak sibuk” kata saya masih bercanda gak karuan.
Mungkin karena dia sudah kenal saya jadi dia terus nanya “beneran nih saya Tanya, juju raja sama nona ini abang ada perlu apa, perlu duit? Entar setelah yang lain beres riyadlah temui nona di gerbang kebetulan nona dapet rejeki lebih” kata dia sambilberkata sombong seperti biasanya gayanya tak pernah berubah. “ya sebenarnya saya mau nanya, bener atau tidak saja, kamu sekarang pake pakean bla-bla-bla lau saya sebutkan yang di asrama perempuan siapa saja yang tidak ikut riyadlah, benar atau tidak tolong di cek ya” saya minta tolong pada dia sebab saya laki-laki dilarang masuk ke asrama perempuan. Kerena dia kaget semua yang saya sebutkan tentang dirinya memakai baju apa, warna apa, gambar apa, kemudian celana warna apa, kemudian banyak lagi dan setiap yang saya sebutkan itu bener semua sehingga dia kaget loh kok tahu.
Saya sebutka saja cuman melihat dari kejauhan di luar gerbang. “bohong, gak mungkin sebab setelah mandi sore saya gak keluar dari kamar gak mungkin kamu bisa lihat saya” si nona heran juga takut saya ngitip ke asrama perempuan. Saya besok jelaskan ke kamu sebab kalua di telpon terlalu panjang ngejelasinnya dan gak bakal jelas kalua di telpon, yang penting orang yang saya sebutkan tadi beneran gak ada di kamar dan gak ikut riyadlah” saya mohon agar segeera di cek. “iya bener semua yang abang bilang kecuali six xxx sebab katanya baru kemesjid barusan, oh ya janji besok jelasin sama aku soalnya kita juga sudah lama juga gak ketemu.
Setelah ngobrol panjang di telpon, kesimpulannya saya bener-bener bisa keluar dari tubuh saya sendiridan melihat sekeliling tanpa dilihat orang lain, “wah ini asik nih harus di coba, bisa lagi gak ya atau ini hanya sebatas kebetulan saja” saya merasa ingin mencoba melakukanya lagi. Saya pamit kepada empat teman saya ke kamar asrama saya bilang nanti saya balik lagi ke warung. Teman saya mengiya kan lalu saya ke kamar asrama mencoba raga sukma lagi dan hasilnya gak bisa-bisa. Saya pikir tadi hanya kebetulan saja saya bisa melakukan itu. Dan waktu itu saya belum tahu bahwa itu namanya adalah raga sukma atau rogo sukmo dalam Bahasa Jawa, yang tahu saya mendapatkan pengalaman dimana saya keluar dari tubuh saya dan saya bepergian kemana-mana saya bisa melihat dan mendengar apapun lewat kesadaran saya yang keluar dari tubuh saya itu.

Solusi Bagi Anak yang Kecanduan Main Gadget



Satu pasangan muda yang merupakan teman dekat dengan saya namun sudah lama tidak bertemu, sebut saja namanya si Kakang dan si Ceuceu. Mereka adalah pasangan yang menikah cukup muda dan sekarang mereka sudah dikaruniai seorang putra yang sangat tampan. Sekilas tidak ada yang salah pada anak itu, memang dasarnya anak itu baik-baik saja, cuman menurut si Kakang dan si Ceuceu anak ini memiliki masalah dimana pada usia yang masih balita dia sudah kecanduan main gadget, hawatirnya si anaknya mental terutama mata si anak akan bermasalah karena terus melihat layar gadget yang cukup dekat dengan matanya.
Waktu itu saya sedang main ke kampung halaman teman saya namanya Acong dan kebetulan sekali, ternyata si Acong itu tetanggaan dengan si Kakang. Pas datang ke rumah si Acong saya, sya langsung masuk rumah lalu salim pada orang tua si Acong kemudian ngobrol sekedar basa-basi. Karena waktu duhur hampir akhir sayapun segera shalat dan setelah shalat saya duduk depan rumah di bangku bawah pohon rindang sambil menikmati secangkir kopi di sore hari. Tak lama si Ceuceu dari rumahnya yang terhalang satu rumah dari rumah si Acong keluar menatap saya, dia mengenali saya tapi mungkin ragu-ragu apa benar dia atau cuman mirip, mungkin begitu pikirnya.
Si Ceuceu pun bergegas menghampiri, lalu dia mengajak saya ke rumahnya sambil berlari memanggil suaminya. Karena mereka memaksa, saya pun singgah ke rumahnya, ya selakian silaturahmi toh gak bakal ada ruginya malah lebih baik. Di rumahnya saya ngorol ngaler-ngidul maklum sudah lama tak bertemu hingga akhirnya ada obrolan yang menarik menurut saya dimana dia curhat tentang keluhan anaknya yang sangat kecanduan main gadget (hp android).
