TAFAKUR

BERTAFAKUR
Oleh: Roni Ahmad Bulqini

Langkah kecil dicambuk sunyi
Angin menerpa yang duduk murung
Nafas yang hilang debu yang muram
Bersila diselimuti tebalnya embun

Jeritan malam makin mencekam
Dibawah pohon dipelataran hutan
Mungkin hanya aku, tuhan dan alam
Ajalpun nampak jelas dihadapan

Disini ditanah subur ini
Hijau daun rimbun mulai berguguran
Ditampar angin genit yang lewat
Hanya lewat dan menaruh senyum sayu

Rindu untuk yang tak harus ditunggu
Tertanam mawar ditengah jurang terjal
Pulanglah diri kiranya hanya harapan

Kepastian yang entah milik siapa, aku tak tahu

REMBULAN PENGHIANAT

-REMBULAN YANG MALANG-

Sombongnya langkah waktu yang berjalan tak pamit
Menginjak kepala tanpa ragu dan malu
Tak ku tahu setinggi itu atas kejamnya waktu
Walaupun tak tahu namun arus mu hanya terus maju

Mentari pergi bukan karena itu
Bukan belaian yang memanggang ulu hati
Bukan pela kau benci sang rembulan
Walau rembulan selalu bersama bintang-bintang

Sekarang rembulan tampak sendiri
Para bintang entah kemana, aku tak tahu
Kebahagiaan tampak retak
Tampak jelas wajah murung sang bidadari
Penuh rasa sepi dalam diri


Roni Ahmad Bulqini

DUKA BERSAMA


-DUKA BERSAMA-

Jiwamu dalam ragamu
Tertanam kokoh didirmu
Pedihnya duka nestapa
Kau makan membabibuta

Rute Singaparna-Jakarta berlumuran berdarah
Bamboo runcing yang tak sanggup menempah
Terdiam pandangan penuh pasrah
Kian tubuh tercabik terisah

Pendekarku….
Yang mati bangkit kembali
Bukan raga yang perlaya
Keberanian yang mengilhami
Siliwangi mengaung kembali

Roni Ahmad Bulqini, 2011

-PERJUANGAN-

-PPERJUANGAN-

Susah,,, jika yang mudah terlalu dianggap mudah akan jaddi massalah
Susah,,, akan semakin susah jika berpikir susah
Mudah,,,, jika berjerih payah menghadapi masalah dengan tidak menyerah pasrah dan untuk kalah
Bangkitlah,,,, tengok disebrang gunung tinggi menjulang menusuk langit
Istana megah berdiri tegakdengan kokoh mencengkram bumi yang resah
Raih,,,, deengan tangan yang lemah nan merah berlumuran darah
Rsih,,,, deengan pedaang ditangan kau musnahkan musuh
Dan dengan pedang kau singkirkan benalu dan belenggu
Bangkitlah,,,, bangkitlah para kesatria tanpa nama
Bangkitlah,,,, bangkitlah raja tanpa mahkota
Bangkitlah,,,, untuk kemuliaan nusantara
Bangkitlah,,,, atas nama yang maha Esa

Oleh: Roni Ahmadd Bulqini

JANJI HANYALAH JANJI

JANJI HANYALAH JANJI
Karya : Roni Ahmad Bulqini

Masih jelas janji-janjimu terucap dimasa silam
Dengan senyum penuh kepastian atas yang kau ucapkan
Namun janji hanyalah sebuah janji yang lapuk dimakan usia
Senyuman yang dahulu selalu dinanti kini mulai pudar disapu pilu

Dengan ringan hati kau pergi tanpa pamit
Terus menjauh tanpa tau dimana kaini kau berada
Dalam penantian selalu kutitipkan salam rindu pada angin
Kini salam rindu terbalas dengan sebuah penyesalan yang bodoh

Kini kau kawin dan beranak dilembah hina
Senyuman yang bertebaran memupuk penyesalan
Air mata yang mengalir takan pernah dapat lagi dibendung
Duka yang kini menyelimutimu kian berkuasa dan bertahta mahkota

Hanya senyum heran, menggeleng kepala
Kasihan hanya sebatas kasihan takan lebih dari itu
Luka yang waktu itu kau buat keberuntungan baru kusadari
Celaka yang akan datang menimpa jika kita berusaha tetap bersama

Terimakasih, maaf tak pernah mengerti pengorbananmu selama ini
Kehidupan harus terus berjalan dan tidak boleh terhenti
Kamu adalah kamu bukan aku atau miliku

