KAMU


-KAMU-

Rembulan beranjak pergi saat mentari menghampiri
Bukan karena dendam atau marah yang meracuni
Tetapi ketidak bersamanya menjadi kehidupan yang suci
Yang penting hati yang saling terikat saling menyayangi

Terlena akan senyumanmu itu yang amat menawan
Terlihat indah saat malam berada dibawah sinar rembulan
Dikelilingi oleh rindangnya pepohonan yeng berjejeran
Embun yang tebal semakin menyelimuti badan

Berada di sekitarmu membuat senyum semakin lebar
Membuatmu yang murung kembali tampak tegar
Dibawah hiasan bintang gemitang dilangit yang tertebar
Terpencil dari kecimpung orang dan kita saling bersandar

Berdua saling melepas rindu mencurahkan rasa yang ada
Meski hanya saling berdampingan namun tak mampu bersama
Kau tetap sang bidadari yang tercipta untuk menghiasi dunia
Kau tetap yang terkasih yang selalu kujaga selama nyawa ada di raga


Roni Ahmad Bulqini (Buluq)
21/mei/2016

NONA MANIS


-NONA MANIS-

Sungguh, hanya tersenyum manis menyaksikan semua nyata
Tanpa rasa ragu dan malu haru datang menerjang qalbu
Kepu-kupu hinggap ditengah-tengah bunga yang sedang mekar
Saling asik dalam kebahagiaan yang saling menguntungkan

Ditengah menyaksikan alam yang berjajar pepohonan rindang
Dibawah belaian sinar rembulan yang menawan bersama bintang
Sang lebah singgah menemani berbaring diatas tanah menatap langit
Saling berbagi cerita lama saling berbagi rasa kasih yang suci

Lebah kecil yang tampak galak memberikan madu penawar pilu
Perawakan kecil mungil dengan wajah manis berseri-seri penghias diri
Beraring berdampingan pundak tempat lebah asik bersandar
Sikap manjamu yang sunggu murni tanpa drama sangat sulit kulupa

Tak terasa wantu terus bergulir mengiringi keersamaan
Kulepaskan genggaman tangan membiarkanmu kembali kekawanan
Dilingkaran tawa melepaskan penat hanya senyumanmu yang nampak
Keindahan alam rayapun redup  malu akan senyaman kasihmu nona
Nona manis pelebur pilu diqalbu
Roni A. Bulqini (Buluq)
/22/mei/2016

TAK SESPEERTI KAMU

TAK SESPEERTI KAMU
BULUQ

Keetika dunia amat gelap gulita
Kehidupan menjadi benar-benar buta
Kelipan cahaya kecil mulai mmenyala
Keceerahan kian menjadi  nyatat
Berawal  daari diri sendiri
Biar mereka yang kasih arti
Baaru munngkin ia kan sadari
Beetapa payah semakin menjadi
Siang penuuh ddeengan terrang benderaang
Sseorang tampak semakin teerang
Ssayang seseorang sedang dalam perang
Sum-sum menjadi abu dan arang
Tatapanya hanya dengan sebelah mata
Tanpa ada rasa lara dalam dada
Terlalu perih rrasa luka yang ada
Tampak menjulur kesetiap jiwa yang  ada
Cerita lama hanya sebuah sejarah
Cerahnya darah amat merah
Cermin usang tak tampak ada wajah
Curahan nanah hanya dalam hati yang resah
Pusaka lambing perejuangan
Pemberian berakhir jadi kenangan
Permata indah tanpa tandingan
Permaisuri dalam sebuah impian