Karena mereka tahu si Acong lagi sekolah di jurusan psikoterapi dan si Acong bilang saya teman satu kelasnya dia khirnya tahu saya bersekolah di jurusan psikoterapi.
Keluhan si Kakang dan si Ceuceu “bang, abang kan sekolah di terapi-terapi gitu ya, tolong dong terapi-in putra saya, dia kecanduan banget main hp, takutnya matanya nanti rusak soalnya sudah banyak kejadian anak yang kecanduan main hp matanya pada rusak, anak kecil sudah pada pake kaca mata gitu. Terus nih bang takutnya anak saya kalua udah main hp dia susah kalua di panggil kaya orang gak dengar, fokusnya hanya ke hp saja, gimana bang kamu bisa kan terapi anak saya biar gak kecanduan kaya gitu lagi”
“saya belum bisa terapi-terapi kaya gitu, kan sekolahnya aja belum selesai. Kalaupun saya bisa men-treatment anak kamu prosesnya akan panjang” saya mencoba menjelaskan bahwa saya belum menjadi seorang praktisi psikoterapi.
“kalua begitu abang perlu bolak-balik kesini dong, tapi gak papalah demi anak biar saya ganti saaja ongkos abang pulang pergi sekalian si Acong pulang kana bang bisa bareng dia” si Kakang seperti berharap bener ke saya.
“lah kenapa gak si Acong saja yang terapi kan ilmunya sama juga” kata saya sambil melirik si Achong.
“yeh kelasnya saja yang sama tapi kan ilmu mah dapetnya beda, lu kan pemahamannya lebih baik, kakak kelas saja yang mentorin kita malah minta koselling sama kamu hingga masalahnya selesai, kau hanya untuk pulang pergi saya tanggung jawab deh kan sekalian saya jadi punya alasan pulang ke rumah” si Acong dengan cepat menjawab karena gak mau terapi malah sambil nyngir dia nawarin boncengi saya pulang pergi kosan - rumah si Kakang.
Karena saya sudah terpojok oleh si Acong, terus mau nolak permintaan si Kakang juga gak enak sebab kewajiban saya ketika diminta ya harus dikerjain sekemampuan saya. “ya ok kalua gitu, sebenarnya tak perlu datang ke sini juga sih sebab kalua masalah anak yang kecanduan main gadget biasanya yang saya tretmen bukan anaknya tapi orang tuanya dulu, tapi kalian jangan kalua nanti saya bisa menyalahkan kamu. Bukan menyalahkan juga sih lebih tepatnya membuka mata kalian sehingga kalian dapat melihat dimana saja letak salahnya, supaya kalua sudah tahu letak kesalahanya kan jadi mudah memperbaikinya” saya kembali menjelaskan seperti itulah kira-kira metode yang akan saya gunakan.
“ok, pertama saya ingi tanya, kalua anak kecanduan main hp siapa yang pantas disalahkan?” saya membuka pertanyaan langsung ke intinya biar gak terlalu berbelit
Si Kakang dan si Ceuceu serentak menjawab “ya anaknya lah kan anak yang kecanduannya juga”
Lalu saya bertanya kembali “anak usia 0-5 tahun itu merupakan fase golden age atau masa keemasan dimana pada fase itu akan sangat secap sekali anak belajar. Nah pertanyaanya pada usia balita seperti itu dia belajar dari mana, belajar dari siapa?”
Si Kakang dan si Ceuceu bingung lalu menjawab: “ya anak se usia segitu mah belum belajar, paling nanti di usia empat atau lima tahun baru belajar di TK.
“gak, gak gitu, dari balita dia sudah belajar, pertama belajar makan, minun, berjalan, berbicara dst. Anak-anak belajar dari kalian khususnya orang tua. Cara mereka belajar tidak seperti di sekolah tapi belajar langsung dari kehidupan. Anak-anak belajar dengan meniru apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Saya mencoba memberi pemahaman.
“kalua anak selalu asik main hp, pertama dia senang dengan hp sejak kapan dan kenapa kira-kira” saya kembali bertanya pada Si Kakang dan si Ceuceu.
“Ya udah lama juga, kalua awalnya mungkin dia sering lihat saya dan suami main hp didepan dia, kadang kalua dia lagi rewel, kami suka mengiming-imingi dia buka hp lihat video, foto atau game anak mungkin dari situ kayaknya dia mulai senang main hp” si Ceuceu mulai paham arah pertayaan saya, begitupun si Kakang juga menyadari kesalahanya.
“jadi sebenarnya yang pantas dimarahi kalua anak main hp, bukan anaknya tapi orang tuanya, sebab ini dari awal merupakan kesalahan orang tua dalam mendidik” si Kakang juga kelihatannya menyesali setelah menyadari kesalahannya. “lalu kalua sudah begini bagai mana solusinya” Si Kakang dan si Ceuceu terlihat bingung.