Tetaplah berjalan dengan kakimu

-CINTA DUNIA-





-CINTA DUNIA-


Kenapa…

Kenapa sedikitpun aku tak dapat menatap wajahmu
Kenapa hanyua bayanganmu yng nampak jelas
Apa aaku tak pantas menggenggam erat dirimu


Sungguh…

Sungguh kejam dirimu yang membuatku hanya berharap
Sungguh kejam dunia
Sungguh, ini harapan yang kosong


Aneh…

Kau tahu dunia itu kejam
Kau sadar hanya derita yang kau  dapat
Kau buru dunia, kau lupa penciptanya


Dengar…

Cinta dunia lupa segala alasan tuhan murka
Cinta dunia tak menjadikan kaya raya
Cinta dunia kenapa kau kikir
Hilang bahagia kau jumpai fakir


Dunia…

Kau itu misteri yang pasti
Kau yang dicari para pemimpi
Kau akar kekemelutan terjadi


Tanpamu kehidupan menjadi sepi tak beerarti

Tanpamu musik takan sering berbunyi
Tanpamu warung toko tak ada yang menghampiri


Hampa…

Tanpamu hidup akan hampa
Kecuali untuk orang yang takwa
Kecuali orang yang yakin percaya tuhannya


Bagi mereka…

Biarpun tanpamu ia selalu bahagia
Biarpun tanpamu ia tak mengapa
Yang dicari hanyalah cinta sang pencipta
Yang dirindukan hanya Allah robbal baroya


Bahagia yang nyata ada dalam dada

Bahagia tanpa bandinganya
Saat beertaqarub menatap dirinya yang hina dihadapan-Nya
Bertaqarub nerasa disakskan tanpa jeda dan mangsa


Roni Ahmad Bulqini

07-05-016

-PUTUS ASA TERBELENGGU-

                                           -PUTUS ASA TERBELENGGU-

Ingin rasanya pergi jauh dan sangat jauh sekali, dan terbang tinggi menembus kabut menembus tebalnya awan hitam, layaknya mereka yang hidup bebas tanpa ada bayang-bayang yang membelenggu.

Sungguh sangat iri rasanya pada burung-burung yang terbang tanpa ada halangan dan rintangan, iri kepada para ikan dilautan yang tak ada larangan dari batu karang yang berdiri kokoh terbentang, pada air gunung pun yang berjalan kebawah menuju sungai tanpa adanya hambatan, sungguh iri rasanya pada mereka pada riuhnya sang alam raya.

Semakin jeli menyaksikan semua itu semakin jelas rasanya putus asa menjelma dipangkuan, tak nampak lagi senyuman tulus tak terdengar lagi bingar suara derap langkah berpijak, hanya diselimuti rasa malu pada angin nakal mengusap tubuh, hanya diam membisu menyaksikan segala nyata, segala yang tak dapat berpaling darinya.

Ingin sekali melangkah bebas tanpa ada tali rantai di pergelangan kaki, melangkah bebas menentukan arah dan tujuan kemana harus berjalan, seorang pengembara hanya memiliki tempat hanya sekedar untuk singgah, tidak hanya sekedar duduk termenung menatap alam menari riang berpesta pora.


 karya: Roni Ahmad Bulqini

-RINDU BERUJUNG PILU-

-RINDU BERUJUNG PILU-

Hari yang selalu dinanti-nanti tak juga kunjung menghampiri, meski lidah tak pernah lelah memohon pada sang illahi, meski setiap hari tak pernah berhenti bertanya pada mentari, tentang kegelisahan diri insani demi menemui seorang putri yang wangi nan cantik bak dewi bidadari.

Tak sabar hingga akhirnya kaki melangkah pergi berlari dan terus berlari tanpa henti demi menemui sang putri yang sedang asik bernyanyi dan menari-nari dalam hati ini.

Apalah daya jasad tanpa ada kuasa kecuali ijin sang pencipta, sang putri pergi dengan tanpa peduli, si putri melati kini telah layu dihisap kumbang yang pergi setelah menghisap madu yang murni, senyuman terindah sudah musnah, mentaripun menangis pilu, mungkin hanya murka dan nista rasa yang masih ada padanya.

Cukup adil rasanya, luka dan nestapa yang sangat menyiksa, kini hanya tersenyum kasihan padanya yang hidup dengan penuh duka dan dusta, entah karma atau apa yang kini menimpanya, yang dahulu asik berulah semena-mena bertingkah semaunya, kini sang putri hidup bak puing reruntuhan di kota mati, kota tak berpenghuni, hanya debu dan wajah kusam tanpa hiasan.


by: Roni Ahmad Bulqini, 2011