-RINDU BERUJUNG PILU-
Hari yang selalu dinanti-nanti tak juga kunjung
menghampiri, meski lidah tak pernah lelah memohon pada sang illahi, meski
setiap hari tak pernah berhenti bertanya pada mentari, tentang kegelisahan diri
insani demi menemui seorang putri yang wangi nan cantik bak dewi bidadari.
Tak
sabar hingga akhirnya kaki melangkah pergi berlari dan terus berlari tanpa
henti demi menemui sang putri yang sedang asik bernyanyi dan menari-nari dalam
hati ini.
Apalah daya jasad tanpa ada kuasa kecuali ijin
sang pencipta, sang putri pergi dengan tanpa peduli, si putri melati kini telah
layu dihisap kumbang yang pergi setelah menghisap madu yang murni, senyuman
terindah sudah musnah, mentaripun menangis pilu, mungkin hanya murka dan nista
rasa yang masih ada padanya.
Cukup
adil rasanya, luka dan nestapa yang sangat menyiksa, kini hanya tersenyum
kasihan padanya yang hidup dengan penuh duka dan dusta, entah karma atau apa
yang kini menimpanya, yang dahulu asik berulah semena-mena bertingkah semaunya,
kini sang putri hidup bak puing reruntuhan di kota mati, kota tak berpenghuni,
hanya debu dan wajah kusam tanpa hiasan.
by: Roni Ahmad Bulqini, 2011