“Nah itu dia yang akan kalian pecahkan sekarang, posisi saya disini hanya sebatas mediator, membantu kalian supaya menemukan titik masalahnya, setelah itu membantu kalian menemukan solusinya. Sebab kalua saya yang kasih solusi, belum tetntu kalian terima atau kalian suka dan belum tentu kalian merealisasikan (menjalankan) solusi tersebut. Maka solusinya harus dari kalian sendiri supaya kalian bersungguh-sungguh merealisasikan solusi tersebut, dan saya hanya sebatas mediator, hanya sebatas membantu kalian menemukan solusi yang kalian inginkan” saya mencoba menjelaskan bahwa dalam proses ini saya tidak diperkenankan memberi solusi.
“tadi kan masalahnya timbul karena anak kalian meniru prilaku kalian” saya kembali mencoba memancing kesadaran Si Kakang dan si Ceuceu tadi yang telah menyadari itu.
“betul juga ya, berarti hal paling pertama kita tidak boleh memegang hp di depan anak, kalaupun terpaksa gunakan hanya seperlunya saja jadi gak lama-lama megang hp di depan anak” kata si Kakang, lalu si Kakang melanjutkan bicara “kalua tetep gak mempan gimana, soalnya dia sudah paarah kayaknya gak ada waktu tanpa hp, kecuali saat dia mandi dan tidur doang dia bisa lepas dari hp. Saya takut kalua hanya itu dia gak berubah”. Si Kakang merenung sambil menatap si ceuceu. Lalu mereka balik menatap kepada saya.
“Ya itu bagus sekali kalua kalian gak akan main hp lagi di depan anak kecil. berubah atau tidaknya pola prilaku anak kalian ya kalian tetap gak boleh main hp di depan anak kalian” saya menegaskan solusi mereka. Lalu saya kembali memberikan pemahaman kepada mereka “anak kalian meniru apa yang dia lihat atau yang dia dengar artinya dia meniru yang dia perhatikan. Kalua sekarang perhatiannya tertuju hanya pada hp maka yang perlu kalian lakukan adalah mengalihkan perhatian anak kalian dari hp”.
Mereka berdua berpikir sejenak lalu bertanya “mengalihkan perhatian maksudnya harus terus gangguin dia kalua bermain hp ya” si Ceuceu bertanya sambil alisnya di naikan dan bibirnya sedikit nyengir. Dia heran dan lucu pada apa yang ia pikirkan.
“Ya gak gitu juga kali ceu, maksudnya kalua dia lagi main hp, ajakin apa ke gitu yang membat dia senang dan dia suka, misalnya ajakin main bola di halaman, beliin robot-robotan atau apapun yang kiranya dia suka dan bisa mengalihkan dia dari main hp terus” Saya menjelaskan perkataan yang saya maksud karena mereka salah paham.
Si Kakang seketika kepikiran “bener juga ya, kan banyak mainan yang lain atau bisa diajakin main permainan klasik, itu sangat seru juga dia bisa sambil berinteraksi dengan teman yang lain, lalu pisiknya juga bergerak itung-itung olah raga biar badanya sehat terjaga”.
“Yapz, betul banget Kang, selain anak-anak senang bermain, juga dapat melatih motoric anak, juga sekalian melestarikan permainan klasik khas nusantara. Coba deh obrolin ke orang tua yang punya anak kecil seumuran anak kamu, ajakin dia mainin permainan klasik. Soalnya kalua saya pikir bukan hanya kalian saja yang punya masalah seperti ini tapi orang tua yang lain juga bingung dengan masalah anak yang kecanduan main hp” saya merasa gembira si Kakang berpikir kea rah sana jadinya saya komporin saja.
Dilain pihak si Ceuceu sedikit kagak setuju “yah kalau mainan jaman dulu anak-anak harus sambil dijagai bahkan kadang-kadang kita harus ikut bermain. Sedangkan dari pagi sampe sore pekerjaan rumah gak kelar-kelar. Yah cape kitanya dong” si Ceuceu sedikit merajuk.
Entah pikiran dari mana, tiba-tiba saja saya ngomong asal jeplak tanpa di saring dulu “lah kalian giliran bikinya pas yang enak-enak tanpa perhitungan harus merawat dan mendidik, harus menyayangi dan memperhatikan malah maen hantem saja malah kayaknya kerjanya sangat rajin tapi pas giliran beginian kenapa harus malas malasan. Pan kalian niatan punya anak karena ingin punya anak yang shaleh jadi kalian mau tak mau ya tetap harus. Jangan hanya menuntut pada anak tapi perhatian kalian tidak kalilan berikan.