TAFAKUR TAMAN SURGA

TAFAKUR TAMAN SURGA
BULUQ

Dalam malam hening sepi
Diam meratapi sebuah mimpi
Duka yang giat dating menghampiri
Hingga tak sanggup tuk berlari kembali
            Semua dan segala kita yang jalani
            Setiap hari punya suka cita sendiri
Sampai mana pula kan terus mencari
Hanya keputusan akhir ditangan ilahi
Wajah bukan alasan orang jadi cinta
Raga tak mampu tuk berkata
Jiwa sakti terima apa yang ada
Hidup dengan jalan penuh luka-liku
Hanya mimpi yang berlalu
Hiasan dunia berakibat dan pilu
Ternyata itu peluru,
Bersarang diparu dan waktu jadi beku
Istana indah nan megah disurga
Incaran manusia tak beraga
Irama nada bahagia yang nyata pasti ada
Iman membenarkan atas semua
            Adakah yang igin berlari lepas landas
Ajak orang dekat tanda yang cerdas
Arah menuju tempat yang bebas
Surganya-surga buat mereka yang waras

TERDAMPAR

TERDAMPAR
BULUQ

Mulai terdengar hingar
Gelak tawa nan canda
Terlupa akan rumput liar
Diselimuti embun dan debu jalanan
Damai entah dimana ia berada
Bersembunyi tak ada lagi wujudnya
Dendam benih-benih petaka
Menghasut tak jemu menggoda
Berjalan dipadang gersang
Berperang untuk menang
Hancur lebur mulai terhapus
Tenang jiwa setenang air danau dipagi hari
Kerikil mulai terlihata
Daun pun berdiri menusuk langit
Saling menari dibelai angin
Menjelma riang tanda jiwa yang riang

NONA CANTIK


NONA CANTIK
BULUQ
Sungguh tak sengja mata memandang
Hingga mabuk diracuni senyuman
Tatapan matanya bercahaya cerah
Kepayang dalam perhatianmu nona
            Oh tuhan…
            Sejenak hentikanlah waktu
            Berikanlah wajah ayu nona yang itu
            Tidak mengapa jika memang tak menghendaki
            Tapi ijinkan agar terus kupandangi
Nona wajahmu menghantui
Menyelimuti rasa rindu dikalbu
Tetaplah disitu, dan tetaplah begitu
Sunggu matapun merasa enggan berkedip
            Nona…
Kou berjalan bebas tanpa beban
Pandangan ini kenapa kau acuhkan
Biarlah itu kehedakmu
Nona kau mulai dinanti
Nona…
Sejauh mana kau berjalan
Disitulah kau dinanti para pemuja
Kembalilah cepat berjalan

Kau tercipta bukan untuk boneka

DIACUHKAN

DIACUHKAN
BULUQ
Perahu tua dilautan
Terapung pasrah kelelahan
Belayan angin penuh harapan
Menyapu dirinya kedaratan
Kayu basah kian rapuh
Berjuang dari kikisan melepuh
Bangkit disaat terjatuh
Walaupun sudah tak lagi utuh
Lama tak kenal ombak menempah
Kini hanylah tumpukan sampah
Bersiap tuk dibakar dan musnah
Jasamu kini dibayar resah

DALAM KEMUNAFIKAN

DALAM KEMUNAFIKAN
BULUQ
Lelah rasanya bernaung dalam sandiwara
Hanya sebuah lamunan… hanya sebuah impian…
Rasanya ingin sekali kudekap erat kenyataan
Bersama canda, bersama tawa,.. bersama-sama  semuanya
            Kini bak mayat hidup ditengah keramayan…
Langkah yang lambat terbelenggu dan lumpuh
Lepaskan tawa paling keras saat mereka diam membisu,
Tak satupun mereka menyambut
Bosan dan cape kian menghampiri
Mulut berkoar mendongeng kisah bohong
Berganti muka bertopeng sejuta wajah
Hidupnya kinmi diambang lautan kemunafikan
            Semakin dipaksa untuk terus berjalan,
            Semakin terjatuh dalam tebing jurang
            Suka cita semakin Nampak kehampaan
            Inghin rasanya berdiri dikaki sendiri,
Dan akhiri apa yang sedang terjadadi