Mendengar saya ngomong, mereka dan juga si Acong tertawa terbahak-bahak. Tapi biarpun ketawa-ketiwi mereka tetap dapat menyimpulkan point-point pentingnya. Lalu setelah mereka memutuskan akan dimulai besoknya saya meminta mereka untuk memberikan informasi perkembangan pada anak mereka setelah satu minggu atau paling lambat dua minggu ke depan.

Diajari Ngaji Oleh Jin


Sejak kejadian si Ucun viral di lingkungan asrama hingga menyebar ke luar asrama, dan akhirnya kejadian itu sampai ke telinga Bang Edy. Satu minggu dari kejadian itu Bang Edy datang ke asrama nengokin juniornya, kebetulan kami itu merupakan junior yang sangat dia kenal sebab kami pernah berada dibawah bimbingannya. Setelah Bang Edy berkeliling nengokin para juniornya kamipun jalan-jalan melihat suasana asrama yang belum banyak berubah setelah ditinggal oleh Bang Edy.
Kami berjalan menyusuri asrama seperti sedang berpatroli kelliling hingga akhirnya tiba di tempat yang biasa dulu kami nongkrong yaitu di warung bang Jagur, saya gak tahu siapa nama asli dia cuman dia dikenal dengan nama Jagur sejak dahulu kala bahkan sebelum kami memasuki asrama namanya sudah Jagaur. Seperti biasa dIwarung itu kami memesan kopi dan rokok, kami duduk melingkar sambil ngobro di saung yang seperti gazaebo tapi nyambung dengan warung.
Awalnya obrolan ringan seperti apa kabar di asrama, lalu apa yang berbeda dengan yang dulu terus gimana kondisi anak asrama yang sekarang dan lain-lain. Tiba-tiba Bang Edy bertanya tentang keributan yang terjadi pada malam itu tentang si Amin dan si Ucun yang hampir ribut, lalu si Mz menjelaskan kronologi kejadian yang terjadi di malam itu. Bang Edy cuman ngangguk-ngangguk saja, tak lama kemudian tertawa kecil sambil puas-puasin kami karena mengalami hal itu. Bang Edy bercerita ternyata dahulu ketika Bang Edy masih di asrama dan waktu itu kami belum ada di asrama, kejadian seperti itu pernah terjadi pada temannya Bang Edy, tetapi tidak sampai dilempar juga kata Bang Edy.
Ketika Bang Edy di asrama, dia satu kamar bersama Iwa, Wandy dan Idin. Mereka berempat sangat kompak dan kemana-mana selalu bersama, mereka orangnya tengil-tengil tetapi mereka bertanggung jawab, dan mereka juga pinter-pinter dalam pelajaran, cuman mereka selalu dipandang pembawa onar sebab kemanapun mereka pergi selalu ada cerita yang menarik untuk diperbincangkan, mereka juga dikenal empat sekawan karena kekompakannya dan kenakalanya.
Suatu hari ngaji di liburkan karena keluarga Pak Kyai sedang ada urusan keluar kota. Namun meskipiun ngaji diliburkan setiap jadwal mengaji mereka berempat tetap masuk kelas dan belajar bersama mengulang pelajaran yang sudah diajarakan. Yang lain akhirnya mengikuti sebab mereka malu kalah rajin sama anak-anak yang dipandang nakal. Setelah belajar bersama sekitar jam Sembilan, si Iwa pergi ke warung Jagur secara diam-diam. Dan mereka bertiga sudah tahu pasti kalua tidak ada di asrama pasti pergi ke warung Jagur. Akhirnya mereka mengikuti ke warung Jagur. Sejak Pak Kyai pergi tadi sore Wandy kelihatan lebih pendiam sehingga Bang Edy, Iwa dan Idin merasa heran, takutnya Wandy lagi sakit, tapi setelah ditanya wandi gak kenapa-napa.
Tak teraasa waktu begitu cepat berlalu, “ngantuk nih balik yu” kata Idin pada mereka bertiga. “Lah baru jam segini, lagian mendingan nginep dIwarung sajalah toh besok kan libur” kata Wandy yang kelihatan gak mau pulang. Idin maksa pulang dan Wandy maksa nginep di warung, “ya udah kita pulang tapi kita nyantai dulu lah” kata Wandy masih gak mau pulang. “lo kenapa sih wan hari ini lo kelihatanya aneh banget” kata Bang Edy penasaran. “gak ada apa-apa beneran dah, cuman rasanya gua merasa gak nyaman tinggal di asrama sejak Pak Kyai pergi, gua takut dy” Wandy mencoba menjelaskan keresahanya. “ya udah kita tidur di masjid gak usah terpisah biar kalua ada apa-apa lo bias langsung bangunin kita” Idin mencoba meyakinkan wandi agar mau pulang ke asrama. Setelah di bujuk akhirnya mereka pergi tidur ke masjid asrama.
Seperti yang di bilang Idin mereka tidur di masjid secara berdekatan. Tengah malam telah berlalu akhirnya mereka terlelap tidur. Sekitar jam setengah dua pagi wandi terbangun dan melihat Pak Kyai duduk sila di tempat imam sambil membaca kitab kuning, serentak dia bangun dan langsung bergegas mau bangunin teman-temannya sebab sudah kebiasaan kalua Pak Kyai sudah duduk di tempat imam artinya sudah hampir subuh. Tapi pas Wandy mau membangunkan teman-temanya wandi melihat Pak Kyai menhangkat tangan mengisyaratkan jangan bangunkan mereka, lantas Wandy melihat jam masih jam setengah dua pagi biasanya paling pagi pun Pak Kyai kemesjid jam empat atau setengah lima pagi sebab Pak Kyai selalu shalat tahajud di rumah dan kemesjid untuk berjamaan shalat subuh. Tapi Wandy tak banyak Tanya ia segera bergegas ke kamar mandi bersih-bersih dan segera berwudu.
Wandy segera masuk masjid kembali, tanpa di perintah Wandy langsung shalat tahajud lalu Wandy duduk berhadapan dengan Pak Kyai hanya terhalang meja kecil tempat kitab kuning. Setelah mereka duduk berhadarapan Pak Kyai nyuruh Wandy membuka kitabnya kemudian Wandy mengikutu yang diperintahkan Pak Kyai. Wandy diwjari ngaji sampai jam tiga pagi, kemudian Pak Kyai nitippesan jaga anak-anak yang lain, jangan sampai libur ngaji gara-gara Pak Kyai tidak di asrama. Stelah berpesan, kemudian Pak Kyai keluar dari masjid menuju rumahnya, tetapi subuhnya pak sampai pagi Pak Kyai gak ada kemesjid maupun ke kelas, Wandy merasa sangat aneh tetapi dia gak mau ngomong sama yang lain takut dia jadi disalahkan.
Malam berikutnya Wandy mengalami kejadian seperti malam sebelumnya, dan malam kedua wandi diajari ngaji lagi meneruskan pengajian sebelumnya. Kejadian itu berulang hingga hari ke empat. Di hari ke empat Wandy ngajinya selesai lebih awal, jam setengah tiga wandi sudah beres ngaji dan Wandy pun seperti biasa disuruh kembali tidur. Setelah Pak Kyai keluar dari masjid Wandy bangun niatnya mau nyelidiki Pak Kyai karena merasa heran tapi wandi pikir gak sopan menaruh rasa curiga pada gurunya sendiri, Wandy takut kecurigaanya menjadi penghalang bagi dirinya untuk mendafatkan ilmu yang bermanfaat.
Ditengah kebimbangan Wandy merenung du teras depan masjid sendirian. Tak lama terlihat cahaya lampu mobil dari kejauhan dan ternyata itu mobil rombingan keluarga Pak Kyai. Wandy bergegas keluar dari masjid dan menyambut kedatangan Pak Kyai dan keluarga. Pak Kyai dengan raut wajah cape bertanya kepada Wandy, “kamu kenapa masih belum tidur, ini sebentar lagi waktunya bangun tahajud bersama” kata Pak Kyai dengan nada menasehati. “Kan saya baru selesai ngaji tapi saya gak bias tidur lagi” kata Wandy menjawab Pak Kyai. Pak Kyai sedikit heran kemudian bertanya lagi pada Wandy “ngaji apan kamu ko sampai jam segini, kamu harus istirahat biar jam empat kamu bangun segar, tahajud bersama, shalat subuh kemudian ngaji dengan pikiran yang masih segar” Pak Kyai menjelaskan. Wandi merasa heran soalnya yang nyuruh dia ngaji kan Pak Kyai tapi sejarang Pak Kyai malah bicara seperti itu, tapi dia tak berani jawab lagi, Wandy hanya mengangguk dan kembali kedalam masjid.
Setelah shalat subuh lalu Pak Kyai ngajar ngaji dan waktu ngajinya di percepat, setelah beres ngaji yang lain disuruh mudzakarah (mengulangi bacaan kitab yang sudah diajarkan) dan Wandy bersama tiga temannya disuruh kerumah Pak Kyai. Dengan rasa penasaran Pak Kyai kembali nanya Wandy “kamu selama ini ngaji apa saja, dari jam berapa sampai jam berapa?” pak kiyai seolah tahu ada yang tidak beres namun mencoba memastikan. Wandi menjelaskan kejadian selama empat hari yang menimpa dirinya. Lalu Pak Kyai kembali bertanya “lalu siapa saja yang suka ikut ngaji dengan saya itu selama tiga malam kebelakang? Edy, Iwa, Idin, kamu juga ikut ngaji?” Tanya Pak Kyai. “saya gak tau kalua Pak Kyai dan wandi suka ngaji tiap malam, saya pikir Pak Kyai sedang ke luar kota, tapi kalua Pak Kyai di asrama kenapa selama tiga hari ini saya tidak melihat Pak Kyai” kata Edy, Iwa dan Idin dengan penuh tanda Tanya. Pak Kyai masih penasaran kemudian menyuruh Wandy membaca yang diajarkan.
Setelah Wandy selesai membaca kitab yang diajinya selama empat malam itu kemudian Pak Kyai menjelaskan “dengarkan, kalian jangan kaget, saya ini pergi keluar kota selama tiga hari dan baru kembali tadi jam tiga pagi, jadi selama ini yang ngajarin wandi ngaji bukan saya, lagian mana mungkin saya ngajar ngaji tengah malam, bukan hanya kalian, saya juga perlu istirahat, lalu siapa yang ngajarin Wandy ngaji? Nah saya akan beri tahu pada kalian tapi kalian harus ingat kalian gak boleh cerita kepada penghuni asrama yang lainnya takutnya terjadi kehobohan dan mereka akan merasa takut jadi kalian harus berjanji tidak boleh ceritakan pada orang lain” Pak Kyai menuturkan.
Mereka berempat karena penasaran akhirnya mau berjanji, dan setelah mereka berjanji akhirnya Pak Kyai pun menjelaskan “sebenarnya dahulu kala ada sepasang suami istri yang tinggal di kebun yang sekarang di jadikan masjid, tapi mereka bukan dari bangsa kita, mereka bangsa jin. Ketika sedang merencanakan pembangunan masjid setelah mengukur dan mulai meratakan tanah saya di datangi mereka kedalam mimpi saya, selama tiga kali berturut-turut dan berkata kenapa tempat kami di gusur, krena mimpinya tiga kali berturut-turut itu artinya mimpi ini bukan sekedar kembang mimpi, malam besoknya saya ke tanah yang akan di bangun masjid dan berdzikir di tempat itu dan ternyata benar, saat tengah malam tiba-tiba mereka datang entah dari mana dengan wajah dan pakaian persis seperti yang ada dalam mimpi. Mereka unjuk salam dan saya jawab kemudian mereka bertanya kenapa rumah saya di gusur. Karena saya berdzikir tengah malam di tanah yang akan dibangun mesji ini karena berniat saya ingin membuktikan keberadaan mereka benar ada dan juga karena ingi menjawab yang mereka pertanyakan saya beranika berbicara baik-baik dengan mereka, akhirnya mereka menerima dengan suka rela rumah mereka di gusur dengan syarat mereka diijinkan tinggal di masjid dan diijinkan ikut ngaji dan berjamaah di masjid tersebut dan mereka berjanji tidak akan mengganggu apalagi mencelakakan penghuni asrama, malah mereka siap menjaga asrama agar tida ada yang berbuat jahat didalam asrama, kecuali ketika penghuni asrama melanggar aturan yang berat dia akan sedikit nakut-nakutin katanya dulu sambil tertawa menandakan dia ingin terlihat akrab” Pak Kyai menjelaskan secara detil dan berkata “kalua urusan Wandy gak usah takut toh dia datang dengan wujud saya dan yang diajarkan memang seperti itu sebab dia sudah ngaji kitab ini berkali-kali dari saya, mungkin karena Wandy anaknya rajin dia tahu dan kasihan kalua selama saya pergi Wandy gak ngaji, hebatbya sekarang Wandy selama di asrapa pasti mereka jagain Wandy” Pak Kyai berkata sambil tersenyum candain Wandy. Dan setelah itu mereka berempat menyimpat rapat cerita itu hingga Bang Edy yang ceritain hanya kepada kami berlima, itupun Bang Edy cerita pada kami sebab Bang Edy sudah yakin kami tidak akan ketakutang dengan cerita seperti itu dan menganggap cerita itu hanya penghangat suasana saja.

Dilemparkan Oleh Jin Penghuni Mesjid


Selang dua minggu lebih dari kejadian si Sanusi yang melihat tuyul dan genderewo, ada kejadian mistis lagi, tapi kali ini menimpa si Ucun penghuni kamar tiga, oh iya kami ini di asrama menghuni kamar satu, tempatnya paling pojok sebab kami orang yang suka brisik makanya sisatukan di kamar yang paling jauh. Nah kejadiannya malam itu jam 21:00 kami baru bubar ngaji lalu dilanjut belajar bersama di aula, kemudian tidur. Biasanya kami tidur di mesji, namun pada malam itu kami begadang di halaman masjid dibawah lampu merkuri sambil bakar ikan jadi masjid masih kosong, lampu masjid setelah selesai ngaji biasanya di matikan tapi malam itu masih nyala dan kami tengok ternyata si Ucun dan teman sekamarnya sedang berdiskusi entah masalah apa. Sekirat jam 12 malam teman-teman si Ucun pada keluar dari mesji kecuali si Ucun sendirian, katanya mau tidur di masjid.
Sekitar kurang lebih jam satu pagi, kami baru selesai makan, lalu duduk-duduk di kursi pojok halaman masjid. Lamu masjid sudah dimatikan dan suasana semakin sepi, hanya kami berlima dan masih bangun dan berada di luar. Baru saja mau menyalakan rokok yang kedua batang, terdengar keras suara hijab/pembatas area laki-laki dan perempuan yang terbuat dari triplek seperti dipukul keras. “Ah, tuh dengar si Ucun marah-marah gak jelas, mungkin dia stress” kata si Susanto. Saya Tanya “emang tu anak stress kenapa?” “ah paling dia di tolak cewe yang dia taksir kali” si Mz nyambung, lalu kami tertawa. Disaat kami tertawa si Ucun keluar dari masjid sambil berlari seperti kesetanan menghampiri kami dengan terengah-engah lalu duduk di diatas tanah.
Melihat si Ucun yang sangat ketakutan kami segera menenangkan dan ngasih dia minum supaya tenang. Setelah terlihat tenang kani nanya dia kenapa, bukanya jawab dia malah membentak dengan tatapan yang sangat marah “lah anjing, setan lo pada, candaan kalian makin kelewatan, gua gak masalah kalian mau jahil nakutin orang tapi gak sampai di lempar segala, kalua gua cedera emang kalian mau tanggung jawab” dia ngoceh dengan penuh amarah. Mendengar perkataan si Ucun dengan sikap tang tidak baik sontak si Amin naik pitam, “he anjing kita lagi duduk-duduk lo nyelonong datang kemari, lo ketakutan kita tenangin lo, sekarang lo nuduh kita yang nggak-enggak” sambil ngomong tangan kiri si Amin menjabak baju si Ucun dan tangan kanannya mau memukul, untungnya si Mz sama Si Sanusi dengan sigap melerai mereka. Lalu saya mencoba nenangin mereka berdua, “To, kita ini emang anak-anak nakal dan sudah terkenal hingga ke asrama putri, mereka sudah tahu kita nakal, tapi kita jiga bukan preman, jangan ngumbar amarah gitula To, toh kita nakal karena ingin menikmati bebas tanpa peduli aturan agenda asrama doing. Lo juga Cun, lo dating menghampiri kita lalu lo marah tanpa alesan, gua ngaku kita emang anak-anak nakal, tapi bukan berarti setiap ada kejadian semua bebas nuduh kita tanpa alasan, sekarang gua Tanya lo punya bukti apaan nuduh kita jahilin lo, sebab dari selesai ngaji kita belum masuk lagi ke masjid, sekarang lo datang marah-marah wajarlah kita marah karena tersinggung”. “emangnya lo kenapa Cun?” si Mz kembali bertanya dengan nada yang rendah biar gak pada emosi.
Setelah merasa tenang si Ucun pun bicara “Min gua minta maaf, gua emosi karena ketakutan, gua kita kalian yang jahil sebab disini hanya kalian yang belum tidur”, “udah gak papa Cun” si Mz yang jawab. “sebenarnya gua lagi tidur di masjid se area wanita deket hijab, baru saja gua mau pulas, tangan dan kaki dua dipegangin, diangkat kemudian dibanting ke deket hijab, gua kebangun karena sakit, tak berselang lama gua nyium bau kembang melati, benar-benar bau, tapi gua yakin pasti gua di jahilin, tapi yak ok niat juga sampe kasih bau-bau melati juga, dan ternyata pas gua bangun gua tengokon sekeliling mesjid gak ada orang, gak ada siapa-siapa di masjid, yah gua lari ketakutan, dan disini kalian pada ketawa makanya gua curiga kalian yang jahili gua” si Ucun kembali menuturkan kejadian yang dialaminya. “gak gitu Cun, kita baru beres makan lalu ngerokok sambil ngopi, tiba-tiba kedenger suara ada yang mukul hijab dengan keras, kita taunya cuman lo yang tidur disana” si Mz menjelaskan. “si susanto tadi bercanda katanya, tuh si Ucun marah-marah gak jelas mungkin lagi stress, gua sautin, setres karena ditolak cewe incaranya kali, lalu kita ketawa. Pas lagi ketawa lu datang sambil lari ketakutan gitu. Gitu ceritanya Cun” si Mz menjelaskan kejadian yang terjadi. Setelah itu si Ucun pulang ke kamarnya karena masih takut memasuki mesji.
Setelah si Ucun pergi si Amin ngomong lagi dengan nada masih kesal “ah tu orang dapat azab tuh karena keseringan pacaran di lingkungan mesjid, mungkin jin penunggu mesjid marah, untung tu orang gak dimasukin botol sama si jin” mendengar omelan si Amin bukannya kesel malah jadi lucu, mana ada orang di masukin ke botol mineral, si Amin otaknya tambah gesrek. Dari obralan mengenai kejadian si Ucun akhirnya merambat kemana-mana. Tak terasa waktu berlalu, ternyata jam sudah menunjukan jam 03:30, kami pun berkeliling sambil memukul-mukul kentongan membangunkan semua anak asrama untuk melaksanakan shalat tahajub bersama, dan tidak berselang lama, siangnya cerita kejadian malam tadi menyebar dari mulut kemulut hingga heboh.

Pengalaman Melihat Tuyul dan Genderewo


Waktu itu saya masih duduk di bangku Mts dan saya tinggal di asrama dengan empat teman dekat saya yang kemana-mana selalu bersama terutama dalam hal kenakalan dan bolos dari asrama, entah siapa yang mulai tapi obrolan tengah malam pada waktu itu mengarah pada hal-hal mistik. Pada dasarnya saya percaya dan yakin akan adanya makhluk ghaib atau astral atau makhluk yang tak kasat mata, metafisika atau makhluk supranatual ini, tapi saya tak pernah mengindahkan ketika orang bebicara mengenai makhul astral dan manusia dapat saling bergesekan atau bersinggungan seperti kejadian yang menimpa teman saya yang bersama sanusi. Sore itu selepas salat magrib saya, Sanusi, Mz, Susanto dan Amin kabur dari asrama kemudian main ke ruamah Bang Edy, dia adalah senior kami ketika beliau di asrama. Kami pulang dari rumah Bang Edy lewat tengah malam dan sampai di asrama sekitar jam 01:30 pagi.
Sesampainya di asrama, sisanusi bergegas ke sumur belakang asrama untuk cuci muka dan sikat gigi karena dia sudah ngantuk banget kelihatannya, dia keluar sendiri dan selang beberapa menit kami mendengar teriakan si sanusi di belakang asrama. Saya, Mz, Susanto dana min yang sedang asik ngobrol sambil ketawa-ketawa sontak terdiam kemudian berlari ke belakang asrama, takutnya si Sanusi jatuh atau apalah. Namun sesampainya di belakang asrama saya lihat si Sanusi berdiri mematung sambil menunjuk kearah pohon alpukat dengan mata melotot dan mulut menganga. Kami kaget kemudian saling lihat lalu melihat kea rah si Sanusi nunjuk. Si Sanusi masih tidak bergerak dan saat kami Tanya ada apa, dia tidak menjawab. Si Sumanto dan Amin bergegas ke arah yang ditunjuk si Sanusi takutnya ada maling atau hewan buas atau apapun yang membahayakan manun mereka tidak menemukan apa-apa.
Pada saat si Sumanto dan amin sedang mencari di dekat pohon alpukat, saya rangkil si sanusi sambil bertanya “ada apaan sih san” ketika tangan saya menyentuh bahunya Sanusi langsung pingsan. Kami semua sontak kaget dan takut Sanusi kenapa-kenapa, kami langsung gotong ke dalam asrama dan berusaha membangunkan Sanusi dengan minyak angina. Setelah sekitar 15 menit kemudian akhirnya Sanusi bangun dan melihat kami dengan wajah yang sangat ketakutan, kami pun mencoba menenangkan dia, dan setelah Sanusi mulai tenang baru lah kami nanya ada apa? Ternyata Sanusi paslagi gosok gigi sambil melihat ke araah pohon alpuket dia melihat anak laki-laki botak secang asik bermain sendiri, mulutnya berdarah dan memiliki taraing, dan dia juga melihat makhluk yang lebih menakutkan yaitu sosok yang tinggi besar, hitam dan matanya melotot dan wajah yang sangat menakutkan, dan yang lebih menakutkan makhluk itu sedang duduk di dahan pohon yang kecil tetapi dahan itu tidak patah, seharusnya menurut logika dahan itu pasti patah jika diduduki makhluk dengan ukuran seperti itu.
Mendengar penuturan Sanusi seperti itu kita semua hanya tersenyum lalu ketawa lepas sampai yang lagi tidur di kamar sebelah pada bangun, karena pada saat itu kejadian itu merupakan hal yang sangat lucu ternyata Sanusi segitu penakutnya sampai-sampai berhalusinasi seperti itu. “udah san lo sekarang tidur biar kami berempat yang jagain lo, lo gak usah takut” kata Susanto sambil bercanda. Saya lihat wajah Sanusi marah kaarena kami tidak percaya apa yang dia omongkan, apalagi kejadian itu malah jadi bahan candaan untuk meledekin Sanusi.
bersambung...

Selanjutnya...